Cara Apapun … Yang Penting LULUS! (bag. 2)

April 19, 2013 § 7 Comments

Lain lagi kejadiannya pada masa-masa ujian nasional di SMA.

Btw, dari SD langsung loncat ke SMA, karena Alhamdulillah di SMP tidak mengalami pengalaman buruk terkait UN, hanya terjadi sedikit anomali di sekolah kami ketika beberapa siswa yang tidak menonjol secara akademis tiba-tiba masuk dalam jajaran siswa dengan NEM 10 besar di angkatan. Positive thinking saja, bahwa banyak faktor berpengaruh pada saat ujian.

Oke, lanjut …

Saya bersekolah di salah satu SMA favorit yang siswa-siswanya berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Tidak heran jika disebut SMA favorit, karena seleksi masuknya pun dilakukan dalam beberapa tahap selama kurun waktu beberapa bulan, dan yang terjaring adalah siswa-siswa yang secara akademik, kesehatan, fisik, dan psikis dalam kondisi baik.

Walaupun begitu, NEM SMP tidak jadi pertimbangan utama untuk masuk ke SMA ini. Bahkan NEM baru diumumkan ketika saya sudah melewati beberapa tahap seleksi sampai tingkat provinsi.

Saya bisa masuk ke sana, semua atas seizin Allah dan restu dari orang tua, kalau dibilang karena saya pintar, sepertinya sih tidak. Saya menilai hampir semua teman-teman saya disana adalah orang dengan kecerdasan di atas rata-rata. Beberapa diantaranya menjadi juara olimpiade tingkat nasional, bahkan pernah mengikuti event dunia. Sementara saya sendiri termasuk yang biasa-biasa saja, apalagi kalau menyangkut pelajaran eksak, padahal di kelas 3 saya masuk kelas IPA.

Beberapa bulan menjelang ujian nasional, tekanan mulai terasa, terutama untuk siswa yang biasa-biasa saja seperti saya. Saat itu, sudah berlaku ujian nasional yang hanya terdiri dari tiga mata pelajaran, yaitu matematika, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris. Sementara subjek di luar itu diujikan di tingkat regional, kota atau provinsi ya? Saya lupa.

Di SMA, kami mengenal Kode Kehormatan Siswa, salah satu poinnya adalah Pantang Menyontek, yang mana hukuman terberat jika melanggar Kode Kehormatan adalah dikeluarkan dari sekolah. Dengan doktrin yang sudah tertanam itu, kami menjalani ujian dengan sangaaaattt tenang, tidak ada bisik-bisik tetangga, apalagi sampai lempar-lemparan kunci jawaban. Jadi, hasil yang didapat bisa dijamin murni hasil kerja siswa yang bersangkutan, ditambah dengan sedikit faktor keberuntungan mungkin ya hehe.

Nah, ada kejadian yang menyesakkan dada pada hari pengumuman nilai ujian nasional. Nilai rata-rata sekolah kami jauh di bawah ekspektasi, dan guru-guru pun akhirnya mengemukakan alasannya. Ketika itu ada ‘kebijakan’ dari pihak provinsi untuk sharing nilai sekolah kami yang rata-ratanya tinggi kepada sekolah-sekolah lain yang rata-ratanya rendah. Jadi, nilai rata-rata provinsi sebenarnya tidak berubah, hanya persentase siswa yang lulus jadi meningkat, karena yang dilakukan ‘hanya’ mengatrol nilai siswa yang rendah, bahkan mungkin tidak masuk standar untuk lulus, dengan bantuan siswa yang nilainya tinggi. Rumornya sih, hal itu terjadi tidak hanya di sekolah kami, dan tidak hanya di provinsi tempat sekolah kami berada. Hah?!?!

Saat itu pihak sekolah menjelaskan sedang memperjuangkan agar kami mendapatkan nilai sebagaimana yang mestinya kami dapatkan. Dan hasilnya terlihat beberapa waktu berikutnya ketika guru akhirnya mengumumkan nilai murni kami tanpa dipotong ini itu. Lonjakan nilainya lumayan juga, dan berarti banget buat saya yang fakir nilai hehe. Bahkan beberapa teman mendapatkan nilai sempurna, alias 10, untuk beberapa mata pelajaran, hal yang tidak terjadi pada pengumuman nilai yang pertama kalinya. Jadi, bisa dibayangkan, berapa total nilai kami yang dikorupsi untuk menyelamatkan siswa-siswa yang tidak berhak menyandang predikat LULUS. Yang lebih khusus lagi, menurut saya mungkin jalan pintas itu dilakukan untuk menyelamatkan wajah sistem pendidikan yang carut marut dan evaluasi hasil belajar yang terbukti tidak efektif.

Ah ya, jadi … apa itu sekolah? Dan apa gunanya ujian?

Cara Apapun … Yang Penting LULUS!

April 15, 2013 § Leave a Comment

Ujian nasional itu masalah! Bahkan saya rasakan masalah itu ada sejak pertama kali mengikuti ujian nasional pada akhir kelas 6 SD, waktu itu namanya masih EBTANAS. Saya merasa amat sangat kecewa saat itu, kekecewaan yang mungkin tidak akan benar-benar hilang sampai sekarang, walaupun kejadiannya sudah berlalu 15 tahun yang lalu.

Di sekolah dasar, saya termasuk siswa berprestasi. Dari kelas 1 hingga kelas 6 tidak pernah absen dari rangking 1. Prinsip yang saya pegang dari dulu adalah tidak menyontek. Alasannya sederhana saja, karena saya tidak suka dicontek, maka saya pun tidak mau menyontek. Toh dengan tidak menyontek pun nilai saya seringkali jauh meninggalkan teman-teman saya, maka tidak heran saya memasang target tinggi ketika ujian nasional menjelang, tidak sekedar lulus, tapi juga dengan nilai rata-rata yang tinggi, karena saya juga bercita-cita melanjutkan ke SMP favorit di kota yang passing grade-nya cukup tinggi.

Saya makin percaya diri karena pada saat Pra Ebtanas saya memperoleh NEM bayangan tertinggi dengan nilai rata-rata hampir 9. Saya semakin memupuk mimpi saya masuk SMP favorit dengan tetap fokus mempersiapkan diri menghadapi ujian.

Sampai tibalah saatnya hari pertama Ebtanas. Saat dimana saya merasa percaya diri saya jatuh sejatuh-jatuhnya, mental saya tempe setempe-tempenya. Semua ‘berkat’ guru saya.

Demi Allah, sebenarnya saya tidak sampai hati mengatakan guru saya sendiri lah yang menghancurkan mental kami pada saat ujian nasional itu, seolah-olah tidak ada sedikit pun jasa beliau untuk kami, tapi sampai sekarang saya menyesalkan bagaimana guru kami menghalalkan cara yang tidak baik hanya agar kami semua lulus.

Ujian hari pertama dibuka dengan tenang oleh guru pengawas dari sekolah lain, sebelumnya guru kami masuk, memberikan sedikit wejangan, dan yang saya heran saat itu beliau berkata dengan suara yang agak lirih, “Kalau nanti ada yang memberi tahu jawaban, jangan langsung percaya ya, belum tentu semuanya benar, harus diperiksa lagi”. Saya tidak mengerti kenapa guru kami mengatakan hal itu, sampai saat ujian berlangsung. Belum lama kami mengerjakan soal, guru pengawas keluar kelas sebentar dan masuk kembali membawa selembar jawaban, kami semua diminta berhenti mengerjakan soal, dan mencatat jawaban soal pilihan ganda yang akan dia bacakan.

Tidak semua jawaban diberikan memang. Mungkin setengah dari seluruh soal pilihan ganda, tapi sebelum memindahkan jawaban dari kertas biasa ke lembar jawaban, dalam ingatan saya kembali terngiang apa yang dikatakan guru saya, “Jangan langsung percaya, belum tentu benar”. Alih-alih sekedar memindahkan jawaban yang sudah ada ke lembar jawaban, saya lebih berfokus mempertimbangkan apakah jawaban yang dibacakan oleh guru pengawas itu benar atau tidak. Dalam pikiran saya yang masih polos saat itu, guru pengawas kan dari sekolah lain, mana mungkin dia dengan berbaik hati mau membantu kami yang bukan anak didiknya. Maka saya banyak mengubah jawaban dari jawaban yang dibacakan guru pengawas. Jelas gara-gara itu konsentrasi saya berantakan.

Pada hari berikutnya, dan hari berikutnya sampai ujian hari terakhir, kejadian yang sama terulang kembali. Guru pengawas masuk dan membacakan sebagian jawaban ujian.
Hasilnya … pada pengumuman kelulusan dan NEM, NEM saya anjlok cukup jauh di bawah NEM Pra Ebtanas saya, padahal saya merasa soal Ebtanas tidak jauh berbeda tingkat kesulitannya dengan soal Pra Ebtanas. Yang lebih mengecewakan, bahkan saya tidak mendapat NEM tertinggi di kelas, terkalahkan oleh teman saya, yang memang pintar, tapi saya merasa dalam kegiatan belajar sehari-hari dia masih di belakang saya. Jauh lebih mengecewakan lagi karena NEM saya tidak cukup besar untuk menembus SMP favorit di kota.

Sangat kecewa saat itu, pada diri saya sendiri, pada guru-guru saya, pada ujian nasional yang memaksa guru-guru kami melakukan apapun, menghalalkan segala cara demi meluluskan murid-muridnya.

Sejak saat itu, walaupun tidak tahu bagaimana mengungkapkannya, tapi dalam memori saya, ujian nasional itu hanya omong kosong. Suatu sistem yang gagal dan tidak bisa dipakai sebagai satu-satunya penentu kelulusan siswa. Hanya formalitas dan hasil akhirnya tidak bisa dijadikan patokan sebagai hasil murni prestasi siswa.

Ketika sampai sekarang setiap tahun selalu saja muncul masalah dalam pelaksanaan ujian nasional, saya bertambah yakin, sudah seharusnya jajaran pemerintah berwenang memikirkan lagi apakah ujian nasional masih perlu untuk diselenggarakan. Karena ukuran keberhasilannya pun dikaitkan dengan keberhasilan sistem pendidikan nasional menurut saya tidak jelas. Apa indikatornya kalau penyelenggaraan ujian ini berhasil? Apakah dinilai dari persentase kelulusan yang terus meningkat dari tahun ke tahun, sementara nilai minimal lulus terus dinaikkan? Nyatanya, sekarang yang terjadi adalah guru maupun siswa mencari berbagai macam cara, baik atau buruk, agar bisa lulus. Tapi semoga itu hanya prasangka buruk saya, semoga tidak benar-benar terjadi ya saat ini.

Kekecewaan saya tidak berhenti pada ujian nasional kelulusan SD. Di SMA kekecewaan terkait pelaksanaan ujian nasional pun terjadi lagi.

- nyambung yaa -

Kok Gak Keliatan?

April 12, 2013 § 1 Comment

Ini cerita tentang hamil saya yang kata beberapa orang, “Kok gak keliatan?”

‘Gak keliatan’ disini, bisa berarti dua hal.
Yang pertama, ada beberapa orang yang melihat perut saya tidak sebesar perut orang hamil dengan usia kehamilan yang sama.
Yang kedua, ‘gak keliatan’ is ‘gak keliatan’. Ada beberapa orang yang bahkan gak ngeh kalau saya hamil. Hehh???

Sebagai info saja, bahwa sampai tulisan ini dibuat usia kehamilan saya sudah 30 minggu plus 3 hari, kalau dihitung bulan berarti sama dengan 7,5 bulan, alias hampir 8 bulan. Tapi kan usia kehamilan tidak bisa disamakan dengan usia bayi dalam kandungan, karena usia kehamilan dihitung dari Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT). Jadi kalau untuk mengetahui usia kandungan sebenarnya, biasanya saya menambahkan dua minggu dari HPHT, artinya kandungan saya kira-kira sekarang ini menginjak 7 bulan, masuk trimester ketiga, yang mana semestinya perut sudah membulat sebesar bola basket hehe, tapi biasanya orang-orang sudah ngeh sama bumil yang masuk trimester kedua kok.

Lain kejadian dengan saya. Bahkan sampai usia sekitaran +/- 7 bulan, masih ada aja yang ga ngeh kalo saya hamil. Hehehehe …

Contohnya:

Sekitar kurang dari sebulan yang lalu, Mbak yang satu bus jemputan dengan saya menyapa saya di kantin, “Mbak lagi hamil, ya?”
Teman saya yang lain menimpali, “Ya ampun Mbaak, masa tiap hari se-bus ga tau?”
Saya cuma cengengesan.

Kemudian beberapa hari yang lalu, selepas jam kantor saya jalan bersisian dengan seorang Mbak menuju parkiran bus jemputan. Saya curiganya si Mbak ini baru tahu saya hamil, karena baru seminggu terakhir ini dia manggil saya “Bumil”, padahal kami cukup sering berpapasan, saling menyapa, atau bertemu di pengajian mingguan yang diadakan forum kajian Muslimah disini, “Iiih … bumil … udah berapa bulan sih?”
“Sekarang 7 bulan.”
“Hahh! Serius?? Kok keciilll???”
Saya cuma cengengesan.

Beberapa hari yang lalu juga, ketika bertemu segerombol Ibu-Ibu satu unit tapi ngantor di gedung berbeda, salah seorang diantaranya bertanya sambil ngelus-ngelus perut saya, “Berapa bulan sih ini?”
“Tujuh Bu”
“Tujuh bulan segini mah kecill, dulu saya hamil tujuh bulan udah gede banget, jalan udah ngangkang-ngangkang”, Ibu yang lain menimpali.
Saya cuma cengengesan.

Dan yang paling cetar membahana adalah kejadian beberapa hari lalu. Waktu saya ke toilet dan bertemu Mbak Cleaning Service, sempatlah kami berbincang sebentar, topiknya waktu itu Family Gathering di Dufan yang diadakan tanggal 6 April 2013 yang lalu.
“Ikut ke Dufan, Mbak?”, tanya saya.
“OB–OB disini gak ada yang daftarin Mbak, jadinya kita pada gak dapet tiket kesana. Mbak berangkat ya Mbak?”, jawabnya, sambil tangannya tetap sibuk mengepel lantai toilet.
“Iya, Mbak”
“Sama siapa? Mbak-nya enak ya masih single, bisa puas-puasin tuh Mbak maen disana”
Saya ternganga sejenak, “Lho Mbak, saya udah nikah lho, lagi hamil malah”
“Hah?? Oh ya??? Ya ampun Mbak, selama ini kirain belum nikah … Ya Allah … udah hamil juga tho?? Udah berapa bulan?”
Saya nggubrak?!*&%

Nah begitulah kira-kira beberapa kejadian tentang hamil saya yang, katanya, gak keliatan.

Sebenarnya saya sih merasa perut saya seperti orang hamil 7 bulan pada umumnya. Hanya setelah dianalisis, ada beberapa hal yang mungkin membuat perut saya tidak terlalu terlihat:

Pertama, karena saya lebih sering pakai baju yang longgar dengan kerudung panjang menutupi bagian perut. Kalau sekali-sekali saya pakai kaos atau baju yang agak ngepas badan, walaupun kerudung tetap panjang sampai menutupi perut, keliatan besar juga kok perutnya.

Kedua, apa karena saya juga cenderung menutup-nutupi ya? Hihihi. Jangan berpikir saya tidak mensyukuri kehamilan saya yaaa … ngga dong! Ini merupakan anugerah yang amat sangat patut untuk disyukuri. Namun terkadang saya sibuk dengan pikiran orang terhadap saya, apalagi orang-orang di sekeliling kost yang padahal tidak terlalu kenal saya. Kadang merasa aneh sendiri, padahal siapa peduli ya, ada bumil, tinggal sendirian di kost? Suaminya mana??? Nyatanya kalau suami pulang, malah saya senang kalau orang melihat saya sedang hamil :D

Ketiga, mungkin karena saya tinggi. Entahlah, tapi kata beberapa orang, mungkin salah satu alasannya itu. Jadi, dengan ukuran perut yang sama dengan bumil yang sama usia kehamilannya, saya terlihat lebih langsing.

Bagaimana pun teuteup ya yang namanya cewek-cewek, seneng kalau dibilang kurus walaupun lagi hamil. Saya, salah satunya hehe

-edisi curhatan bumil kurus-

Kembali ke Dunia yang Bising

March 14, 2013 § 2 Comments

Sejak kejadian pemerasan handphone hampir 5 bulan yang lalu, saya bertahan dengan satu-satunya handphone yang tersisa, sebuah handphone low end dengan fungsi dasar hanya sms dan telepon. Beberapa fitur hiburan diantaranya hanya games sangat sederhana sekali, radio, serta MP3 player, dimana saya pun sangat jarang bahkan tidak bisa menggunakannya. Radio harus menggunakan headset sebagai antena, sementara headset saya hilang entah dimana, dan untuk menggunakan MP3 player setidaknya saya harus punya memori eksternal cukup untuk menampung beberapa puluh lagu, mengingat memori internal handphone yang sangat tidak memadai, sementara memori eksternal pun saya tak ada. Maka yg saya manfaatkan pada akhirnya cukup … tidak lebih dari … hanya … sms dan telepon … sahaja. Titik.

Otomatis, semua aktivitas online secara mobile terhenti. Dari social media, atau sekedar update-update berita. Saya hanya online di kantor, itu pun kurang lebih hanya satu jam sehari, dan hanya membuka portal berita online atau beberapa situs favorit. Maka selama hampir 5 bulan tersebut seolah-olah terputuslah hubungan saya dengan kehidupan dunia maya.

Satu sisi, saya menjadi tidak tahu berita terbaru dari teman-teman saya, mungkin juga saya melewatkan beberapa pesta pernikahan atau kelahiran anak teman-teman saya, karena sudah tidak jamannya lagi mengabari lewat sms atau telepon, kecuali orang-orang tersebut cukup dekat dengan kita.

Sisi yang lain, ada ketenangan yang saya rasakan. Saya merasa lepas dari kebisingan dunia maya. Tidak terdengar lagi kicauan-kicauan yang kadang memekakkan. Tidak ada lagi ocehan berita pribadi berseliweran. Tidak ada lagi diskusi-diskusi di berbagai forum atau grup yang menyita waktu saking asyiknya.

Bukan saya tidak peduli apalagi asosial, hanya ada saat saya membutuhkan waktu untuk diri sendiri, bercermin hanya pada diri sendiri, dan hal itu tidak akan benar-benar didapat jika kita terus melihat apa yang diperbuat dan dipikirkan orang lain. Ada saatnya saya butuh dunia saya berjalan dalam ritme yang lebih lambat, dan itu tak akan terwujud jika saya terus menerus menerima informasi baru setiap saat, tanpa saya sempat menyaringnya satu per satu, mana yang memang saya butuhkan atau tidak. Dengan rehatnya sementara dari dunia maya, saya bisa memilih dan mencari informasi yang ingin saya tahu saja.

Terhitung sejak 9 Maret lalu, saya kembali ke dunia saya 5 bulan lalu. Berbagai informasi ada dalam genggaman tangan hanya dengan menggerakkan dua jempol di atas papan ketik. Dunia terbuka seluas-luasnya di depan mata. Dalam kaitannya dengan aktivitas di dunia maya, maka sebaiknya saya lebih bijak dengan tindakan, pikiran, dan kata-kata saya. Jika tidak bisa memberikan manfaat bagi orang banyak, maka jangan merugikan, atau lebih baik diam, agar terhindar dari kesia-siaan.

Mari Kita Sarapan dengan Darah dan Air Mata bersama Para Bandit dan Jenazah yang Bergeletakan

March 1, 2013 § Leave a Comment

Jika tujuan Trans7 menayangkan berita-berita kriminal pada jam sarapan pagi adalah untuk mematikan selera makan para penontonnya, maka mereka BERHASIL.

Bagaimana tidak, kalau kejahatan di berita kriminal itu dinarasikan dengan detail sampai para penontonnya bisa memvisualisasikan sendiri adegannya dalam kepala.
Jika itu adalah berita pembunuhan, maka reporter akan menjelaskan, bagaimana cara si korban dibunuh. Jika itu adalah berita pelecehan seksual, reporter akan menerangkan bagaimana si korban dicabuli, si reporter merasa perlu juga untuk menjelaskan dengan detail bagaimana si penjahat memasukkan jarinya ke dalam alat vital korban. Itu berita yang saya saksikan tadi pagi. Jika itu adalah berita kecelakaan, reporter pun akan menjelaskan secara mendetail semengenaskan apa kondisi korban. Untuk menambah dramatis berita, ditayangkan pula kondisi keluarga korban yang histeris.

Untungnya saya tidak sedang sarapan setiap melihat berita pagi itu. Ya, karena saya menontonnya di bus jemputan yang televisinya selalu menyetel Trans7 setiap pagi. Tidak bisa juga dikatakan menonton, karena saya lebih suka mengalihkan perhatian pada kemacetan di luar bus daripada harus menonton berita yang menurut saya tidak ada faedahnya untuk saya. Sesekali saya hanya mendengar ekspresi desisan ngeri dari Ibu di belakang tempat duduk saya.

Lalu apa tujuan dari si penayang berita? Untuk menumbuhkan kewaspadaan diri para penontonnya? Ya mungkin saja, jika jargonnya Bang Napi masih relevan, “Waspadalah … waspadalah … “. Tapi di sisi lain, berita kejahatan yang ditampilkan terlalu sering juga mengurangi kepekaan kita terhadap kejahatan itu sendiri. Kejahatan menjadi terdengar lumrah dan biasa. Itu yang bahaya.

Saya sendiri tidak tahu menahu mengenai undang-undang penyiaran di Indonesia. Dan bagaimana berita-berita kriminal yang diekspos terlalu detail itu dalam pandangan undang-undang penyiaran. Walaupun adegan kejahatan/ kekerasan tidak diperlihatakan dalam suatu siaran, namun narasinya jelas-jelas mengumbar kekerasan. Hal ini diibaratkan seperti iklan rokok yang tidak menayangkan orang merokok tapi dengan detail menjelaskan bagaimana caranya merokok.

Entahlah, tapi berita kejahatan yang ditampilkan, deskripsinya bahkan terdengar sama sadisnya sekalipun dibandingkan dengan film sadis macam “The Raid”. Bahkan mungkin lebih sadis, karena yang terjadi ini adalah NYATA bukan FILM FIKSI.

*** menulis dengan lantunan lagu Sadis dari Afgan sebagai backsound ***

Jakarta! – a novel by Christophe Dorigne-Thomson

January 18, 2013 § Leave a Comment

Jakarta!

Jakarta!

Judul : Jakarta!
Penulis : Christophe Dorigne-Thomson
Penerjemah : Caecilia Krismariana
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan Pertama Oktober 2012

Beberapa jam pada siang hari itu saya berkeliling di Toko Buku Gramedia Jember, mencari buku (apa pun) yang paling ingin saya bawa pulang. Toko buku di salah satu jalan ramai di Kota Jember itu tidak bisa dibilang besar, walaupun terdiri dari tiga lantai, hanya satu lantai yang memajang buku-buku. Saya agak kehabisan pilihan karena sebagian besar novel bergenre itu-itu saja. Dua buku saya baca, bahkan sampai hampir sepertiganya, tapi tidak cukup menggairahkan saya untuk membelinya dan membaca lanjutannya di rumah.

Sampai saat saya memutuskan untuk pulang saja, saya terhenti di salah satu rak buku-buku terbitan baru dan terpaku pada buku berjudul “Jakarta!”. Buku ini menarik pada kesan pertama. Mengapa?

Pertama, karena penulisnya bukan orang Indonesia. Saya selalu tertarik pada pandangan-pandangan orang luar Indonesia yang bercerita tentang Indonesia, entah buruk atau (apalagi) baiknya.

Kedua, saya membuktikan “teori” saya sendiri seperti yang saya tuliskan di post tentang membaca buku, bahwa endorsement dari orang terkenal pada sampul buku bisa mempengaruhi penilaian kita pada suatu buku bahkan sebelum kita membacanya. Di bagian belakang buku ini tertulis beberapa endorsement dari beberapa tokoh terkenal. Sebut saja, Sandiaga S Uno, Anies Baswedan, Irman Gusman, dan Rio Dewanto … tuh kan salah satu aktor favorit saya aja ikutan nongkrong :D. Sementara mengenai isinya, saya hanya membaca paragraf pertama sebelum memutuskan membeli. Sebenarnya saya tidak pernah bisa sepenuhnya menikmati novel-novel terjemahan, tapi saya ‘terpaksa’ membuat pengecualian untuk novel ini karena penasaran dengan isinya.

Jangan berekspektasi bahwa Anda akan menemukan banyak cerita soal Jakarta disini. Dari 17 Bab, hanya dua bab terakhir yang menceritakan dengan sedikit detail tentang Jakarta khususnya, dan Indonesia pada umumnya, setelah pada bab-bab sebelumnya pembaca diajak berkeliling ke berbagai negara di semua benua berkaitan dengan pekerjaan yang dilakukan oleh tokoh utama dalam novel ini, Edwin Marshall.

Kalau begitu, mengapa Jakarta! yang dipilih sebagai judul novelnya? Di halaman paling belakang, penulis menulis seperti ini:

“Sejak pertama kali menginjakkan kaki di Indonesia, saya percaya kepada negeri ini. Saya selalu akan percaya Indonesia memiliki masa depan yang cerah”

Dan itu pula yang dideskripsikan pada dua bab terakhir novel ini. Bagaimana akhirnya si tokoh utama menjadikan Indonesia sebagai negara yang paling ingin ditinggalinya setelah dia berpengalaman berkunjung ke berbagai negara. Dia jatuh cinta pada Indonesia, pada pandangan pertama, pada keramahan dan keunikan penduduknya, serta berbagai potensi yang dimilikinya. Menurutnya penduduk Indonesia kreatif, mampu berpikir out of the box, semua orang di Indonesia melakukan sesuatu yang spesial untuk hidupnya. Semua tentang Indonesia diceritakan dengan optimis, bahkan dia melihat orang dari lapisan paling miskin di Indonesia yang bekerja di jalanan, sebagai populasi yang berkarya dengan solidaritas kokoh. Maka dari itu, Indonesia memiliki potensi untuk menjadi negara adikuasa melihat ukuran negaranya, jumlah dan karakter penduduknya.

Di novel ini, penulis seolah-olah sedang menceritakan dirinya sendiri melalui representasi tokoh utamanya, termasuk latar belakang pendidikannya, dimana tokoh utama novel merupakan lulusan sekolah bisnis terbaik di Prancis, sama halnya dengan penulis, kecuali pekerjaannya, saya yakin Chritophe tidak bekerja seperti Edwin Marshall. Saat ini penulis aktif di berbagai organisasi internasional.

Jadi, apa yang membuatmu tidak optimis pada masa depan Indonesia, sementara seorang warga asing mengangkat nama Jakarta! yang tak pernah bebas macet dan banjir ini dalam novelnya?

***

Sedikit mengomentari sampul bukunya, disana digambarkan sebuah bola dunia yang menunjukkan kepulauan Indonesia diletakkan di atas sebuah kulit durian. Durian adalah buah khas Asia Tenggara, dijuluki sebagai raja buah dan harganya tidak bisa dikatakan murah. Durian tercium dan terasa sangat lezat bagi orang-orang yang menyukainya, termasuk saya, sebaliknya bagi yang tidak menyukainya, baunya saja sudah membuat pusing. Baunya kuat menyengat dan bisa memengaruhi udara di sekelilingnya. Jadi, apa maksudnya Indonesia seperti buah durian?

 

 

J.U.R.N.A.L Review – 2012

January 7, 2013 § 2 Comments

Empat setengah tahun sudah saya nge-blog, sejak saya masih kuliah semester 8 dan kegiatan di kampus hanya bolak balik perpus mencari bahan skripsi. Yaa … itulah salah satu alasan saya membuat blog saat itu, mengatasi jenuh dengan kegiatan yang itu-itu saja selain karena saya tidak ingin membiarkan draft-draft curhatan saya usang di salah satu file folder laptop.

Sejauh ini sih blog ini hanya menjadi sarana saya untuk curhat dan berbagi cerita pribadi saja. Mungkin belum dirasakan manfaatnya untuk orang banyak. Namun yang pasti, blog ini menjadi alasan bagi saya untuk tidak berhenti menulis.

***

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2012 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

4,329 films were submitted to the 2012 Cannes Film Festival. This blog had 14,000 views in 2012. If each view were a film, this blog would power 3 Film Festivals

Click here to see the complete report.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,600 other followers