Pekerjaan Untuk Adikku…

January 28, 2010

Aku punya adik, laki-laki, kuliah di Yogya, semester 1 (angkatan 2008), jurusan Akuntansi (juga).

Yes, aku baru menemukan dan mencoba memahami beberapa karakter dirinya yang selama ini tersamarkan oleh ‘diam’nya.

Ya, penampakannya pendiam, seperti aku yang dilihat melalui kacamata orang-orang yang tidak begitu mengenalku.

Tapi, di balik itu …

Dia berani …

… memutuskan. Tahun ini seharusnya menjadi tahun kedua dia kuliah di salah satu Universitas Negeri ternama di Yogya, tapi keputusannya, hampir setahun yang lalu, membuatnya harus rela menjadi mahasiswa tingkat pertama (lagi) di universitas (swasta) lain. 

Dalam hal ini, dia lebih berani daripada aku, yang bahkan harus berpikir ber-’banyak kali’ untuk memutuskan satu hal, “resign atau tidak?”

Dia mandiri …

Bagus kan!? Dia ‘terlalu malu’ untuk terus menyusahkan orangtua. Mau bekerja, “Biar ga minta terus sama si Mamah,” katanya. Tapi justru membuatku khawatir, karena seharusnya kuliah adalah kuliah, tidak sambil bekerja.

Dalam hal ini pun, aku tertinggal jauh di belakang dia. Selama kuliah aku sangat bergantung sama Bapa. Apalagi setelah sadar sepenuhnya, bahwa Bapa ga pernah mengatakan ‘TIDAK’ untuk apapun yang aku inginkan.

Dia nekad …

Gimana ngga dibilang nekad kalau dia sampai menggadaikan surat berharga yang dimilikinya untuk mendapatkan sedikit modal usaha yang dirintis bersama teman-temannya? Itu NEKAD BANGED! Apalagi setelah tau, dia melakukannya tanpa sepengetahuan Mamah dan Bapa.

Jelas!!!! Ini udah jauh dari karakterku. Si Puput, pemain handal di zona aman dan nyaman belum tentu mampu dan mau melakukannya.

Seharusnya dia tidak senekad itu. Sampai aku berpikir, “Biar gw aja yang ngasih dia kerjaan … biar gw aja yang gaji dia … “, bukan sekedar gagasan, apalagi khayalan yang jauh mengawang-ngawang. Aku benar-benar akan melakukannya …

Tapi … pekerjaan apa yang cocok untuk adikku?


May be YES…May be NO

January 24, 2010

Kalimat di atas menjadi sangat populer ketika ada satu iklan rokok yang menggunakannya sebagai tag.

Cerita iklannya semua pasti tau kan? Tentang seseorang yang selalu mendapat pertanyaan, “Kapan kawin? Kapan kawin? Dan kapan kawin?”

Entah karena jengah atau saking cueknya, Si Orang Yang Ditanya hanya menjawab, “May…”, sayangnya ga ada satu orang pun penanya yang menyadari kalimat lanjutannya, “….be YES, may be NO…”

Tiba-tiba teringat iklan yang sudah ga ditayangkan di televisi itu, ketika menyadari semakin banyak orang bertanya hal yang sama padaku, dalam berbagai kesempatan….kumpul keluarga, kumpul dengan teman lama, bahkan dalam forum internet sekalipun.

Awalnya pertanyaan seperti itu aku anggap sebagai pertanyaan basa basi yang tidak perlu ditanggapi dengan serius atau tidak perlu dipikirkan lebih lanjut, karena aku pikir si penanya pun tidak begitu menginginkan jawaban yang sebenarnya. Iya … hanya basa basi.

Lama-lama, ketika semakin banyak orang bertanya, dan ketika aku sadar usiaku 24, aku mendengar pertanyaan itu bukan sekedar basa basi lagi, tapi sebuah TUNTUTAN.

Pertanyaan, “Kapan kawin?” itu menjadi terdengar, “Cepetan kawin!!!”, di telingaku.

Itu tidak ada bedanya dengan pertanyaan paling populer pada masa akhir kuliah dulu, “Skripsinya udah sampai mana?” atau “Kapan sidang?”

Pertanyaan basa basi jika bertemu dengan teman-teman seangkatan yang senasib sepenanggungan. Pada awalnya, aku akan bercerita apapun tentang skripsiku. Lama-lama jengah juga. Pada kesempatan berikutnya, ketika seseorang bertanya, “Gimana skripsinya?”, maka aku hanya tersenyum, dengan jawaban yang menggantung, ” Yaaaa……gitu deh…hehehe”, sambil nyengir kuda. Jika diterjemahkan, maka itu berarti, “Please, berhenti menuntutku!”


Pekerjaanku tidak mendekatkanku pada tujuan akhirku

January 10, 2010

Hanya perasaanku saja mungkin?

Memang apa tujuan akhirku? Tiap-tiap orang bisa mengungkapkannya dengan kalimat yang berbeda, tapi semua pasti setuju bahwa pada akhirnya nanti manusia akan kembali kepada Allah, dan … itulah tujuan akhirku. Aku akan kembali kepada Allah, dan ketika saatnya tiba nanti, aku ingin kembali ke tempat terbaik di sisi-Nya.

Aku bahagia menjalani masa kuliahku. Masa dimana aku merasa berada pada titik terdekat dengan Allah. Ketika semua masalah terasa ringan karena sangat yakin selalu ada Allah bersamaku. Ketika aku selalu merasa cukup dengan apa yang aku miliki walau terbatas sekalipun.

Memasuki dunia kerja setahun yang lalu, aku menghadapi kenyataan yang sangat berbeda dengan yang kualami di kampus dulu. Ternyata tidak semua orang berpandangan sama denganku, bahwa tidak semua orang memiliki tujuan akhir sepertiku.

Semua ingin sukses. Teman-teman kantorku ingin sukses, aku juga iya. Dan ternyata definisi sukses itu berbeda-beda bagi setiap orang. Yang aku dapati sekarang, begitu banyak orang menilai kesuksesan hanya dari materi yang dimiliki. Maka tidak heran ketika satu per satu temanku meninggalkan tempat kerjaku sekarang untuk mengejar kesuksesan di tempat lain, untuk mendapatkan pekerjaan ‘yang lebih baik’, yaitu pekerjaan yang menawarkan gaji yang lebih tinggi.

Berdasarkan pengamatanku itulah aku tahu isi kepala kebanyakan orang tentang makna kesuksesan. Dan aku menolak untuk dikatakan tidak setuju. Yang menjadi masalah adalah, aku berusaha menjadi seorang sukses berdasarkan ‘paradigma sukses’ kebanyakan orang itu. Yang terjadi saat ini adalah aku lebih banyak mengikuti kata orang tentang sukses daripada mengikuti kata hatiku sendiri.


Nama-Nama Kucing (2)

January 2, 2010

Saya ketawa liat statistik kunjungan ke blog ini.
Postingan saya yang berjudul Nama-Nama Kucing selalu diliat orang paling banyak di antara postingan yang lain.
Lalu semakin ketawa ketika saya mencoba mengetikkan kata kunci “Nama-Nama Kucing” di Google, blog saya ada di urutan tiga teratas. Wakakakaka…..
Maaf saudara-saudara yang merasa ‘tertipu’ dengan judul post “Nama-Nama Kucing” saya, karena tulisan itu hanya menceritakan nama-nama kucing yang pernah saya pelihara, saya tidak merekomendasikan Anda untuk menggunakan nama itu untuk kucing-kucing Anda. Hehehehe…


so many SO

January 2, 2010

Akhir tahun bukanlah saatnya auditor libur.
Ketika tanggal 31 Desember orang-orang merencanakan kemana mereka akan menghabiskan malam pergantian tahun, maka kami ‘memilih’ untuk menyelesaikan pekerjaan kami.
Pun ketika tanggal 1 Januari mereka menghabiskan waktu berlibur bersama keluarga, mungkin kami sedang berada di gudang suatu perusahaan mengecek semua persediaan yang ada.

Tanggal 31 Desember dan 1 Januari-ku tahun ini pun sama dengan tahun lalu. Aku tinggal di Jakarta, dan memutuskan untuk tidak pulang ke Bandung. Selain karena dua minggu berturut-turut lalu aku selalu pulang ke Bandung, juga karena aku merasa lebih baik tidak pulang untuk menghindari perasaan ‘emoh balik ke Jakarta’ setiap kali aku pulang ke rumah.

Tapi, jangan berpikir kalau aku membenci pekerjaanku sekarang, apalagi setelah kalian membaca beberapa post disini yang selalu berkaitan dengan pekerjaan, dengan sedikit keluhan.
Pekerjaanku menyenangkan, banyak hal baru yang ku dapat selama bekerja disini.
Yang paling menyenangkan dari pekerjaanku adalah, aku bisa masuk ke banyak perusahaan, mengamati sistem mereka, mempelajari proses bisnis mereka, dan yang paling kusukai adalah, masuk ke ‘dapur’ mereka, mengamati proses produksi, melihat bahan baku yang mereka gunakan hingga menjadi barang jadi dalam kemasan.

Dan hal yang paling kusukai itu akan kudapat selama SO. Jadi, tau kan bahwa ’so’ dan ‘SO’ pada judul di atas itu berbeda?

SO —> Stock Opname, stock take, atau physical check, yaitu salah satu prosedur audit untuk memastikan bahwa persediaan yang dicatat dalam buku perusahaan benar-benar ada sampai tanggal pengecekan tersebut.

Dan, selalu saja ada pengalaman PERTAMAX yang kudapat setelah beberapa kali melakukan stock opname.

Read the rest of this entry »


Semua Pernah, Kenapa Aku Nggak?

December 31, 2009

Rasanya semua orang yang tinggal di Pulau Jawa pernah menyeberang ke pulau-pulau nun jauuuh di seantero nusantara.
Oh ya??
Oke … oke … lebay ya? Gue ralat …

Rasanya … orang-orang di sekitar gue pada pernah ke luar Jawa deh, tapi kok gue nggaaa???

Bapakku pernah ke Lombok
Abangku malah pernah ke Papua
Adikku sendiri pernah main sampai Palembang
Tetangga depan rumahku pernah ke Aceh
Temen sebelahku pernah ke Makassar

Tapi aku?
Kata Mamah, aku juga pernah ke Sumatera kok.
“Oh ya?”, mataku membelalak, karena rasanya, dalam mimpi sekalipun aku ga pernah menginjak tanah Andalas.
“Iya, waktu itu Put masih kecil, belum juga dua tahun”, Mamahku melanjutkan. Haiiizzz … pantesan gue gak inget.

Pertanyaannya adalah … “Sebegituinginnyakah?” (Nah lho … ribet kan nulisnya?!)

Hmmm … Ya!
Seumur hidupku yang hampir 24 tahun ini, lingkup gerakku hanya sebatas Pulau Jawa, itupun minus Jawa Timur.
Aku pernah singgah di semua kota di Jawa Barat, bahkan aku pernah tinggal di Banten ketika daerah itu masih bagian dari Jawa Barat.
Aku pernah melintasi, beberapa kusinggahi, kota-kota di Jawa Tengah sepanjang jalur utara dan jalur selatan sampai Yogya dan Magelang.
Tapi, aku ga pernah melintasi Laut Jawa, teruuuus ke utara sampai menemukan Borneo. Atau menyeberangi Selat Sunda di barat Pulau Jawa. Atau menyeberangi Selat Bali di timur Pulau Jawa. Laut Banda, Laut Sulawesi, Laut Arafuru, ah … apalagi itu.

Read the rest of this entry »


Swim … swim …

December 28, 2009

Untuk pertama kalinya dalam setahun terakhir … aku berenang!!!
Yap … pada libur hari kedua tanggal 25 Desember kemarin, di Tirtamulya, Cimahi.

Hmm … jadi inget, gimana awalnya aku jadi suka olahraga air ini.

Dan itu terjadi sejak … lebih dari 8 tahun yang lalu.
Ya, saat itu aku masih kelas 3 SMP. Salah satu ‘gaya renang’ yang bisa kupraktikkan adalah, meluncur, juga salah satu gaya primitif yang bisa dilakukan semua orang, yaitu gaya batu.

Hingga pada suatu hari, ketika aku memutuskan mendaftar ke TN, Mamah mendapat cerita bahwa ada tes renang untuk bisa masuk kesana. Ugh … aku kalah telak bahkan sebelum bertanding ketika mendapat kabar itu.
Maka, Mamah mencarikanku seorang pelatih renang. Aku ga pernah tahu, gimana ceritanya hingga akhirnya aku dikenalkan pada seorang pelatih renang yang juga penjaga kolam renang di Sanggariang, kolam renang plus klub renang, yang berada beberapa ratus meter dari sekolahku.
Dan, tahu? Jujur saja, latihan renang adalah kegiatan yang paling membuatku tertekan diantara kegiatan-kegiatan lain yang kuikuti di kelas 3 SMP. Aku benci ketika ada dua hari dalam seminggu yang harus aku isi dengan latihan renang. Aku benci karena aku tidak bisa berenang, dan aku semakin benci ketika dalam beberapa pertemuan, hasil latihanku tidak menampakkan kemajuan.

Read the rest of this entry »


Apakah mimpi hanya bunga tidur?

December 28, 2009

Apa pula itu bunga tidur?
Apakah berarti mimpi itu membuat tidur menjadi lebih indah? Lebih berkesan?
Aaarrgghh….seandainya mimpi selalu berbanding lurus dengan kenyataan, maka mimpiku tadi pagi bisa dikatakan…..sangat indah.
Sayangnya, dalam kehidupan nyata bukan itu yang terjadi.

Hmfff….sedikit menyesal, kenapa aku melanjutkan tidurku subuh tadi hingga menjelang matahari terbit.
Kalau tadi pagi aku memutuskan bangun dan tidak melanjutkan tidur, tidak akan pernah aku bermimpi seaneh tadi.
Mimpi bertemu dengan seseorang yang sama sekali tidak ingin aku jumpai.
Dan yang aku dapati ketika terbangun adalah….kekecewaan dan kehampaan, kemudian rasa penyesalan, “Ah…kenapa ini hanya mimpi?”

Tapi, eh…tapiiii…..aku jadi bertanya-tanya sendiri, “Apa yang menyebabkan kita bisa memimpikan seseorang?”
Apakah karena kita terlalu sering memikirkan orang tersebut?
Hmmm…sangat mungkin. Aku pernah mengalaminya beberapa kali. Ketika pada suatu waktu aku tidak pernah lepas memikirkan seseorang sepanjang hari sehingga seseorang itu pun hadir dalam mimpi-mimpiku.
Tapi, ‘teori’ ini sama sekali TIDAK berlaku untuk mimpiku tadi pagi.

Atau mungkin, karena kita mengharapkan pertemuan dengan seseorang itu?
Agak susah dibedakan dengan kemungkinan pertama di paragraf sebelumnya sih.
Tapi kalaupun itu penyebabnya, aku rasa mimpiku tadi pagi juga ga ada hubungannya dengan harapan bertemu seseorang yang ada dalam mimpiku itu.

Trus … apa dong???
Ah…hanya mimpi kok Put…ngapain dipikirin???


Sip: Puput

December 24, 2009

Tiba-tiba ingin kembali ke masa lalu, ke masa SD dan SMP-ku dulu ketika surat menyurat dengan teman-teman, yang bahkan diantaranya tidak kukenal, menjadi suatu hal yang menyenangkan.
Kenangan tentang hal itu tiba-tiba muncul di tengah-tengah training yang tidak membosankan sebenarnya, hanya membuat sebagian dari peserta (termasuk saya tentu saja) mengantuk dan tidak berkonsentrasi pada materi yang disampaikan pembicara.
Untuk mengalihkan kantuk, beberapa kali saya mulai menyusun ‘draft’ yang akan saya posting di blog, tapi setiap ‘draft’ itu tidak pernah selesai, hmm..sedang berada pada titik mandek, saat semua ide di kepala sangat susah dituangkan secara tertulis. Sementara, saya merasa menulis itu penting, apalagi ketika merasa tidak ada seorang pun yang bisa menanggapi isi kepala saya atau seenggaknya mendengarkan curhatan-curhatan ga penting saya.
Ketika saya terbangun lagi setelah terkantuk-kantuk bahkan tertidur untuk ke….sekian….kalinya, tiba-tiba teringat kebiasaan lucu masa SD, sampai membuat saya sesekali tersenyum … geli.
Gimana ngga geli, kebiasaan waktu kelas 1 SD itu memang … lucu, dan … menyenangkan.

Pada satu hari, saya mulai menulis beberapa surat yang saya sampaikan ke beberapa teman main di kelas. Isinya bisa ditebak, isi kepala anak SD:

Read the rest of this entry »


Lentera Jiwa

December 19, 2009

Lidahku sudah terbiasa mengucapkan, “Semoga aku menemukan pekerjaan yang lebih baik”
Lalu seseorang akan mengaminiku.
Dan … selanjutnya, rutinitas akan berjalan seperti biasa, tanpa pengaruh dari kalimat yang sudah sering kuucapkan itu.
Tapi, perasaanku malam ini berbeda ketika seseorang mengamini keinginanku untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Entah mungkin karena pengaruh bacaanku tadi siang, tentang ‘Lentera Jiwa’-nya Andi Noya.

Alangkah bahagianya menjadi seseorang yang hari-harinya terang oleh lentera jiwa-nya. Hari-hari yang diisi dengan pekerjaan yang bukannya membebani, malah justru membuatnya bahagia ketika mengerjakannya.
Dan dengan sepenuh hati aku sadar, Aku Belum Menemukan Lentera Jiwaku.

Masalah terbesarnya adalah, aku belum berani memutuskan untuk meninggalkan pekerjaanku sekarang karena di luar sana aku tidak menangkap setitik cahaya pun yang menjadi petunjuk keberadaan lentera jiwaku.
Saat ini, hanya ada satu hal yang menjadi pedomanku dalam mencari lentera jiwaku.
Lentera itu harus bisa membebaskanku untuk memiliki lebih banyak waktu … untukku sendiri …
Membebaskanku mengerjakan pekerjaan-pekerjaan lain yang kusukai di luar pekerjaan formalku.

Read the rest of this entry »