Sampai sekarang…
Aku masih teramat sulit membedakan Sukajadi dan Sarijadi.
Aku harus selalu mengingat-ingat, bagaimana membedakan fungsi otak kiri dan otak kanan.
Aku tak pernah langsung ingat, dimana tepatnya aku meletakkan kunci kamar.
Aku seringkali ragu, apakah aku benar-benar telah mengunci kamar setelah berjalan beberapa puluh meter dari pintu kostan.
Aku seringkali mengecek keberadaan dompet dan HP dalam tasku untuk memastikan mereka tak tertinggal dimana pun.
Aku melupakan passwordku, hingga saat ini aku tak pernah bisa membuka account YM-ku yang lama.
Aku tiba-tiba lupa dimana meletakkan barang yang baru saja kutaruh.
Aku harus mengerahkan segenap pikiranku untuk mengingat nama seseorang yang selintas kukenal.
Aku tak tahu bagaimana cara cepat mengingat ruang B21, B22, B23, B24, begitu pula untuk ruang B31, B32, B33, B34.
Aku tak pernah ingat berapa nomor RT dan RW rumah kostku…begitu pula aku tak pernah ingat berapa kode pos kampusku, padahal aku sudah menggunakannya beberapa kali untuk berbagai keperluan.
Duluuu…di masa basis pada permulaan SMA, aku dipaksa untuk menghapal D-1 s.d. D-5, P-1 s.d. P-60, PG 15-21, dan saat itu aku tak pernah benar-benar hapal.
Aku penghapal yang buruk. Aku pelupa.

Tapi…
Aku masih merasa beruntung, karena…
Tidak kebingungan membedakan…debit dan kredit (hehe…)
Aku masih merasa beruntung, karena…
Masih punya hati untuk membedakan perasaan senang, sedih, susah, marah, kesal, suka, benci, cinta, rindu, cemas, takut, sakit, kecewa,…………….
Dan yang lebih membuatku merasa beruntung adalah…
Aku masih mengingat Allah dalam hatiku, aku masih menyimpan ajaran-ajaran Rasulullah dalam ingatanku, sehingga aku tidak bingung membedakan mana jalan yang lurus dan mana jalan yang sesat.