05.20 am, Di tengah kegelapan fajar…

Ada keinginan untuk melakukan aktivitas lain. Tapi…(lagi-lagi) keputusan PLN untuk memadamkan listrik telah mengacaukan rencanaku pagi ini.

Menuju jam setengah 6 pagi di musim seperti ini (yang entah musim apa, karena beberapa tahun terakhir ini, tidak ada perbedaan yang jelas antara musim hujan dan kemarau), membuat hari sangat gulita. Lebih gelap dari malam. Yang bisa kulihat jelas saat ini hanyalah stiker-stiker bintang berpendar yang kutempel di dinding.

Seandainya ini malam hari, tentu aku masih bisa melihat bulan yang senantiasa setia memantulkan cahaya matahari.

Seandainya ini malam hari, tentu aku pun masih bisa, melihat kerlip bintang nyata di langit hitam malam hari.

Tapi ini pagi…pagi di musim ‘ga jelas’ dimana matahari terlambat menyapa kami di pagi hari, namun dia mengompensasikan keterlambatannya dengan menambah jam kerja di sore hari.

Pagi ini, di tengah gelapnya pagi, aku belajar mensyukuri satu hal, yaitu syukur atas nikmat kemampuan melihat yang aku miliki. Pagi ini aku merasa buta, gelap, tapi seiring dengan berlalunya waktu, tentu aku masih bisa melihat seisi dunia ini dengan bantuan matahari. Aku membayangkan, apa yang dirasakan oleh saudara-saudaraku yang tidak memiliki kemampuan untuk melihat. Mungkin bagi mereka, siang dan malam tak ada bedanya. Yang terlihat hanya gelap.