Hujan Datang Terlambat

January 22nd, 2012 § Leave a Comment

image

Hujan terlambat datang hari itu.
Walaupun tidak ada satu pun dari kami yang mengharapkannya.

Hari itu libur yang teduh, saat yang paling tepat untuk berpiknik. Ibu sedari pagi menyiapkan keranjang berisi roti, buah-buahan, snack, dan jus mangga, serta merapikan tikar tipis yang terhampar di sudut ruangan keluarga. Tikar itu Ibu lipat seringkas mungkin agar bisa muat ke dalam keranjang piknik.

Andai hujan datang lebih cepat hari itu, walaupun kami tidak mengharapkannya.

Sungguh, hujan tidak akan sedikit pun mengurangi kebahagiaan kami. Iya, aku pasti sedikit kecewa, tapi tidak akan membuatku sedih berkepanjangan seperti saat ini. Hujan pada hari libur bisa menahan siapapun untuk tidak keluar rumah. Kami menciptakan kehangatan di dalam rumah untuk melawan udara dingin dari luar. Ada banyak permainan yang bisa kami lakukan.

Aku akan bersembunyi, sementara Ayah menghitung sampai 25, lalu dia berkeliling rumah mencariku, dan pura-pura tidak melihat bahkan ketika ujung bajuku menyembul dari balik pintu. Setelah bosan, aku akan menunggangi Ayah dan berusaha mengejar Ibu yang berteriak-teriak seolah-olah ketakutan. Aku semakin semangat memacu Ayah, kuhentak-hentakkan kakiku gembira, dan menepuk-nepuk bahu Ayah agar dia ‘berlari’ lebih kencang. Ketika Ayah meringis karena lututnya kesakitan, dia akan tergeletak di atas lantai sambil masih tertawa-tawa, lalu aku mulai menggelitikinya, dan tangannya dengan sigap menangkap tubuhku, dalam posisi yang masih terlentang diangkatnya aku dengan kedua telapak kakinya, jemari kami saling menggenggam, walaupun takut aku tetap tertawa-tawa gembira.

Tapi hujan datang terlambat hari itu. Ibu kehabisan mentega untuk mengoles roti piknik kami, Ayah dengan sigap keluar rumah menuju warung terdekat dengan sepedanya. Tiba-tiba gerimis turun, namun semakin lebat, dan Ayah belum kembali.

Ayah datang, tapi tidak sendiri. Sekelompok pemuda yang biasa duduk-duduk di gardu depan kompleks perumahan dekat jalan besar mengangkatnya beramai-ramai. Seonggok sepeda penyok dibawa seorang pemuda yang lain. Ayah tertidur dan tidak pernah terbangun lagi.

Hujan seharusnya datang lebih cepat … karena hanya hujan yang akan menahan Ayah di rumah hari itu.

#gambar diambil dari sini

Kamar Mandi dan Kekuatan Super

January 21st, 2012 § Leave a Comment

Saya merasa memiliki tenaga ekstra besar dua hari terakhir ini.

Malam kemarin, saya tidur cepat setelah makan malam, akibatnya tengah malam saya terbangun dan sulit tertidur lagi. Saat terbangun itu saya merasa mulut kering. “Ya Tuhan, jangankan gosok gigi, minum setelah makan malam pun saya tidak”, seketika saya sadar begitu melihat air di gelas di samping piring kotor bekas makan malam saya masih penuh.

Saya pun memutuskan ke kamar mandi dan gosok gigi (akhirnya), walaupun malas sebenarnya, dan disanalah saya menyadari kekuatan super saya.

Saya mengambil sikat gigi, memberinya sedikit pasta gigi, lalu hendak memutar keran daan …. OMG … Patah!!! Air bocor dan muncrat kemana-mana. Secara refleks saya mengeluarkan kata umpatan, “€$*¥, ada-ada aja siihh!!!”. Maka pemandangan berikutnya adalah, tangan kanan menggosok gigi, tangan kiri memegang keran yang hampir lepas, sementara airnya muncrat ke badan saya. Aarrghh …

Dan kejadian superpower terjadi lagi tadi pagi. Lagi-lagi TKPnya adalah kamar mandi. Karena ada teman saya di kamar mandi anak kost, saya bermaksud numpang di kamar mandi belakang, tempat si bibi biasa mencuci. Saya menaruh handuk di gantungan yang tertempel di kusen jendela belakang pintu kamar mandi, ketika tiba-tiba … kreeekk … brak!! Gantungan baju itu jatuh, beserta paku, dan sedikit bagian kusennya. Oalaaahhh … lagi???

Setelah ini apalagi?? Toilet pecah setelah saya duduki? Dinding bak mandi hancur karena saya menyenggolnya? Air bak menjadi air bah ketika saya meng’gayung’nya? Bumi gonjang ganjing? Angin puting beliung? Atap kamar mandi runtuh? Ayam tetangga mati mendadak? Gejala apa ini??? Sebaiknya saya lebih banyak istirahat … heuuh … menarik selimut.

#happy saturday morning all … ZzZzzz …

Ngomong-ngomong, anak kost ga akan ada yang tau siapa yang mematahkan keran kamar mandi sampai membaca postingan ini.

[Buku] Kedai 1001 Mimpi

January 21st, 2012 § Leave a Comment

image

Hey … ini buku pertama yang saya baca sampai tuntas dalam dua bulan terakhir, sekaligus juga membangkitkan kembali semangat baca saya yang sempat hilang karena buku-buku kurang menarik yang saya baca sebelumnya. Jadi, ternyata … ada kaitannya juga kan tingkat ‘kemenarikan’ sebuah buku dengan semangat membaca?
Tapi tentu saja, itu hanya alasan saya seorang. Karena pada kenyataannya buanyaak teman saya yang bisa asyik membaca jenis bacaan apapun, tanpa merasa ada satu pun buku yang tidak menarik.

Kembali ke Kedai 1001 Mimpi. Mungkin banyak yang sudah tahu ya … secara buku ini saya lihat terpajang manis di rak terdepan Gramedia walaupun saya tidak membeli di Gramedia, dan direkomendasikan beberapa teman saya di Goodreads. Buku ini tidak sengaja saya temukan di stand penerbitnya di pameran buku di Istora dua bulan yang lalu. Selama ini melihat di Gramedia tidak pernah tertarik membeli karena menurut saya terlalu tebal untuk buku pengalaman wisata. Ya, pada awalnya saya menyangka buku ini tentang perjalanan wisata -seperti yang populer dalam beberapa tahun terakhir- di negara-negara Arab.
Melihat diskon yang menarik di pameran, apa salahnya membeli? Toh pada akhirnya (mungkin) saya akan membelinya juga setelah semakin banyak orang memberi testimoni menarik untuk buku ini.

Arabia Undercover, sepertinya sempat menjadi alternatif judul sebelum buku ini terbit, tapi saya setuju judul itu akhirnya tidak dipakai, karena menurut saya ketika orang-orang membaca judulnya, mereka akan sudah tahu isinya seperti apa, setidaknya menebak-nebak. Mengingat ada buku sangat populer beberapa tahun lalu berjudul Jakarta Undercover yang mengangkat undercover-nya Jakarta. Hayoh dibolak balik. Jangan kira saya yang lugu dan lucu ini tidak pernah membacanya ya. Hehehe. Hoeks …

Saya salut pada penulisnya, juga penerbitnya tentu saja, karena berani menerbitkan buku dengan isi yang … yeah silakan baca sendiri. Kalau Moammar Emka, si penulis Jakarta Undercover, boleh berani karena mengungkapkan perilaku ‘bebas’ di Jakarta, yang mana terletak di negaranya sendiri, maka Vabyo, begitu Valiant Budi akrab disapa, secara berani mengungkapkan keanehan, kejanggalan, ketidakwajaran di negara orang lain, seperti ingin menegaskan prototipe warga Arab yang kasar dan memiliki hasrat seks yang besar, bahkan terhadap sesama jenis sekalipun, yang mana jika dikaitkan dengan kesan bahwa Arab adalah Islam, justru perilaku warganya jauh dari Islami. Tapi, lain Arab, lain Islam, buku ini tentang budaya dan tradisi, bukan agama. Toh, di beberapa kesempatan, penulis juga menemukan kedamaian Islam disana. Faktor lingkungan kerja, lingkungan tempat tinggal, tujuan berkunjung, dan lamanya tinggal juga mempengaruhi bagaimana kesan seorang terhadap suatu tempat kan?

Kesimpulan dari saya …

… bertebaranlah kamu di bumi, carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung. (QS 62:10)

Satu ayat merangkum semuanya :)

Informasi buku:
Judul : Kedai 1001 Mimpi
Penulis : Valiant Budi
Penerbit : Gagasmedia
Cetakan : I, 2011
Jumlah halaman : 443 + xii

Karena Wanita (Tidak) Untuk Dimengerti

January 13th, 2012 § 4 Comments

Saya berpikir, berlebihan jika menilai semua cewek PMS itu moodnya mudah berubah-ubah, emosi naik turun, jutek tanpa ada kesalahan, nangis tanpa alasan, ketawa juga tanpa alasan (eh … ini mah gila ya :p), dan berbagai bentuk ‘kesensian’ lain. “Tuduhan yang tidak berdasar!”, kata saya dramatis … tiga tahun yang lalu.

Ternyata masa-masa indah pre-mens tanpa kesensian yang berlebihan itu (bahasa lebay macem apa ini!!) hanya bertahan sampai tahun ke tujuh sejak pertama kali saya mengalami dtgbln. Entah mungkin karena tekanan dari sana sini yang semakin meningkat semenjak kerja … eh tua maksudnya (dan alasan-alasan lain yang bisa kamu temukan di gugel), saya akhirnya mengalami PMS, yang bagi saya seringkali menjengkelkan sekaligus (mungkin) membuat orang lain jengkel juga.

Contohnya?

Pernah luar biasa kesal sama sekelompok tukang ojek yang mangkal diSITU, bahkan sampai saat ini, gara-gara pada satu sore seorang tukang ojek menolak mengantar saya dengan harga yang saya tawarkan.

Pernah sampai 3 hari marah dan puasa ngomong sama temen kantor saya, seorang cowok, gara-gara dia melihat-lihat foto di camdig saya dan secara tidak sengaja menemukan foto yang seharusnya tidak dia lihat.

Suatu malam pernah nangis hebat gara-gara kesal sama teman saya, sampai saya memaksanya datang ke kost malam itu juga untuk menyelesaikan ‘masalah’. Masalah selesai dengan menyuruhnya pulang sesaat sesampainya dia di pintu rumah kost, yang mana saat itu saya hanya berkata, “Maaf … kayaknya PMS deh”. Bersyukur malam itu teman saya datang dengan tangan kosong, tanpa satupun barang yang bisa dilempar ke muka saya.

Merasa panas hati dan dendam pada orang-orang yang pernah bikin saya sakit hati, kemudian pada saat yang sama menangis kejerrr dan merasa jadi orang paling merana di dunia, kalo yang ini ada efek baiknya, karena doa-doa sehabis sholat jadi makin kenceeennngg :p

Lalu saya bisa berubah jadi manusia bertanduk yang ingin menjengkelkan semua orang. Muka ditekuk, merengut, ngomong pedess, gerakan tangan jadi berefek ‘melempar’ dan ‘membanting’, tidak peduli aturan. Pernah satu hari saya ‘kabur’ dari ruangan kerja, menghilang sampai hampir 2 jam pada jam shalat ashar. Kenapa? Saya cuma lagi kesel dan pengen orang-orang tau kalo saya kesel. Ngefek? Yaa … semua orang jadi bersikap lebih kesal dan tidak bersahabat sama saya. Heuh.

… dan contoh-contoh lain yang terlalu banyak kalo dibahas atu-atu.

Setahun terakhir saya mulai peka kapan saatnya saya PMS, kalo hati tiba-tiba ngerasa gak nyaman, hal pertama yang saya lakukan adalah mengecek kalender menstruasi yang terinstall di HP saya dan biasanya menemukan tulisan “7 days left”, misalnya. Maksudnya, menurut hitungan aplikasi itu, 7 hari lagi saya dapet.

Tuh kan?

Yang saya heran, kenapa sih temen-temen saya yang cowok itu ngga ngertiin kalo temen ceweknya lagi PMS.
“Gw tuh ngga ngerti, kenapa sih dia marah seharian cuma gara-gara gw becandain dia ngemil mulu”.
“Gw bingung … kenapa dia nangis tanpa bisa jelasin sebab apa???”
“Lu juga Put, gw heran, lu yang biasa tersenyum manis (ehm..), kok dua hari terakhir ini muka lu asem banget sih … eh … eenngg … tapi masih manis kok”, ralatnya cepat setelah melihat saya melotot sambil mengeraskan kepalan tangan.
Dia lalu menyibukkan diri memainkan ponselnya, dan berhenti bertanya. Eh padahal setengah jam yang lalu dia bilang HPnya mati … :p

“Jadi … mesti gimanaaa??? Kalian tuh makhluk terindah yang diciptakan Tuhan ke muka bumi, sekaligus makhluk yang paling sulit dimengerti”, temen saya mulai sok puitis menjijikan tanda stress. Dia menunduk, sesaat kemudian tampak bahunya berguncang, “Lu kenapa hari ini jutek banget sih Put?”, tiba-tiba wajahnya terangkat, air keluar dari segala sumber di mukanya (jijik ga sih).

“Ga tau … “, jawab saya. Hey catet nih para laki, dari yang hidung belang sampai hidung lebar #eh (ngelirik cowok sebelah) … dalam kondisi seperti itu (PMS-pen), ketika kami menjawab ‘ga tau’ maka itu memang berarti ‘ga tau’.

Jadi … seringkali saya ga tau kenapa saya tiba-tiba pengen marah, pengen jutekin orang, pengen nangis, kalo ditanya paling saya jawab, “Gapapa … pengen aja”.

Jadi? Loe orang ikutin aja deh yang cewek-cewek di sekitar loe mau, asal ga disuruh ngelakuin hal-hal yang membahayakan nyawa dan agama aja … hahaha …maunya gw sih itu mah …

Daan …
hmm … mulai panas hati gara-gara beberapa kali diserobot ma pasien dokter gigi yang dateng lebih siang dari saya … cek kalender … 3 days left.

(menghampiri petugas pendaftaran, siap-siap menggebrak meja)

2011 in Review

January 3rd, 2012 § Leave a Comment

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2011 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The concert hall at the Syndey Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 10,000 times in 2011. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 4 sold-out performances for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

Gamang

December 20th, 2011 § 2 Comments

Originally created on Dec 13, 2011

Tadi sore secara tidak terduga seorang kawan semasa di kampus dulu, juga sempat satu kantor di tempat lama menelpon.
“Beneran pindah kerja, Put?”, tanyanya tanpa basa basi.
Hmm, ya begitulah, dimulai dengan obrolan tentang pekerjaan sampai rencana masa depan.

Menyadari begitu banyak target ideal masa kuliah yang tidak tercapai, saya merasa gamang.
Saya kembali merenungi, bagaimana dan mengapa saya bisa sampai di posisi ini sekarang? Bekerja di sebuah perusahaan BUMN setelah hampir 3 tahun ‘mengenyam pendidikan’ di sebuah KAP besar, dan masih single. Inilah gambaran diri saya sekarang.

Padahal, seandainya semua berjalan sesuai rencana ketika hampir lulus kuliah dulu, semestinya saat ini saya sedang berkecimpung di sektor akuntansi pemerintahan, menjadi konsultan, sambil mengajar di kampus, sedang mengurus kelanjutan studi S2, dan sudah menikah.

Ketika yang terjadi tidak sesuai dengan rencana semula, sebenarnya apa penyebabnya?
Sejauh ini, saya hanya bisa menemukan dua kemungkinan jawaban. Yang pertama, apa yang saya lakukan selama ini tidak fokus menuju apa yang ingin saya capai. Kedua, takdir. Saya meyakini segala yang terjadi pada saya adalah kehendak Allah, tapi bukankah disana ada usaha dan doa? Saya lebih meyakini usaha dan doa itulah yang membawa saya pada takdir saya selama kedua hal itu dilakukan dengan cara-cara yang baik dan untuk tujuan-tujuan yang baik pula. Tidak sedang men-zero-kan peran Allah, justru saya yakin betul segala yang terbaik dari Allah akan datang setelah kita melakukan usaha dan doa yang terbaik. Begitu kan seharusnya sikap orang yang percaya pada takdir?

Dalam perjalanannya mencapai tujuan itu, memang seringkali merasa terombang-ambing.
Keinginan pun sering berubah-ubah. Sempat ingin bertahan lama di KAP bahkan sampai manajer, sampai saya sadar bahwa saya tidak cocok menjadi auditor. Lalu, tiba-tiba saja ingin menjadi PNS sebagai perencana di suatu kementerian karena tergiur oleh tawaran beasiswa S2-nya setelah 3 tahun menjadi PNS di tempat itu. Di saat yang lain, saya mengejar kesempatan menjadi guru di daerah terpencil. Pernah juga ingin masuk perbankan, sampai akhirnya tawaran bekerja di salah satu bank saya tolak karena sadar bank bukan minat saya. Tapi ada saat dimana saya berpikir sebaiknya saya bekerja di rumah saja, menjadi ibu rumah tangga, sambil berbisnis. Bahkan, yang paling ekstrem saya malah merasa salah memilih jurusan akuntansi, dan seharusnya ambil sastra atau seni saja. Dan semua yang saya pikirkan tentang masa depan itu sepertinya sudah keluar dari jalurnya, jika saya masih konsisten dengan cita-cita semula.

Saya tidak fokus! Itu satu-satunya jawaban yang mungkin untuk pertanyaan, “Mengapa saya ada di posisi ini sekarang?”.
Kadang keinginan saya masih terpengaruh oleh orang lain. Di satu waktu saya menyesuaikan cita-cita saya dengan kebutuhan orang lain. Terlalu sering saya melihat orang lain, lalu ingin mencapai kesuksesan versi orang lain, sehingga lupa bahwa saya punya kriteria sendiri untuk ‘sukses’.

Ketika yang terjadi terlanjur tidak sesuai dengan cita-cita semula, apa yang harus dilakukan?

“Karena tak ada sia-sia atas apa yang telah kita lakukan, berkarya lah dengan peluang yang sudah ada di tangan :)”*

*dikutip dari hasil obrolanku dengan Oya … Thanks Sist :)

Kamu … pernah/ sedang merasakan hal yang sama juga?

Bahagia Seperti Mereka??

December 19th, 2011 § Leave a Comment

Yang ingin saya lakukan saat ini adalah, secara random menarik orang-orang yang lalu lalang di depan saya, dan menanyai mereka satu per satu, apa masalah terberat yang sedang dihadapinya saat ini? Tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang luput dari masalah kan? Sekecil apapun itu. Tapi besar kecil masalah tergantung pada kebesaran jiwa orang yang menghadapinya, kan?

Sering ngga sih kalo suatu saat mendapat masalah, apalagi kalo masalahnya rada-rada unik dan mirip-mirip sinetron :P, kita mengeluh, “Kenapa saya ya Tuhan (yang mendapat masalah ini)???”, seolah-olah kita orang paling menderita sak isi dunya dan akherat .. hehe

Tapi pernahkah kita melakukan hal sebaliknya? Misal suatu hari dapet kebahagian besar yang tak disangka-sangka, lalu kita mempertanyakan, “Kenapa saya ya Tuhan (yang mendapat kebahagiaan ini)???”. Enggak kan?

Lalu, kenapa mesti mengeluh ketika suatu saat kita mendapati masalah datang bertubi-tubi, lalu melupakan bahwa pada saat yang sama, atau saat-saat yang lalu kita pernah mendapatkan suatu kenikmatan yang langka, yang banyak orang menginginkannya tapi tidak setiap orang mendapatkannya.

Kuncinya kan bersabar dan bersyukur, Put???

When your day is long and the night
The night is yours alone
When you’re sure you’ve had enough of this life, well hang on
Don’t let yourself go
Everybody cries and everybody hurts sometimes

Sometimes everything is wrong
Now it’s time to sing along
When your day is night alone … hold on
If you feel like letting go … hold on
When you think you’ve had too much of this life, well hang on

Everybody hurts
Take comfort in your friends
Everybody hurts
Don’t throw your hand. Oh no
Don’t throw your hand
If you feel like you’re alone, no, no, no, you are not alone

Everybody hurts
You are not alone

(R.E.M – Everybody Hurts)

Everybody hurts, kan? Aku, kamu, dia, dan dia …

Anak Baru Euy …

December 12th, 2011 § Leave a Comment

Jadi, tepat 2 bulan saya bersenang-senang tanpa pekerjaan. Terhitung resign dari kantor lama tanggal 5 Oktober 2011 dan hari pertama kerja di kantor baru tanggal 5 Desember 2011.

Sempat bad mood juga seminggu sebelum masuk kerja lagi. Tidak se-excited dulu ketika baru lulus dan pertama kali kerja. Yang langsung terbayang adalah rutinitas 8.30 to 16.30, duduk di depan monitor komputer selama 8 jam, berkutat dengan dokumen-dokumen, atau laporan-laporan … yah semacam itu lah. Setelah 2 bulan nganggur ternyata mental saya masih lembek kayak tempe belum jadi … astaghfirullah …

Tapi, saya meyakini betul bahwa apa yang akan terjadi pada diri saya tidak akan jauh dari persangkaan saya. Seandainya di awal saya sudah membayangkan hal-hal tidak menyenangkan di kantor, bagaimana nanti saya akan merasa nyaman bekerja? Karena apa yang saya lakukan dan pikirkan hanya untuk membuktikan bahwa ekspektasi saya itu benar. Allah sesuai dengan persangkaan hambaNya kan? Ya semacam itu kali ya.

H-1 masih sempat belanja sampai sore di ITC Kuningan Ambas, sekedar mencari pakaian kerja dan membangkitkan mood. Omigooot, kalau setiap bad mood saya harus belanja, boros amat ya, untungnya saya sudah bisa memperkirakan kapan saya bad mood, biasanya seminggu sebelum dtg bln (disingkat aja :p), dan itu berlangsung sampai hari pertama dtg bln. Belum lagi bad mood pada situasi-situasi tertentu di luar itu :p

Back to topic …
Jadi, kantor baru saya ini agak jauh dari ‘peradaban’ sebenarnya. Keluar Kota Jakarta ke arah barat, melintasi tugu batas provinsi DKI Jakarta-Banten, sampai ketemu gerbang Selamat Datang di Bandara Soekarno Hatta.

Kerja apa sih? Pramugari? Maunya sih … padahal tinggi cukup, wajah juga ga jelek-jelek amat, yang jelek itu ya si Amat :p, minimal kalo gw senyum ada yang ngelirik, entah karena senyum gw yang manis, atau gw dikira orang gila.
Tapi sayangnya kemampuan bahasa asing saya kurang. Kalopun nanti jadi pramugari bisa dipastikan saya hanya akan terbang untuk rute Jakarta-Bandung dengan bahasa pengantar Indonesia-Sunda. Maka, saya putuskan untuk tidak jadi pramugari.

Intinya, saya sudah bekerja dan pekerjaan ini menyisakan waktu bagi saya untuk mengerjakan hal-hal lain. Berangkat dari kost jam 6.15an, dan sampai di kost jam 17.45 sebelum maghrib. Masih sempat masak sendiri untuk makan malam, baca buku, main-main sama kucing tak bernama yang tiap hari nongkrong di depan kamar, dan ngemall atau belanja … Ya ampuuun ujung-ujungnya kok belanja.

Pekerjaannya sendiri tidak begitu relevan dengan pengalaman hampir 3 tahun di KAP sebenarnya, saya berhadapan dengan makhluk bernama SAP, ngutak ngatik ini itu, benerin error sana sini, dan tadaaa … bingung deh. Baiklah tak apa saya belajar dari nol.

Ibu Senior Manager saya sempat ngasih bayangan seperti apa pekerjaan saya nanti di bagian yang dibawahinya, “Sebenarnya pekerjaannya tidak terlalu akuntansi, kalo dipresentasiin mungkin akuntansinya cuma 20%, yang 80%nya itu yang perlu kamu pelajari” … glek!! Oke, hari pertama saya jadi kayak orang linglung.

Pekerjaan yang akan saya kerjakan nanti adalah konsekuensi dari pilihan yang sudah saya ambil, mungkin juga yang terbaik yang Allah kasih buat saya, seandainya pun nanti pekerjaannya tidak sesuai dengan ekspektasi semula, tapi siapa tahu ada keinginan saya yang lain yang bisa terwujud dengan bekerja disini. Keliling Indonesia atau bahkan dunia, mungkin? :)
Jadiii … tetap semangat dan berpikir positif.

#perjalananpulangMASIHjam16.56WIB(waktuindonesiabis)

[Buku] Mestakung

November 28th, 2011 § 2 Comments

image

Prof Yohanes Surya percaya bahwa pada suatu saat nanti akan ada peraih Nobel Fisika dari Indonesia. Beliau menargetkan Indonesia akan meraih Nobel Fisika pada tahun 2020. Target yang terukur oleh bilangan tahun itu menempatkannya pada kondisi KRITIS yang mendorongnya untuk melakukan LANGKAH-LANGKAH pencapaian, diiringi dengan keTEKUNan. Ketiga hal itulah, kritis, langkah, dan tekun, yang disingkat Prof Yo menjadi KRILANGKUN, yang dapat merangsang terjadinya MESTAKUNG. Semesta Mendukung.

Mestakung dimulai dengan mimpi,maka bermimpilah setinggi-tingginya. Mimpi akan menciptakan kondisi-kondisi kritis, dan semesta akan mendukung kita melewati kondisi-kondisi kritis ini. Ketika berada dalam kondisi kritis, ingatlah hukum pertama dari Tiga Hukum Mestakung, yaitu Hukum Kritis yang berbunyi “Dalam setiap kondisi kritis ada jalan keluar”.

Tuhan sudah menciptakan jalan keluar untuk setiap masalah, kita tinggal mencarinya saja. Bagaimana mencarinya? Yaitu dengan Hukum Mestakung yang berikutnya, Hukum Langkah yang berbunyi, “Ketika kita melangkah, terlihatlah jalan keluar”. Ketika kita melangkah, semesta akan bereaksi dan mengatur diri untuk membantu kita keluar dari masalah kita.

Ketika kita mulai melihat jalan keluar, maka ingat Hukum Tekun “Ketika kita melangkah dengan tekun, terjadilah mestakung”. Ketika semesta mendukung terjadilah pelipatgandaan hasil. Alam mengatur diri membuat apa yang tidak mungkin menjadi mungkin.

Konsep yang ‘sederhana’ bukan? Banyak buku bahkan novel yang membahasnya dengan cara berbeda, banyak trainer dan motivator yang menyampaikannya, banyak orang memahami kekuatan impian yang tertanam dalam alam bawah sadar. Yang kita butuhkan, ‘hanya’ satu langkah kecil yang mengawali langkah-langkah berikutnya. Lalu, berapa banyak orang yang sudah berani memulai langkah pertama itu? Saya … masih melangkah setengah-setengah :(

Secara spesifik buku ini sebenarnya menceritakan mestakung yang terjadi pada Prof Yo dan timnya selama membina anak-anak muda berbakat untuk mengikuti Olimpiade Fisika Internasional. Prof Yo, yang telah memiliki greencard untuk bisa tinggal dan bekerja di Amerika Serikat, memutuskan kembali ke Indonesia pada tahun 1992 dan mempersiapkan anak-anak Indonesia untuk mengikuti Olimpiade Fisika Internasional. Hasilnya terlihat, dengan kerja keras, sejak 1993 hingga 2006 (ketika buku ini pertama kali diterbitkan) siswa-siswa binaannya berhasil meraih 54 medali emas, 33 medali perak, dan 42 medali perunggu dalam berbagai kompetisi fisika internasional. Wow!

Nobel Fisika yang ditargetkannya diraih orang Indonesia pada 2020 diyakininya merupakan suatu cara untuk membuat Indonesia dipandang oleh dunia sebagai kawasan yang potensial dalam penelitian dan pengembangan teknologi. Sekaligus membuat Indonesia dapat mengejar ketertinggalannya dalam hal teknologi dari negara-negara maju.

Buku ini tentang fisika, konsep mestakung itu sendiri awalnya dari fisika seperti yang dijelaskan pada Bab 1 buku ini, tapi tentu saja konsep mestakung berlaku diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan kita kan?

Informasi buku:
Judul: MESTAKUNG, Rahasia Sukses Meraih Impian
Penulis: Prof. Yohanes Surya, Ph.D
Penerbit: Kaifa
Cetakan: I, September 2011 (edisi revisi)
Tebal: 201 halaman, dari halaman muka sampai lembar terakhir
Rate: 4 bintang

Pengangguran Banyak Acara

November 19th, 2011 § 11 Comments

Jangan berpikir kalau jobless itu menyedihkan. Tidak! Itu sama sekali tidak berlaku. Okay … setidaknya bagi saya.

Saya tidak akan menyamakan semua yang nganggur itu seperti saya. Kondisinya pasti beda-beda kan? Dalam kasus saya, saya nganggur dengan adanya jaminan pekerjaan beberapa minggu mendatang, dan yang lebih penting lagi saya masih punya tabungan. Hehe. Kenapa duit jadi penting? Karena jadi lebih banyak alternatif kegiatan yang bisa dilakukan. Walaupun ketidakadaan uang seharusnya tidak menghambat kreativitas. Tetap banyak yang bisa dilakukan kok ;)

Well, jadi, hampir dua bulan saya nganggur. Memang masih banyak hari-hari yang saya isi dengan kurang produktif, terutama kalo di rumah. Bangun waktu subuh, tidur lagi, lalu bangun ketika semua orang udah keluar rumah dengan aktivitasnya masing-masing. Setelah makan pagi lalu terkantuk-kantuk di depan TV, dipastikan saya tertidur lagi sampai siang. Terlalu banyak tidur mengakibatkan semakin malas juga untuk melakukan kegiatan.

Di Jakarta ada lebih banyak kegiatan yang bisa saya lakukan, walaupun ada hari-hari yang saya habiskan di kost sama halnya seperti di rumah, apalagi kalau persediaan makanan di kost cukup untuk seharian. Tapi, yang paling menyenangkan adalah saya bisa melalukan kegiatan yang tidak bisa saya lakukan seandainya saya bekerja.

Pagi-pagi saya bisa ke pasar, lalu masak.
Siangnya saya bisa ke toko buku seharian, favorit saya masih Gramedia Matraman.
Atau saya baca buku di kost, dan menulis review-nya di blog.
Di hari yang lain, saya bisa ikut sekolah pasar modal dan seminar ekonomi syariah di BEI. Gratis, dapat sertifikat, makan siang, dan ilmu ;).
Saya bisa seharian penuh nengok new baby born-nya sahabat saya, dan mendapat banyak ilmu dengan mendengarkan obrolan orang-orang disana, Alhamdulillah … hikmah silaturahim.
Dapat kesempatan juga nonton Program Harmoni SCTV langsung dari Balai Sarbini, dan melihat artis-artis yang selama ini hanya saya tonton di TV perform langsung di depan mata.
Lalu nonton final badminton Sea Games beregu putri langsung di Istora, walaupun agak kecewa karena kalah.
Baru-baru ini nonton langsung timnas U23 lawan Malaysia di GBK, lagi-lagi kalah, sampai saya berpikir apakah setiap pertandingan yang saya tonton akan kalah? Ah saya kan ga se-sby itu …
Suatu hari yang lain saya ke TIM nonton pertunjukannya Butet Kartaredjasa.
Dua hari kemarin, secara tidak sengaja saya ikut bedah buku Pak Jacob Oetama yang pembahasnya bagus-bagus, termasuk di antara mereka adalah penyusun bukunya. Dihadiri beberapa jurnalis senior, dan budayawan macam Taufik Ismail, pengamat politik, dan pemilik portal berita online.
Dan yang paling tidak sabar saya tunggu adalah book fair minggu depan. Saya bisa kesana tiap hari dan ikut semua kegiatan disana. Hal yang saya impi-impikan sewaktu kerja dulu :D

Saya tidak pernah menyesal sama sekali resign tanpa pekerjaan. Dipikir-pikir, ada perlunya juga kita off sementara dari aktivitas pekerjaan kita dan menikmati semua kegiatan yang kita sukai.
Sekedar untuk me-refresh jiwa kita, merenungkan kembali mimpi-mimpi kita, kemudian menyusun strategi untuk meraihnya.

Hanya yang harus selalu diingat adalah tidak selamanya kita hidup dengan bersenang-senang seperti itu kan?
Yang masih punya tabungan, suatu saat tabungannya akan habis.
Yang tidak punya tabungan pasti terdesak untuk mencari pekerjaan.
Yang berpikir untuk berbisnis sudah harus memikirkan strategi bisnis, dan mulai bergerak.
Yang bekerja kantoran harus menyiapkan mental untuk kembali ke suasana kerja.

Pengangguran hanya status yang berarti ‘tanpa pekerjaan formal’. Tapi, tidak berarti kita tidak produktif dong. Kalau bukan uang yang dihasilkan, setidaknya ilmu dan pengalaman yang bertambah. Lebih baik lagi jika iman ikut menebal. Jangan manjakan tubuh hanya dengan kegiatan yang melemahkan iman dan mental.

Yuk … Semangat beraktivitas! ;)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.