Ketika mata ini sulit terpejam, apalagi yang bisa kulakukan selain menulis.
Walaupun tak sedikit pun isinya yang penting, setidaknya aktivitas ini bisa mengalihkan perhatianku dari aktivitas-aktivitas lain yang tidak berguna, seperti memikirkan sesuatu yang belum tentu menjadi kenyataan.

Teringat pesan pendek dari seorang sahabat, “Kau tahu apa bedanya ‘pemimpi’ dengan ‘pemimpin’?”
Pesan itu memang tidak ditujukan padaku, keterbatasan komunikasi karena perbedaan pemberi jasa komunikasi mungkin menjadi alasan kuat mengapa aku tak mendapat sebait pertanyaan itu.
Seorang sahabat mencoba menjawab pertanyaan itu,”Pemimpin adalah seorang pemimpi yang berusaha mewujudkan mimpi-mimpinya, tidak seperti Pemimpi yang terlena dengan mimpi-mimpinya tanpa ada usaha untuk mewujudkannya.”

Mimpi…ya…mimpi adalah sesuatu yang positif menurutku. Seseorang yang hidup tanpa mimpi, seolah-olah berjalan tanpa pelita, tak ada tujuan, mengikuti kemanapun kaki melangkah. Tapi ketika mimpi-mimpi itu sudah melampaui batas ‘kewajaran’, yang muncul hanyalah angan-angan. Seorang pemimpi adalah seseorang yang hidup dengan mimpi yang hanya berupa angan-angan. Dia terbius oleh angan-angannya sendiri tanpa berusaha menghadapi dunia nyata yang tak selamanya seindah angan-angan. Tapi seorang pemimpin adalah seorang pemimpi yang tak gentar menghadapi dunia nyata, dan berusaha merealisasikan mimpi-mimpinya.
Saat ini, aku merasa bukanlah seorang pemimpi, bukan pula seorang pemimpin. Aku terlalu banyak berangan-angan, tapi ada keinginan yang kuat untuk melepaskan diri dari angan-angan tidak berguna itu dan kembali ke dunia nyata yang menunggu dengan segala lika liku kehidupannya. Angan-anganku sia-sia, seringkali membuatku cemas, dan melemahkan imanku…ketika ku terbangun, aku menemukan diriku semakin rapuh karena kebahagiaan itu ternyata hanya dalam angan-angan. Astaghfirullah…
Ketika berbagai skenario kehidupan kususun dalam angan-anganku…ada perasaan ragu, akankah suatu saat skenario itu menjadi kenyataan. Tapi aku terlena…aku menikmatinya, aku merasa bahagia ketika imajinasi kehidupan itu terputar dalam otakku. Aku sadar ini negatif, dan aku merasa bersyukur karena masih menyadari ini adalah hal yang negatif. Aku bisa memperbaiki diri, menata hati, dan menghadapi dunia sebagai pemimpin, bukan pemimpi.