Ketika ku mencoba mencari-cari apa kelebihan yang kumiliki dan kurasakan, aku tidak menemukannya.
Ketika ku terlalu sering melihat ke ‘atas’, tanpa memperhatikan betapa banyak orang di ‘bawah’, aku makin merasa kerdil dan tak berarti apa-apa.
Ketika ku berkunjung ke berbagai tempat yang dapat memuaskan orang-orang yang berlimpah uang, aku semakin merasa miskin dan tak mampu.
Apakah perasaan-perasaan ini mengindikasikan bahwa aku orang yang kurang bersyukur?
Mungkin ‘Ya’. Sepatutnya aku beristighfar, karena yang kumiliki saat ini sebenarnya sudah lebih dari apa yang aku butuhkan. Allah telah memberikan apapun yang kubutuhkan tanpa kuminta. Aku tak pernah berdoa untuk meminta air, tapi Allah menurunkan hujan dan membuat pompa air di rumahku beroperasi sepanjang hari. Aku tak pernah berdoa meminta udara, tapi hingga saat ini aku masih bisa bernafas, menghirup oksigen, yang mengandung berbagai unsur gas yang aku butuhkan untuk hidup. Aku tak pernah meminta mata untuk melihat, aku tak pernah meminta warna untuk mempercantik dunia, aku tak pernah meminta telinga untuk mendengar kicau burung yang meramaikan suasana, aku tak pernah meminta tangan untuk meraba, aku tak pernah meminta hati untuk merasa, aku tak pernah meminta untuk dilahirkan ke dunia. Tapi semuanya Allah berikan tanpa kuminta. Bahkan aku terkadang lupa berdoa sebelum tidur, tapi Allah yang menggenggam jiwaku selama tidur masih berkenan meminjamkan kembali jiwaku sehingga aku dapat beraktivitas esok harinya.
“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?”
Sungguh aku menyadari, tidak ada satu pun di dunia ini yang tercipta dengan sia-sia. Bahkan sebutir debu pun diciptakan untuk diambil manfaatnya. Jika kita belum bisa mengambil manfaat dari suatu benda, bukan berarti benda tersebut tidak bermanfaat. Boleh jadi kita kurang berpikir secara mendalam sehingga tidak menemukan hikmah penciptaan suatu benda.