Angkat Topi, PT KAI!

September 7, 2014 § Leave a comment

Ada kejadian menarik di kereta api ekonomi dari Stasiun Bandung menuju Stasiun Padalarang sore ini. Kereta terakhir menuju Padalarang itu tampak lengang. Biasanya pada jam-jam sibuk, bahkan ibu hamil atau orang tua renta pun tidak kebagian tempat duduk.

Pada saat pemeriksaan tiket, seorang lelaki usia sekitar 30 tahunan yang duduk tak jauh dari saya beralasan, “Kehabisan tiket Pak, tadi naik dari Ciroyom”
“Ah masa kehabisan, keretanya kosong gini, nanti turun di stasiun berikutnya. Masa kehabisan, sih. Tolong nih nanti suruh beli tiket di Stasiun Cimindi”, kata si Bapak Petugas sambil memberi instruksi kepada security.
“Wah… Hebat, tegas”, puji saya dalam hati. Memang ini bukan pertama kalinya saya melihat perubahan besar di PT KAI. Perusahaan negara pimpinan Pak Ignatius Jonan ini berubah pesat dalam kurun kurang dari 5 tahun terakhir.

Lima tahun lalu, saya penumpang setia kereta api Parahyangan jurusan Bandung-Jakarta, tapi pada suatu hari saya kecewa karena kereta terlambat hingga hampir 3 jam. Sejak saat itu rasa-rasanya saya tidak pernah lagi naik kereta dari Bandung ke Jakarta, atau sebaliknya. Namun sesekali saya masih menggunakan kereta api untuk perjalanan rute lain, sehingga merasakan sendiri perubahan apa saja yang terjadi pada pelayanan KAI dalam beberapa tahun terakhir.

Misal, tentang kejadian yang saya ceritakan di atas. Empat tahunan lalu KRD Padalarang-Cicalengka (lewat Stasiun Bandung) PP adalah kereta terkumuh yang pernah saya naiki. Apa sih yang bisa diharapkan dari kereta ekonomi bertarif 1000 rupiah? Pelayanannya waktu itu sangat seadanya. Lantai berdebu, sampah dimana-mana, pedagang asongan datang silih berganti, belum lagi para pengamen dan pengemis dengan berbagai ‘kreativitas’nya. Penumpang yang tidak memiliki tiket pun sangat bebas keluar masuk. Ketika petugas memeriksa tiket, mereka yang tidak punya tiket cukup ‘ngasih tangan’, layaknya kita menolak memberi uang kepada pengemis atau pengamen.

Namun, setelah ditertibkan, stasiun tidak bisa lagi ditembus ‘secara ilegal’. Semua penumpang, tak terkecuali bayi, wajib memiliki tiket. Harga tiketnya hanya naik 500, jadi 1500 sekarang. Pengemis, pengamen, pedagang asongan tidak ada lagi. Bahkan sekarang ada cleaning service yang bertugas di stasiun pemberhentian terakhir. AC sudah terpasang walaupun pada siang hari yang sesak sama sekali tidak terasa dinginnya.

Yang lebih saya salut adalah, perubahan di KAI ini bukan soal merubah suatu perusahaan saja tapi juga merubah pola pikir dan ‘budaya’ masyarakat, para ‘stakeholder’ kereta, tentang bagaimana seharusnya peraturan dipatuhi. Bahwa, masyarakat dari lapisan terbawah pun bisa lebih ‘beradab’ jika peraturan ditegakkan dengan tegas.

Jika saat ini saya masih beberapa kali membaca keluhan tentang kereta api di sosmed, saya kira ada baiknya kita memberi waktu pada KAI untuk melakukan perbaikan sedikit demi sedikit sehingga beberapa tahun kemudian menjadi sarana transportasi yang nyaman untuk semua.

Angkat topi buat Pak Jonan dan PT KAI! Hebat!

Semoga Bapak bisa menyelesaikan tugas di KAI sampai masa jabatan berakhir. Plis atuh lah Pak, di KAI dulu.

Takut Apa?

September 4, 2014 § 2 Comments

Tiga hari yang lalu saya mengantar Akhtar ke dokter. Selama di ruang tunggu Akhtar bermain-main dengan seorang anak perempuan berusia 4 tahun yang menurut saya cerdas, tapi menurut ibunya anak ini ‘susah diatur, tidak bisa dilarang’.

Awalnya anak ini terlihat malu-malu, namun tak lama kemudian ia sudah ikut lari-lari di belakang Akhtar. Naik turun tangga, bahkan selonjoran dan guling-guling di lantai. Sementara ibunya hanya memerhatikan dari kursi tunggu, malah tampak kesal.

Setiap hal kecil ia tanyakan, seperti misal ketika kami berada di dekat lift dia menanyakan gambar-gambar yang tertempel di pintu lift,

“Ini kenapa?” tanyanya sambil menunjuk gambar seorang ibu yang berbaring di ranjang.

“Itu ibunya baru punya dedek”, jawab saya sambil menunjuk gambar ranjang bayi di sebelah ranjang si ibu.

“Kalau ini adiknya kenapa?” tanyanya sambil menunjuk gambar seorang anak kecil di ruang rawat.

“Itu adiknya sakit”, jawab saya.

“Sakit apa?”

“Kenapa sakit?”

Lalu ketika pintu lift terbuka, dia penasaran kenapa tiba-tiba ada orang yang keluar dari balik pintu lift itu.

“Orang itu dari mana?” tanyanya, lalu melangkahkan kaki hendak masuk ke dalam lift.

“Jangan masuk Kakak, nanti kebawa naik, Mamanya nanti bingung nyariin”, larang saya sambil menarik tangannya.

“Naik? Kenapa naik? Naik kemana?”

Pokoknya apapun yang saya katakan selalu menimbulkan pertanyaan baru.

Saya yang saat itu sambil mengawasi Akhtar sempat kewalahan dengan pertanyaan-pertanyaannya yang menuntut untuk dijawab.

Saya membayangkan 2 atau 3 tahun dari sekarang pun mungkin Akhtar punya rasa ingin tahu yang sangat besar seperti anak ini, hmm… siapkah saya?

Tak jauh dari lift, ada tangga menuju ke lantai atas, Akhtar mulai naik-naik, pun anak ini mengikuti sambil terus bertanya ini itu, “Adek mau kemana? Adeknya ga mau diem ya? Adeknya nakal ya?”

Ketika saya membawa Akhtar turun, anak ini bertanya, “Kenapa turun?”

“Takut ah naik-naik”, jawab saya sekenanya.

“Takut apa?”

Takut? Oh ya… takut apa ya? Tetiba saya merasa salah menjawab. Saya sempat tertegun beberapa saat hingga menemukan kalimat yang (mungkin) cocok untuk menjawabnya, “Takut nanti Mama-nya nyariin”

“Hmm… nanti kalau dipanggil dokter gak kedengeran kalau Kakak ke atas”, saya berusaha menerangkan dengan alasan lain.

Diam-diam saya mengambil pelajaran, “Mungkin lain kali saya harus lebih berhati-hati menggunakan kata takut untuk anak, kecuali punya alasan yang rasional”, batin saya.

Hal Kecil Namun Besar

September 2, 2014 § Leave a comment

Kemarin saya mengantar Akhtar ke dokter anak di RSIA di Pasteur, Bandung. Dari Pintu Tol Padalarang, kami naik bus Damri dan berhenti tepat di seberang RS.

Dalam perjalanan di bus, saya melihat seorang ibu menyuapi anaknya makan pisang, kemudian dengan santainya membuang kulit pisang itu di bawah kursinya.

Sering melihat kejadian semacam itu? Atau justru pernah melakukannya sendiri? Ya, saya pernah sering melakukannya, sudah lama sekali sejak saya melakukannya terakhir kali.

Bisikan dalam pikiran, “Ah biar saja nanti juga ada yang bersihkan” membuat saya melakukannya dengan santai saat itu, tanpa merasa bersalah sedikit pun.

Di Indonesia situasi seperti itu tidak hanya terjadi di kendaraan umum. Dimanapun di tempat umum sering sekali saya melihat orang melempar sampah seenaknya, bahkan jika itu hanya sebuah bungkus permen atau puntung rokok yang tidak lebih dari 2 cm. Seolah-olah negeri ini adalah sebuah tong sampah raksasa dengan rakyat yang melakukan gerakan buang sampah secara masif dan terstruktur.

“Ah cuma bungkus permen ini”, atau

“Kan ada petugas kebersihan, nanti juga dibersihkan”, atau

“Kalau ngga ada petugas kebersihan, paling nanti dipungut sama pemulung”, atau

“Sekali-sekali gapapa lah”

Bayangkan, jika pikiran seperti itu terlintas di kepala jutaan orang di luar sana, termasuk di kepala kita sendiri, akan berapa banyak sampah yang tercecer?

Dan ketika hujan turun, lalu sungai meluap karena sampah, sebagian dari jutaan orang itu mungkin hanya akan menatap prihatin penderitaan para korban banjir di layar kaca, “Kasihan!”. Sebagian yang lain mungkin hanya akan menggerutu, “Makanya, buang sampah tuh jangan sembarangan dong!”. Sebagian yang lainnya lagi tiba-tiba menjadi kritis, dengan menyalahkan para penebang pohon di hulu sungai, atau para developer yang membangun perumahan di dataran tinggi, atau pemerintah yang memberi izin kepada pihak-pihak itu.

Lalu, kita salah apa? “Ya, ngga salah dong, yang salah kan mereka, mereka, dan mereka.”

Para penebang pohon itu, para developer itu, atau para pembuang sampah sembarangan ke sungai itu mungkin sudah di luar kontrol kita untuk mencegahnya. Tapi setidaknya kita memiliki kemampuan untuk mengontrol diri sendiri agar tidak membuang sampah sembarangan, sekecil apapun itu.

Apa arti secuil sampah kecil untuk mencegah banjir? Ber-husnudzan saja, di luar sana, di kepala jutaan orang di Indonesia juga mungkin terlintas pikiran yang sama untuk mengurangi beban bumi menampung sampah yang tidak pada tempatnya.

Kalau kata Aa Gym mah, mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil, mulai saat ini. Betul tidak teman-teman? #aagymmode:on

Kalau kata Pak Prabowo mah, kalau bukan kita, siapa lagi, kalau bukan sekarang, kapan lagi.

Kalau kata Pak Jokowi mah, revolusi mental euy revolusi mental. :P

— end —

Menikmati Masa yang Akan Dirindukan

September 1, 2014 § Leave a comment

Akhtar tidak punya banyak mainan di rumah, hanya ada satu kardus ukuran sedang berisi mainan, itu pun lebih banyak mainannya waktu masih bayi. Akhirnya ia lebih suka mengeksplorasi seisi rumah dan memainkan apapun yang menarik baginya daripada memainkan mainannya. Saya membiarkannya, selama tidak membahayakan.

Sering kali saya terkagum-kagum dengan ‘kreativitas’-nya bermain, namun di kala lain saya banyak-banyak beristighfar mengurut dada agar sabar mendapati rumah yang berantakan.

Suatu saat ketika bermain dengan Akhtar, saya tiba-tiba teringat sebuah video pendek yang menceritakan seorang ayah dan anaknya.

Diceritakan, mereka berdua sedang duduk di taman. Si anak yang telah dewasa sedang membaca koran, sementara sang ayah yang sudah renta hanya duduk memerhatikan seekor burung gereja.
Lalu si ayah bertanya, “Burung apa itu?”. Anaknya melihat burung itu sekilas lalu menjawab, “Burung gereja”. Tak lama kemudian si ayah kembali bertanya “Burung apa itu?”. Agak kesal si anak menjawab “Burung gereja”. Lalu si ayah mengajukan lagi pertanyaan yang sama berulang kali, pada akhirnya si anak marah dan membentak ayahnya.

Si ayah lalu beranjak pergi, tak lama kemudian kembali membawa sebuah buku dan menyuruh anaknya membaca halaman tertentu.

Di buku itu tertulis cerita si ayah ketika si anak masih kecil. Si anak baru pertama kali melihat burung gereja dan bertanya berulang kali, “Ayah burung apa itu?”. Ayahnya menjawabnya berulang kali dan memeluk anaknya setiap kali mengajukan pertanyaan yang sama itu.

Endingnya mengharukan, rasanya saat itu juga ingin pulang dan memeluk kedua orangtua saya.

Saya pertama kali melihat video itu sebelum punya anak. Kini, setelah punya anak yang mulai aktif bermain saya jadi paham apa yang dikatakan si ayah dalam buku hariannya itu.

Anak seusia Akhtar sangat senang melakukan hal ‘sederhana’ yang sama berulang-ulang. Dan saya pun harus membantunya berulang-ulang. Bisa satu, dua, tiga, bahkan sepuluh kali atau lebih. Satu, dua, tiga kali saya akan memeluknya bangga dan memujinya, “Hebat!”. Pada hitungan berikutnya, saya lebih banyak harus bersabar menunggui Akhtar bermain tanpa mau ditinggalkan.

Contoh kecilnya, Akhtar sangat suka menutup jendela dari dalam rumah, dan saya harus membukanya kembali agar ia bisa menutupnya lagi, lagi dan lagi dan lagi dan lagi. Sederhana kan? Tapi untuk permainan sesederhana itu saya harus menunda pekerjaan lain.

Contoh lain, Akhtar sangat suka menutup laci-laci plastik berulang kali, memutar tombol mesin cuci berulang kali, menutup topless berulang kali, dan banyak hal lain berulang kali. Saya? Mau tak mau harus duduk sabar mendampingi Akhtar sambil mengerjakan hal-hal yang sebaliknya.

Tapi… setiap detik momen itu sangat layak untuk dinikmati. Bertahun-tahun dari sekarang, saat-saat ‘membosankan’ itu akan menjadi saat-saat yang sangat dirindukan, kenangan yang tidak bisa diputar kembali, kecuali melalui video atau foto-foto, itu pun kalau sempat diabadikan. Jangankan bertahun-tahun yang akan datang, sekarang pun saya sering memutar video Akhtar yang masih bayi tanpa bosan, berulang kali.

Jadi, nikmati saja. Memang masanya :)

Pelajaran dari Masa Kecil

August 30, 2014 § Leave a comment

Banyak buku parenting dan psikologi anak beredar di pasaran. Satu atau dua-nya pernah saya baca.

Beberapa bahasan kadang hanya saya baca selewat lalu, sehingga ketika sampai pada halaman terakhir, apa yang sudah dibaca di halaman-halaman sebelumnya seperti menguap begitu saja.

Sebenarnya akan lebih mudah diingat jika kita mengaitkan bahasan di buku tersebut dengan kejadian yang pernah kita alami di masa kecil.

Jika ditelusuri, kita pun sangat mungkin menemukan benang merah antara karakter dan sifat kita saat ini dengan cara orangtua mendidik kita di masa kecil.

Ada beberapa kejadian spesifik di masa lalu yang saya ingat hingga saat ini. Kejadian-kejadian ini saya simpulkan sebagai ‘kesalahan’ komunikasi orang-orang dewasa kepada anak-anak.

Peribahasa “Pengalaman adalah guru yang terbaik” menjadi relevan dikaitkan dengan tulisan ini. Kejadian-kejadian itu menjadi sedikit bekal bagi saya untuk belajar berkomunikasi yang baik dengan anak-anak.

Kejadian 1

Waktu itu mungkin saya masih TK atau SD kelas 1 (lupa…). Mamah tidak shalat karena sedang menstruasi, sementara saya tidak pernah melihat Bapa tidak shalat karena alasan yang sama.
Lalu saya bertanya, “Laki-laki mensnya kapan?”
Sambil lalu Mamah menjawab, “Kalau laki-laki mah mencret.”
Saya menganggap jawaban itu sebagai kebenaran dan menyimpannya dalam memori selama bertahun-tahun.

Benar, anak-anak itu sangat polos. Daripada becanda dengan menyampaikan fakta yang tidak benar lebih baik memberi penjelasan ringan yang bisa dipahami.

Kejadian 2

Waktu itu masih usia SD atau TK (lupa…). Di rumah seorang saudara orang-orang sedang riweuh menyiapkan masakan untuk acara hajatan. Saya dan sepupu-sepupu bermain-main dengan ceria. Karena orang dewasa merasa terganggu, saya yang menaiki sandaran sofa ditegur, “Ngga ah ngga lucu… Ngga lucu…” dengan intonasi yang terdengar pura-pura marah.
Seketika saya terdiam, sakit hati dan ingin menangis.
Seharusnya ada cara lain untuk menegur kan? Saya merasa kata “Ngga lucu… Ngga lucu…” itu lumayan mematahkan kreativitas dalam bermain.

Kejadian 3

Waktu itu seseorang pernah bertanya, “Cita-citanya mau jadi apa?”
Saya jawab, “Guru TK”
Si penanya malah mempertanyakan, tanpa memberi saya kesempatan menjelaskan, “Kok cuma guru TK? Yang lain dong”. Padahal maksud saya adalah saya mengajar di TK yang saya dirikan sendiri. Sejak saat itu saya tidak pernah lagi menyebut guru TK sebagai cita-cita, walaupun dalam hati terbayang-bayang memiliki TK sendiri, dengan banyak mainan disana-sini.

Jadi… jangan mematahkan cita-cita anak. Seringkali anak-anak hanya butuh didengarkan. Akan lebih baik jika si penanya bertanya, “Mengapa ingin jadi guru TK?”. Ya kan?

Kejadian 4

Waktu itu malam hari, listrik di rumah sedang mati. Saya, kakak, adik, dan Mamah berkumpul di ruang tengah sambil bercerita-cerita. Ngobrol-ngobrol-ngobrol, lalu saya berimajinasi pergi ke kota sendirian naik kendaraan umum. Waktu tempuh ke Kota dari tempat tinggal kami waktu itu sekitar 1 jam. Cukup jauh untuk seorang anak kelas 1 SD bepergian sendiri, walaupun hanya dalam imajinasi.
Alih-alih mendukung, Mamah menakut-nakuti tentang tersesat di kota, ngga bisa pulang, lalu menggelandang jadi anak jalanan.
Semalaman itu saya jadi sulit tertidur, bahkan rewel dan menangis karena membayangkan jadi gelandangan.

Seperti anak-anak lain pada umumnya, masa kecil saya pun diwarnai berbagai imajinasi. Kadang orang dewasa lupa pernah jadi anak kecil yang suka berimajinasi juga, sehingga secara tak sadar mematahkan imajinasi anak-anak karena menganggapnya mustahil.

Kejadian 5

Waktu itu mungkin saya masih kelas 3 atau 4 SD, adik saya masih TK.
Sore itu saya mengajak adik ikut ke rumah guru untuk mengerjakan PR.
Kebetulan guru itu punya anak batita. Di ruang depan rumah guru terpajang sebuah wayang. Adik mengubah-ubah suaranya lalu mengajak ngobrol si anak guru dengan memainkan wayang itu.
Adik beberapa kali mengucapkan kata ‘silaing’, dalam bahasa Indonesia artinya ‘kamu’, yang sering dia dengar dari dalang sungguhan jika sedang memainkan wayang. Dan si guru serta merta menegur, “Jangan bicara kasar ya, nanti diikutin sama adiknya”
Adik saya tampak tidak enak hati, lalu tiba-tiba terdiam sampai waktu pulang.
Saya sebagai kakaknya sebenarnya tersinggung, karena saya tahu betul adik saya tidak pernah berkata kasar di rumah. Lagipula dia menggunakan kata yang dianggap kasar itu karena dia sedang bermain peran sebagai wayang.
Saya merasa seharusnya sebagai guru, si ibu guru tersebut punya cara yang lebih baik untuk menegur adik saya.

Kejadian 6

Saya agak lupa kejadiannya saat pelajaran agama di sekolah atau saat mengaji sore di masjid dekat rumah. Yang saya ingat waktu itu guru sedang menjelaskan shalat 5 waktu. Hanya saja saya merasa beliau memilih kata-kata yang tidak tepat dengan mengatakan (kurang lebih) begini, “Kalau belum bisa mengerjakan 5 waktu, kerjakan 3 waktu aja udah bagus”.
Saya menangkap itu sebagai ‘keringanan’, bahwa shalat 3 waktu sudah cukup. Itu pun yang menjadi excuse bagi saya ketika dulu sering belang betong shalatnya.

Apa jadinya kalau sampai sekarang saya nggak dapat pencerahan? Bisa-bisa saya dikira sesat… ckckck…

Kejadian 7

Waktu kelas 1 atau kelas 2 SD saya dan beberapa teman pernah kabur dari kelas karena melihat mobil puskesmas masuk halaman parkir sekolah. Kami takut karena takut disuntik.

Usia sebelum TK, mungkin masih 3 tahun, saya sangat ketakutan setiap pergi ke rumah seorang saudara karena harus melewati komplek tentara yang ada pos jaganya dengan sejumlah tentara berjaga-jaga sambil menenteng senjata.
Saya sembunyi di balik punggung Mamah karena takut ditembak.

dst… dst…

Familiar dengan situasi seperti itu? Sudah saatnya anak sekarang tidak ditakut-takuti dengan sosok dokter, tentara, polisi, hantu, bahkan orang gila.

Kejadian-kejadian lain … hmm … Nanti saya ingat-ingat lagi.

Teringat salah satu renungan di sebuah buku parenting, bahwa anak-anak kita akan hidup pada jaman yang berbeda dengan kita, maka didiklah anak sesuai jamannya. Artinya, cara orangtua mendidik kita dulu belum tentu cocok jika diterapkan pada anak-anak kita sekarang. Maka dari itu, sebagai orangtua mesti terus meng-upgrade diri, dan yang terpenting membekali anak-anak dengan ilmu agama yang sudah terbukti tak lekang oleh pergantian jaman.

Membangun Indonesia yang Kuat dari Keluarga! (lagi)

August 27, 2014 § Leave a comment

Dua kali membaca buku Ayah Edy berjudul Membangun Indonesia yang Kuat dari Keluarga!, dua kali pula saya ‘terguncang’, dan untuk kedua kalinya saya mengulasnya di blog ini setelah tulisan pertama saya hampir satu tahun yang lalu.

Apa yang direnungkan Ayah Edy dalam bukunya merupakan hal-hal yang saya renungkan juga selama bertahun-tahun. Keresahan-keresahan yang dituliskan Ayah Edy juga merupakan keresahan yang saya rasakan bahkan ketika usia saya masih 12 tahun saat itu. Keresahan seorang siswa kelas 6 SD yang merasa sangat dikecewakan oleh sistem EBTANAS yang ‘memaksa’ guru-guru melakukan kecurangan dengan terang-terangan demi sebuah nilai bagus di ijazah murid-muridnya.

Keresahan itu semakin menjadi ketika kini saya memiliki anak, yang pada saatnya nanti akan mencapai usia sekolah dan (mungkin) mengenyam pendidikan formal. Akan seperti apakah sistem pendidikan di Indonesia pada saat itu? Bagaimana anak saya akan dididik di sekolah? Apakah akan sama dengan yang saya alami bertahun-tahun yang lalu, dimana saya dididik secara ‘konvensional’?

Sambil menyusun tulisan ini, saya membaca-baca kembali diary SMA saya dan menemukan tulisan 10 tahun yang lalu, tepatnya 19 Juni 2004. Saat menulis itu, saya dalam keadaan marah dengan cara pandang lingkungan saya ketika itu. Beberapa kata bahkan saya CAPSLOCK dan diakhiri tanda seru.

Saya kutip beberapa kalimat, tanpa dikurangi atau ditambahi, termasuk titik komanya:

“AKU BENCI BGT ama orang2 yg ngeremehin pilihanku waktu SPMB kemaren……….”

“………. nama fakultas yg langka n jarang banget kedengeran. Trus, apakah karena alasan itu kita bisa menyimpulkan seenaknya kalo fak. itu tuh ga bagus prospeknya? Ga gitu kan harusnya! Tapi, kebanyakan orang b’anggapan gitu ……….”

“………. Apa hanya karena PRESTISE!! ……….”

“PRESTISE… jadi ingat kata Bang Hamid, soal prestise. Kebanyakan orang lebih ngutamain prestise daripada prestasi. Menurutku itu pikiran orang-orang yg berakal pendek, berpandangan sempit. Akhir-akhir ini aku emang lagi kesel aja ama orang-orang kaya gitu, apalagi sampe ngeremehin pilihanku……….”

“………. selama ini orang2 selalu menganggap bahwa orang-orang yg bisa masuk FKU itu orang2 hebat, orang-orang yg bisa masuk fak. teknik itu orang2 keren. Aku ga nyangkal hal itu, aku yakin orang-orang yg bisa nembus FKU ato teknik itu bukan orang biasa-biasa aja, yg ga punya keahlian apapun! Tapi, tolong lah ga usah ngeremehin yang lain. Cita-cita setiap orang itu pasti ga sama. Dan pandangan setiap orang terhadap suatu hal juga pasti ga sama. Kalo aku jadi salah seorang yg punya pikiran b’beda dari kebanyakan orang, apa itu salah n ga wajar? ……….”

Pada akhirnya saya diterima di jurusan pilihan kedua, pilihan orangtua saya. Bukan minat saya, tapi lebih direstui orangtua.

Saya tidak pernah menyesal karena ‘hanya’ diterima di jurusan yang bukan pilihan saya. Saya tetap bersyukur karena yakin itulah jalan yang terbaik dari Allah. Saya hanya ingin, pada saatnya nanti, anak(-anak) saya tidak mengalami hal yang pernah saya alami. Setidaknya komunikasi antara orangtua dan anak harus dibangun dalam pengambilan keputusan apapun apalagi berkaitan dengan masa depan anak dalam jangka panjang.

Dan saya kembali diingatkan pada paradigma kebanyakan orang, at least di lingkungan saya, pada waktu itu bahkan hingga saat ini, bahwa SUKSES itu adalah pintar di sekolah lalu bekerja dan menghasilkan banyak uang. Paradigma lama yang harus didobrak karena mempengaruhi cara orangtua dan guru mendidik anak-anak/ murid-muridnya.

Kita tidak bisa menutup mata bahwa saat ini sebagian besar sekolah hanya mengajarkan pelajaran demi pelajaran, memberikan latihan soal demi latihan soal kepada siswanya, sementara pendidikan moral malah dikesampingkan. Di luar itu, para siswa pun masih mencari tambahan pelajaran di luar jam sekolah untuk bidang studi yang dirasa kurang dikuasai. Saya pernah dalam kondisi itu, rasanya tertekan sekali, apalagi sebagian yang saya pelajari bukan bidang yang saya sukai.

Lagi-lagi saya berkata, saya ingin pada saatnya nanti anak(-anak) saya tidak mengalami hal yang pernah saya alami. Belajar itu harus fun, bukan? Untuk bisa fun, maka yang mestinya didalami hanya bidang-bidang yang diminati saja, ya kan?

Maka tak heran saat ini banyak orangtua memilih meng-homeschooling-kan anak-anaknya. Memang dalam sejarahnya homeschooling (ada pun yang lebih suka menggunakan istilah home education) ini muncul karena ketidakpercayaan orangtua pada sistem pendidikan yang diselenggarakan negara. Buku Membangun Indonesia yang Kuat dari Keluarga! pun ditulis oleh seorang praktisi homeschooling. Saya sendiri dalam posisi netral dalam menilai homeschooling ini. Bahwa sistem, cara, metode, atau apapun akan berjalan efektif jika dijalankan dengan tepat oleh orang-orang yang tepat dengan cara yang tepat pula.

Akhirnya …

Pada Presiden Terpilih pada Pilpres 2014 ini saya berharap, semoga bisa menunaikan janji-janjinya, salah satunya Revolusi Mental yang senantiasa didengung-dengungkan selama kampanye. Semoga bidang pendidikan menjadi salah satu prioritas utama untuk dibenahi, agar anak-anak kita di masa depan dapat hidup di Indonesia yang lebih baik, lebih bermoral dan beradab.

Aamiin …

Sepatah Kata Maaf untuk Sahabat

May 30, 2014 § 2 Comments

Aisha memelukku erat sekali, air matanya mengambang, dengan susah payah ia menahannya agar tak jatuh. Dalam pelukannya aku tersedu.

“Aku akan baik-baik saja, sudah ya”, Aisha berusaha menghibur sambil mengusap-usap punggungku. Entah siapa sebenarnya yang lebih perlu dihibur.

Sambil menatapku dalam, Aisha berkata, “Ditta, kamu sahabat terbaikku selama ini. Jaga diri baik-baik ya. Jangan terlalu pendiam dan tertutup. Aku tahu potensimu besar sekali di bidang tulis menulis. Tunjukkanlah! Aku, memulai lembaran baruku di Inggris… Aku… ” Aisha tak menyelesaikan kalimat terakhirnya. Air matanya tak terbendung, tangisnya pecah.

“Aku ga bisa bawain apa-apa buat kamu, tapi camilan favoritmu ini selalu berhasil membuatmu rileks kan?” Aku memaksakan diri tersenyum sambil menjejalkan sebungkus Mister Potato ke dalam tasnya.

wpid-20140530_191928.jpg

 

“Makasih Ta. Ini… Kamu pernah bilang suka banget foto ini kan?” Aisha mengeluarkan selembar foto dari saku jaketnya.
“Suatu saat nanti kamu menyusulku kesana ya?”

***

Di bawah penerangan lampu meja di kamarku, aku mengamati foto itu.

wpid-article-2107297-11f2f79f000005dc-650_468x340.jpg

Big Ben

Beberapa kalimat tertulis di baliknya:

Aisha, jika kamu ke Inggris, kamu tidak boleh melewatkan tempat ini. Big Ben adalah landmark dan ikon Kota London dan Negara Inggris. Big Ben adalah menara jam paling terkenal di seluruh dunia. Letaknya di timur laut Houses of Parliament. Kalau di Indonesia mungkin seperti gedung MPR/ DPR ya. Waktu pertama kali kesana, Kakak terpesona dengan keindahan bangunannya. Kakak memotret hampir setiap sudut Big Ben dan Gedung Parlemen. Foto terbaik Kakak kirimkan untukmu.
Ingat nggak… Dulu kita sering melihat berita di TV tentang perayaan pergantian tahun dari berbagai kota di dunia? Salah satunya di Big Ben ini. Akhir tahun ini Kakak berencana merayakan tahun baru disana… Yeaaayy…

Sampaikan salam sayang buat Mama dan Papa ya…

Kak Adam

*****

Inggris. Itulah mimpi Aisha sejak SMA.
“Aku ingin melanjutkan cita-cita Kakak”, pandangannya menerawang.

Kak Adam, kakak Aisha, adalah seorang yang cemerlang. Selepas S1, tampaknya mudah saja bagi Kak Adam memperoleh beasiswa S2 ke Inggris. Tapi, takdir berkata lain, jauh dari keluarga ditambah kegiatannya yang padat membuat Kak Adam abai akan kesehatannya sendiri, hingga dia meninggal karena maag kronis yang dideritanya. Sejak saat itu, Aisha ‘Si Otak Pas-Pasan’ begitu dia menjuluki dirinya sendiri, tampak lebih serius dalam banyak hal, terutama belajar.

“Semua buat Kak Adam. Juga buat Mama Papa yang bahkan belum sempat melihat Kakak wisuda”, katanya suatu hari.

“Oh ya, kamu udah pernah lihat ini belum Ta”, Aisha mengeluarkan file binder lalu mengambil foto yang terselip di cover bindernya.

wpid-74758353.jpg

Old Trafford

“Ini foto terakhir yang Kak Adam kirim. Waktu itu Kakak menonton langsung pertandingan Manchester United di Old Trafford. Stadion Old Trafford adalah stadion terbesar kedua di Inggris, setelah Stadion Wembley di London, daya tampungnya hingga 76 ribu orang. Ternyata Kota Manchester itu sendiri tidak terlalu besar Ta, sedikit lebih kecil dari Kota Bandung, tapi jumlah penduduknya hanya seperlima penduduk Kota Bandung. Bayangkan, pasti sepi ya disana. Tapi hebat ya, kota sekecil itu punya klub-klub sepak bola bergengsi yang tersohor ke seluruh dunia”, aku mendengarkan ceritanya dengan seksama, sesekali aku menimpalinya dan berdecak kagum.

***

Selama Kak Adam di Inggris, acapkali Aisha dikirimi kartu pos atau foto-foto perjalanan Kak Adam. Walaupun di era digital ini foto bisa dengan mudah dikirim lewat email atau media sosial, Kak Adam tak pernah absen mengirim foto cetak yang kemudian diberi catatan di belakangnya.

Aisha mengumpulkannya dalam satu album yang diberi judul ‘Jika Aku ke Inggris…’. Judul itu terinspirasi dari kalimat pertama Kak Adam yang selalu ditulis di balik foto atau kartu posnya, “Aisha, jika kamu ke Inggris…”. Seperti yang tertulis di belakang foto Buckingham Palace yang pernah Aisha tunjukkan padaku.

wpid-buckingham-palace-11.jpg

Buckingham Palace

Aisha, jika kamu ke Inggris, kamu harus ke Buckingham Palace, siapa tahu bertemu langsung pangeran impianmu? Kamu masih ingat? Dulu kamarmu penuh sekali dengan poster dan pin up Prince William? Sampai-sampai kamu bikin kliping berisi semua artikel tentang dia. Katamu itu akan dihadiahkan padanya jika nanti bertemu. Hahaha.
Disana juga kamu bisa buktikan sendiri, yang menjulang tinggi di atas kepala penjaga istana itu, topi atau rambut? Haha.
Kalau kesini, pastikan bertepatan dengan prosesi pergantian penjaga istana ya. Prosesi tersebut menjadi daya tarik tersendiri buat para wisatawan.

wpid-buckingham_palace_guards.jpg

***

Selepas SMA, masa kuliah kami jalani di kota berbeda. Dengan kegigihannya, Aisha lolos ke kampus teknik ternama di Bandung, kampus Kak Adam juga, hanya beda jurusan, sementara aku tetap di Jakarta.

Walaupun terpisah jarak, kami tak putus berkomunikasi. Jika Aisha pulang ke Jakarta pasti kami bertemu, bahkan beberapa kali aku pun berkunjung ke Bandung.

Satu kali kunjungan ke Bandung, Aisha mengajakku ke kampusnya. Dengan bangga, dia menjelaskan setiap gedung yang kami lewati selama berkeliling. Lalu kami berhenti di gedung fakultasnya.

“Lihat Ta, ini ada beasiswa ke UK, pengumumannya hampir selalu ada setiap tahun. Lihat foto-foto yang jadi latar belakang poster ini. Hanya foto ini yang belum pernah dikirimkan Kak Adam,” lalu Aisha menunjuk pada sebuah foto bangunan berarsitektur gothic di poster itu.

wpid-westminster_abbey.jpeg

Westminster Abbey

“Ini Gereja Westminster Abbey. Letaknya tak jauh dari Big Ben yang terkenal itu. Sejak ratusan tahun yang lalu, gereja ini digunakan untuk penobatan raja-raja Inggris. Disana juga terdapat makam raja-raja, bangsawan, ilmuwan, dan orang-orang terkemuka di Inggris.”

Aku melihat matanya berbinar-binar setiap bercerita tentang Inggris.

***

Pada liburan terakhir sebelum kelulusannya. Kami membuat janji bertemu di kafe favorit kami di Jakarta. Aisha bilang, ada kejutan kecil untukku.

Seperti biasa, aku datang terlebih dahulu dari waktu yang telah dijanjikan, dan memesankan minuman favoritnya. Biasanya, dia akan datang, lalu senang sekali melihat minuman favoritnya sudah siap, menyeruput setengah gelasnya, dan bercerita panjang lebar tentang kegiatannya. Aku hanya sesekali menimpali dan tertawa bersama ceritanya.

Aku mengunyah Smax Balls sambil menunggu pesanan datang. Tak lama setelah pramusaji menghidangkan minuman pesanan, Aisha datang. Namun dia tidak sendiri. Inikah kejutan kecilnya?

“Taaa… Aku kangen bangeet sama kamu. Kenalin ini Atma… Kakak angkatanku di kampus, tapi udah lulus dan kerja di Kalimantan, kebetulan lagi liburan”, cerocosnya, menyisakan aku yang masih melongo mencoba menyesuaikan diri dengan situasi yang berbeda ini.

Ini kali pertama kali Aisha punya teman dekat pria.

***

Aisha memang penuh kejutan. Setelah ‘kejutan kecil’-nya tempo hari, ternyata dia masih menyiapkan kejutan lain untukku. Suatu siang dia menelepon:

“Taaa… Dengerin baik-baik ya, tarik nafaaas… Lepaskan… Siap? Aku… Lolos … Beasiswa ke Inggriiiisss!! Aaaarghh… Inggris Taa” Aku ikut histeris bersamanya. Di ujung telepon sana Aisha semangat sekali menceritakan proses seleksinya, nyaris tanpa jeda.

“Aku nanti di London Ta. Kalau Atma kesana, dia bisa sekalian ke Stadion Stamford Bridge-nya Chelsea. Klub jagoannya! Pasti dia seneng banget.”

wpid-0__102683688547_00.jpg.jpeg

Stamford Bridge

“Kamu udah kasih tau Atma?”, aku memotong.

“Hmm, belum Ta, bahkan aku ikut tes pun Atma gak tahu, tapi kan dia tahu, betapa besaaarrr keinginanku kuliah disana, ini hanya akan jadi kejutan kecil untuknya.”

Ya, Aisha selalu berhasil dengan ‘kejutan kecil’nya.

***

Namun reaksi Atma tak terduga. Dia mempertanyakan keseriusan hubungan mereka. Mereka berdebat hebat. Kebetulan ada aku disana.

“Kalau kamu mau hidup di luar negeri, kamu harus tahu, Aisha, tahun depan aku mendapat kesempatan ke Amerika, aku ingin kita segera menikah, dan kamu ikut aku kesana.”

“Ini bukan masalah luar negeri, ini Inggris, impianku!” Aisha membantah, nyaris berteriak.

Sejak saat itu hubungan mereka dingin.

Beberapa bulan kemudian, Atma memutuskan untuk mengakhirinya, hanya satu minggu sebelum keberangkatan Aisha,
“… aku memilih yang lain”, jelas Atma, kali ini Aisha tidak bisa membantah.

***

Hari itu, dua hari sebelum berangkat, aku menemani Aisha berkemas-kemas seharian di rumahnya. Ia bercerita banyak hal, juga tentang rasa yang belum berubah pada Atma.

“Ta, aku selalu bercita-cita ke tempat ini sama Atma.” Aisha menunjuk gambar pada kartu pos yang tertempel di dinding dekat meja belajarnya.

wpid-lem_londoneye.jpg

“London Eye ini kincir yang bisa mengangkut hingga 800 orang dalam satu putaran. Ada 32 kapsul yang masing-masing bisa diisi hingga 25 orang. Bayangkan, betapa besarnya kan? Pasti menyenangkan sekali melihat London dari ketinggian bersama orang yang kita sayangi”.

“Tau ga Ta, aku merasa akan lebih baik-baik saja kalau hubungan kami berakhir karena alasanku ke Inggris, tapi berakhir karena Atma memilih yang lain terasa amat menyakitkan, Ta. Siapapun wanita yang dipilih Atma, dia pasti istimewa.”

Entah dengan cara apa aku bisa menghiburnya saat itu. Aku merasa bersalah, sangat bersalah.

***

Satu tahun berlalu sejak keberangkatan Aisha, beberapa kali ia mengirimiku foto atau kartu pos. Salah satunya foto di depan museum The Beatles ini:

wpid-beatles_story.jpg

The Beatles Museum

Ditta, aku berkesempatan ke The Beatles Museum akhir pekan lalu. Letaknya di Liverpool. Jarak tempuhnya sekitar tiga sampai empat jam dari London. Aku tidak bisa bercerita banyak soal museumnya, sepanjang kunjunganku kesana aku ingat Papa terus. Pasti Papa seneng banget kalau aku ajak kesana, disana Papa bisa lihat semua hal tentang The Beatles, grup musik favoritnya itu.

Semakin sering Aisha mengabariku dari Inggris, semakin ingin aku segera menemuinya disana. Bukan hanya ingin, tapi aku memang harus menemuinya, secepatnya.

***

Kesempatan itu datang, aku melihat blog contest yang diadakan Mister Potato. Aku menertawai diriku sendiri. Sementara Aisha sudah mencapai mimpinya di Inggris, aku masih saja blogger setengah hati yang belum menerbitkan satu pun karya monumental. Bahkan belum ada satu pun tulisanku yang menang kontes blog.

“Semoga aku menang… Aku tidak tahu dengan cara apalagi aku bisa menyusul Aisha selain dengan cara seperti ini” Aku bertekad membuat karya terbaikku.

Sepanjang menulis, Mister Potato selalu setia menemaniku. Renyah keripiknya membuatku lupa waktu.

tmp_20140530_193453(2)1782240317

Sesekali aku melihat-lihat kembali foto atau kartu pos yang pernah dikirim Aisha. Mencari inspirasi.

Ketika sampai pada bagian yang menjelaskan, kenapa aku harus pergi ke Inggris, aku tercenung, mengambil nafas panjang lalu mengetikkan, “…demi sepatah kata maaf untuk sahabat…”

*****

Tiga bulan kemudian…

Pesawat mendarat dengan mulus di Bandara Heathrow, London, salah satu bandara tersibuk di dunia. Aku bernafas lega, menggeliat lalu melenturkan badanku ke kiri dan kanan. Kuatur jam tangan menyesuaikan waktu setempat. Karena sudah mulai masuk musim panas, maka perbedaan London – Jakarta akan mengikuti kaidah GMT+6 atau lebih dikenal dengan masa British Summer Time (BST).

wpid-5484218_201307290213082.jpg

Hangat menyapa rombongan kami di luar bandara. Aku membuka jaket tebal yang kupakai, kali ini aku sedikit salah kostum. Kupikir di Eropa, musim panas pun akan tetap dingin. Nyatanya di London tidak. Dari bandara kami langsung menuju hotel untuk beristirahat. Tur baru akan dimulai esok pagi.

***

“Kamu hebat Ta, jalan-jalan gratis karena menulis? Keren banget!”
“Semua berkat ini Sha,” sahutku sambil mengeluarkan sebungkus Mister Potato.
“Aaah… Mister Potatoo!!” Aisha memekik senang. Detik berikutnya, berbagai cerita mengalir dari mulut Aisha, sesekali dia tertawa, kemudian termenung ketika menceritakan Kak Adam. Satu kali ia masih mengenang Atma, namun segera mengganti topik pembicaraan.

Siang itu tujuan tur kami adalah kawasan Big Ben di Westminster. Anggota tur dibebaskan menjelajah kawasan itu selama beberapa jam. Aku menggunakan kesempatan itu untuk bertemu Aisha di sebuah kafe tak jauh dari kawasan Big Ben.

“Oh ya, kamu belum cerita nih, ada kabar terbaru apa? Ngomong-ngomong kamu terlihat lebih… lebiiih pendiam sekarang”, Aisha menggeser kursinya semakin rapat ke meja, lalu membetulkan rambut yang menutupi telinganya, wajahnya mendekat ke wajahku.

Aku menarik nafas panjang, “Aisha… aku akan menikah…”
“Oh ya?!? Kok kamu gak pernah cerita sebelumnya?” Aisha membelalakkan matanya.
“Selamat ya Ta… Seneng banget dengernyaaa”, dia menggenggam tanganku sambil mengguncang-guncangkannya antusias.
“…dengan Atma”, dadaku terasa sesak ketika mengatakannya.
“Aisha… Maaf…”, aku melanjutkan kalimatku.

Aisha melonggarkan genggamannya, sedetik kemudian melepaskannya. Suasana berubah canggung seketika.

Mister Potato masih tersisa banyak di kemasannya. Tapi Aisha sama sekali tak berselera menyentuhnya. Setiap detik berjalan sangat lambat.

“Oh ya Ta, ini”, Aisha merogoh tas tangannya, “Aku sengaja menyetaknya untukmu waktu tahu kamu mau kesini… Sebagai penggemar Harry Potter, kamu harus kesana melihat Platform 9 3/4 itu. Tapi jangan sekali-kali menubrukkan badanmu ke temboknya ya, kecuali kamu menerima undangan dari Hogwarts.. hehe”. Aisha tertawa kecil, hampir tak terdengar.

wpid-platform-9-and-3-4-at-kings-cross-station-kings-cross-station-london-london.jpg

“Iya Sha, tempat itu masuk ke itinerary tur kami. Besok kami kesana”

Setengah jam berikutnya, kami lebih banyak diam. Demi Tuhan, sedetik bersamanya dalam kecanggungan seperti ini rasanya memakan waktu seumur hidupku.

Tik… Tok. . . T i k .  .  . T  o  k .  .  .

“Teeenngg”, suara Big Ben terdengar menggelegar, memecah beku diantara kami.

“Sudah saatnya pergi, aku harus menemui Profesorku sore ini”, katanya sambil melirik jam tangan. “Kamu tahu Ta? Selepas menyelesaikan studiku aku berencana bekerja beberapa waktu disini”.
“Jangan lupa.. pulang… ke Indonesia ya…”, aku sedikit terbata.

Kami berpamitan, namun tak sehangat ketika bertemu tadi…

Aku belum beranjak dari tempatku berdiri, menatap punggung Aisha yang bersiap pergi namun juga tak kunjung melangkah. Tiba-tiba dia berbalik, dan melangkah mendekat, “Oh ya Ta… apapun yang membuatmu bahagia, aku bahagia. Aku sudah menemukan hidup baruku disini” dia merangkulku hangat, bersamaan dengan lelehnya cairan hangat dari sudut mataku…
“Aisha, maaf…”. Tak terdengar jawaban apapun dari mulutnya. Hatiku tergores, sakit sekali.
“Bye, Ditta…”, ujarnya sambil melambaikan tangan. Seulas senyum tipisnya nampak samar.

Maafkan aku, Sha!

* Tulisan ini diikutkan dalam Blog Contest Ngemil Eksis Pergi ke Inggris yang diadakan oleh Mister Potato
** Seluruh jalan cerita adalah fiksi

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,609 other followers