Sampai saat ini kami tidak pernah tau siapa namanya.
Kami panggil dia, Bapa Koran.
Seorang Bapa tua dengan kondisi fisik yang sudah tidak bisa dikatakan kuat.
Seorang Bapa penjaja koran yang kami cari demi suatu informasi.
Seorang Bapa yang kadang membuat kami kehilangan ketika dia tak ada saat kami butuhkan, tapi siapa yang pernah peduli kemana Bapa itu pergi ketika kami tak membutuhkannya.
Bapa itu banyak menginspirasi…
Kegigihannya dan semangatnya di tengah-tengah berbagai kekurangannya membuat kami merasa malu. Tak pernah sekalipun kami melihatnya mengeluh, atau bermimik muka masam dan berkeluh kesah. Yang terlihat dari wajah rentanya hanya sebuah senyum, tanpa pernah kami berpikir, apa arti senyum itu.
Kami hanya tau dia adalah Bapa penjaja koran…kami tak pernah tau bagaimana kondisi keluarganya, berapa anaknya, dimana tempat tinggalnya, berapa penghasilannya sehari, sejak kapan dia berjualan koran, dan pertanyaan-pertanyaan bersifat pribadi lainnya. Padahal sudah cukup lama kami berinteraksi dengannya. Empat tahun, sejak kami mengenal dunia kampus. Yang kami lakukan selama ini hanya membantu Bapa Koran menghabiskan stok korannya, yang biasa dia bawa dengan sebuah tas lusuh yang dia gantungkan di kepalanya, seperti halnya masyarakat Papua membawa noken mereka. Kadang kami membeli korannya walaupun kami tak butuh, dengan alasan, “Kasihan…”, tanpa jelas, apa yang mesti dikasihani? Padahal Bapa Koran pun tak pernah terlihat mengasihani keadaannya. Dia berjualan tanpa pernah minta dikasihani. Dia tidak pernah memaksa kami membeli korannya, tapi dengan seenaknya kami membeli korannya dengan alasan, “Kasihan”.

Suatu pagi di bulan Ramadhan tahun lalu, kami menemukan fakta yang mengesankan dari Bapa Koran. Pagi itu, kami menaiki angkot menuju kampus dari Pusdai. Jarak yang ditempuh boleh dikatakan lumayan, lumayan jauh untuk ukuran berjalan kaki di Kota Bandung. Beberapa meter angkot berjalan, kami melihat Bapa Koran berjalan di trotoar membawa tas korannya yang masih penuh dan setumpuk koran-koran lain di tangannya. Subhanallah….sejauh itu kah jarak yang harus ditempuh Bapa Koran setiap hari sebelum akhirnya sampai di kampus kami? Di tengah mimik muka kami yang kagum campur haru, kami sempat menyaksikan wajah Bapa Koran dengan senyumnya. Senyum itu yang membuat kami tak pernah tau betapa panjang perjalanan Bapa Koran untuk mendapatkan sepeser uang demi kehidupannya. Sepeser uang yang dengan mudah kami dapatkan tanpa perjuangan sekeras Bapa Koran. Lagi-lagi suatu materi pelajaran “syukur” kami dapatkan, dari seseorang yang seringkali kami pandang sebelah mata.

“Bersyukurlah…maka Allah akan menambah nikmatNya kepadamu”, kalimat itu seringkali terngiang-ngiang di telinga kami sebagai sebuah teori tanpa praktik. Suatu sikap syukur, yang secara nyata ditunjukkan oleh Bapa Koran membuat kami paham, bagaimana seharusnya kami mensyukuri kehidupan ini.

Tanpa beliau sadari, Bapa Koran di kampus kami sebenarnya lebih dari seorang penjaja koran. Beliau adalah dosen ilmu syukur yang mengajar dengan praktik, tapi sedikit sekali di antara kami yang memahami ajarannya.