Di suatu malam di bulan Ramadhan, aku berkesempatan bersilaturahmi ke tempat seorang teman.
Tiba-tiba, sebuah pertanyaan terlontar darinya, “Put ada ga teman dari SMA yang dekat sampai sekarang?”. Pertanyaan yang mudah sebenarnya, jika kita tidak dituntut untuk memikirkan jawabannya, karena jawabannya itu ternyata yang susah.
“Dekat? Sedekat apa? Bukankah dekat itu relatif?” Hah…klise…lagi-lagi suatu ‘kata sifat’ dihubung-hubungkan dengan kata ‘relatif’ untuk menjawab pertanyaan dengan cara yang sederhana.
“Jika aku menggunakan kata ‘dekat’ menurut definisiku, maka aku akan menjawab ‘banyak’. Banyak ‘yang kuanggap’ sebagai teman yang dekat sejak SMA hingga sekarang. “
Seseorang yang sering kucekoki dengan berbagai cerita pribadi, kuanggap teman dekat.
Seseorang yang pasti kukunjungi ketika ku berada di kota yang sama dengannya, kuanggap teman dekat. Seseorang yang tak pernah absen mengucapkan ‘Selamat Ulang Tahun’ tiap tahun hingga sekarang, kuanggap teman dekat.
Seseorang yang bisa dengan akrab memperbincangkan apapun walaupun lama tak berjumpa, kuanggap pula teman dekat.
Tapi…bisakah aku dikatakan teman dekat mereka sementara aku ga pernah tau siapa nama ayah mereka, berapa saudara kandung mereka, bahkan terkadang lupa hari ulang tahun mereka, apa minat mereka, bagaimana rancangan masa depan mereka, bagaimana masa kecil mereka. Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang kemudian membuatku kembali berpikir, “Apakah aku benar-benar memiliki teman dekat?”
Jadi apa makna teman dekat? Apakah pertanyaan ini akan bermuara kembali pada jawaban, “Relatif”?