Kampusku…Miniatur Negaraku…
Tak berlebihan jika aku berkata demikian.
Di kampusku terbentuk suatu struktur pemerintahan, yang terdiri dari Presiden, beserta Wakil dan menteri-menterinya, sebagai badan eksekutif.
Ada juga sebuah badan yang memiliki fungsi legislatif, yang di dalamnya duduk orang-orang dari berbagai ‘partai’ dengan berbagai kepentingan.
Ada sekelompok orang yang berperan sebagai oposan, karena merasa kepentingannya tak terfasilitasi.
Ada berbagai organisasi yang menampung orang-orang dengan berbagai minat, juga berbagai kepentingan.
Ada sekelompok orang yang begitu concern pada pasar finansial.
Ada sekelompok orang yang tak henti-hentinya menggembar-gemborkan ilmu ekonomi syariah, yang kadang bertentangan dengan para ‘pelaku pasar finansial’ yang lebih kapitalis.
Ada sekelompok orang yang senantiasa menebarkan salam, mengajak sebanyak-banyaknya orang kembali memahami tujuan hidup di dunia.
Ada sekelompok orang yang berperan sebagai ‘pers’, yang menyajikan berita-berita tajam, kadang tidak objektif tapi relevan dan material (yaa..setidaknya mempengaruhi keputusan para pengguna informasinya).
Ada sekelompok orang yang berkumpul dalam suatu organsasi sosial dan kemanusiaan, mengadakan berbagai kegiatan untuk meringankan beban sesama.
Ada sekelompok orang yang berkumpul dalam berbagai kelompok bisnis, yang memperbincangkan cara mencapai tujuan menyejahterakan para pemilik ‘perusahaan’.
Ada berbagai kelompok orang yang memiliki minat pada mata kuliah tertentu.
Ada ‘rakyat’ jelata yang senang me’rumput’, ada kalangan ‘selebritis’ yang selalu menjadi bahan obrolan menarik bagi orang-orang yang memiliki ‘kelebihan’ waktu luang, ada para ‘politikus’ yang obrolannya tak terjangkau oleh pikiranku (karena aku ga paham politik), ada para pejabat yang melakukan banyak hal untuk mempertahankan popularitasnya, dan…..ada-ada saja peran-peran yang lainnya.
Di berbagai tempat, tampak kelompok-kelompok kecil masyarakat kampus berkumpul membicarakan berbagai topik berbeda. Merekalah para pengamat. Mulai dari pengamat politik, sosial, budaya, hankam, olahraga, fashion, sastra, agama, musik, film, berita selebritis, sampai pengamat teman dan dosen.

Ketika Pemilu Presiden menjelang, suasana kampusku tidak kalah ramai dengan suasana negara yang sedang mempersiapkan event demokrasi terbesar itu.
Berbagai poster di tempel, dengan berbagai catatan tentang visi, misi, dan profil para calon presiden.
Berbagai janji manis keluar dari mulut para calon presiden membuat para calon pemilihnya begitu menaruh harapan padanya.
Berbagai isu dihembuskan, ada isu yang menguatkan seorang calon atau malah menjatuhkannya (ya..bahkan istilah black campaign pun sudah dikenal).
Suasana ‘perang’ begitu terasa di antara para tim sukses. Selama beberapa minggu wajah mereka terlihat tegang, pasang mata, pasang telinga, memperhatikan setiap gerak-gerik lawan yang mungkin bisa mempengaruhi perolehan suara mereka.
Sementara itu, KPU dan Panwaslu harus siaga 24 jam untuk memastikan tidak ada pihak yang melanggar peraturan Pemilu. Pekerjaan mereka pun tak selalu mulus, karena anggota mereka tak terlepas dari pengaruh orang-orang dengan kepentingan tertentu.
Orang-orang yang biasa berkumpul dalam suatu rapat, bekerja sama dalam suatu organisasi dan kepanitiaan, mulai terpecah.
Pers yang biasanya jarang sekali menulis berita pun mulai rajin menerbitkan tulisan-tulisan propaganda yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi keputusan para calon pemilih.
Berbagai poster, spanduk, bahkan baligho bergambar wajah diri para calon presiden ditempel di berbagai tempat strategis. Semuanya mengiklankan dirinya sebagai yang terbaik, seperti halnya produsen kecap yang mengiklankan produknya sebagai nomor satu. Wajah-wajah yang tercetak dalam berbagai alat promosi itu tak selalu dikenal. Bahkan seseorang yang jarang nampak dalam kancah kegiatan kampus pun bisa tiba-tiba muncul dan menganggap dirinya yang terbaik. Tak jauh beda dengan keadaan di negara kita bukan?
Tapi di antara banyak orang yang bergelut dengan berbagai kepentingan tersebut, masih juga ada masyarakat kampus yang bersikap apatis, seolah-olah tidak tahu, atau memang tidak tahu apa yang harus dia tahu, atau tidak mau tahu apa yang terjadi. Hidup mereka hanya di sekitar 3K, Kost, Kampus, dan kembali ke Kost.

Sedikit hal yang membedakan Pemilu di kampusku dengan di negaraku adalah…
Jarang sekali terjadi perselisihan pasca Pemilu di kampusku. Ketika proses penghitungan suara berakhir dan KPU menetapkan pemenang Pemilu, semua pihak menerima hasil dengan lapang dada, mungkin. Hal yang paling biasa terjadi adalah…sekelompok orang yang tidak puas dengan hasil Pemilu membentuk barisan sakit hati yang dalam proses selanjutnya menjadi sekelompok orang yang paling suka mengkritisi bahkan menentang berbagai kebijakan pemerintahan mahasiswa. Kadang bingung dengan tingkah polah mereka. Saat kampanye, visi dan misi mereka sebenarnya tidak jauh berbeda, hanya dengan bahasa yang beragam. Semuanya bercita-cita menyejahterakan mahasiswa, memfasilitasi berbagai minat dan bakat mahasiswa dalam berbagai kelompok kegiatan, menjembatani komunikasi mahasiswa dengan pihak dekanat dan rektorat, mengajak semua mahasiswa berperan aktif dalam berbagai kegiatan kampus, dan berbagai cita-cita lain yang tak kalah mulia. Tapi entah mengapa, berbagai keinginan yang kadang mirip itu tidak bisa disatukan dalam satu kepala, dipikirkan bersama-sama oleh para pemimpin mahasiswa itu. Mereka semua punya keinginan untuk menjadi FE-1, jika tidak, tidak sedikit pun mereka mau berkontribusi untuk kampus atas nama pemerintahan mahasiswa. Setiap calon memiliki visi misi sendiri dan menganggap visi misi merekalah yang terbaik, kadang tidak ada kesinambungan dengan visi misi pemerintahan sebelumnya. Ketika pemerintahan baru dimulai, semua seperti berawal dari nol. Program pemerintahan lama yang mungkin sudah setengah jalan kadang tak dilanjutkan, membuat aku kembali berpikir, kapan kampusku maju jika para pemimpin kampus itu memiliki gengsi yang begitu besar untuk lebih membuka diri terhadap ide-ide dari luar kalangannya? Semoga negaraku tidak seperti itu.

Kampusku…Miniatur Negaraku…
Di kampuslah tempat kami belajar menghadapi banyak orang dengan isi kepala yang berbeda-beda, dan kepentingan yang tak pernah sama. Tempat belajar sebelum memasuki universitas kehidupan dengan berbagai permasalahan yang nyata dan tak bisa dihindari, tapi harus dihadapi.