Gimana nggak?
Senior dan manajer udah nagih-nagih dari kapan hari, sementara klien ga bisa kooperatif.
Serba salah…karena efeknya amat sangat kecil sekali ketika saya mencoba mem-push klien untuk segera memenuhi permintaan data saya.
Pernah suatu hari saya follow up data melalui telepon dari kantor, entah berapa kali dalam sehari saya nelpon ke kantor klien untuk menagih hal yang sama.
Belum lagi surat elektronik pun saya kirimkan, dan ketika sore itu saya menelepon lagi…untuk terakhir kalinya pada hari itu, si klien malah menjawab, “Gimana mau ngerjain, dikit-dikit nelpon, dikit-dikit minta”
Oke….saya ber-postive thinking saja kalo klien sedang menyelesaikan permintaan saya. Tapi beberapa hari kemudian setelah kejadian itu, saat saya akhirnya memutuskan untuk menemui mereka langsung, data yang diminta sama sekali belum tersedia.
Hoho…belum pernah saya mengeluh masalah klien sampai hari ini. Tapi kejadian tadi pagi cukup membuat saya kesal sehingga cukup memberi saya energi untuk meluapkan emosi kekesalan saya.

Semalam saya menginap di hotel dekat kompleks industri.
Seperti biasa, mobil klien akan mengantarkan saya sampai depan pintu lobi hotel,
seperti biasa sebelum turun saya nitip pesan sama si Sopir, “Pak besok jemput jam sekian ya…”
seperti biasa, si Sopir akan mengiyakan sambil berkata, “Iya Mbak, nanti saya sampaikan ke yang jaga besok”
Tidak seperti biasa, malam itu saya meminta sopir menjemput saya lebih pagi. Jam setengah 8, bahkan sebelum jam kantor resmi klien dimulai.
Kenapa? Pekerjaan saya masih banyak. Semalam senior saya kembali menanyakan progress pekerjaan. Saya ga mau disalahkan, saya juga tidak ingin menyalahkan klien, karena nyatanya untuk menemukan nomor dokumen yang saya butuhkan perlu melakukan beberapa tahap, dari mulai men-sort daftar transaksi per perusahaan supplier, kemudian men-sort-nya lagi berdasarkan tanggal transaksi, baru kemudian ditemukan nomor dokumen yang dicari.
Saya merasa sudah cukup ‘membela’ klien dengan beralasan seperti itu ketika senior mempertanyakan, “Kok dari 103 transaksi baru 10 yang di-vouching? Berarti besok dateng lebih pagi ya?”
Okay….ga masalah…lagipula dari awal saya udah meniatkan buat pergi lebih pagi dari biasanya.

Maka pagi itu pun saya bersiap-siap lebih pagi dari hotel. Jam setengah 8 keluar kamar dan sarapan. Walaupun saya minta dijemput jam setengah 8, saya berkeyakinan si Penjemput pasti ngaret. Dan benar saja, saat sarapan saya habis kurang dari jam 8, mobil jemputan belum juga menampakkan diri.
Oke…saya masih sabar….saya tunggu sambil membaca buku yang baru saya beli dari bookfair tempo hari. Tak terasa waktu terus merambat, sesekali dari lobi hotel, saya menengok ke halaman hotel, “Siapa tahu mobil jemputan sudah datang”, pikir saya.
Sesekali saya melirik jam….kesal.
Ketika pada akhirnya, jam setengah 9 mobil jemputan belum juga datang, saya habis kesabaran.
Kugendong ransel saya kesal….saya berjalan mendekati pos satpam depan hotel dan menanyakan, “Ada angkutan buat masuk ke kompleks industri ga, Pak?”
“Paling ojek, Mbak”
“Ga apa-apa deh Pak, sebelah mana?”
Si Satpam pun menunjukkan jalan dimana saya bisa mendapatkan ojek.
Hati ini udah mangkel sepanjang perjalanan. Kesel….”Ga tau apa kerjaan gue masih banyak…minta dijemput jam setengah 8, eeehhh….setengah 9 belum juga dijemput. Mending kalo nyampe kantor gue tinggal kerja, lah ini mesti nunggu dulu datanya kelar, kalo gue ga dateng cepet-cepet, tuh data ga bakalan dikerjain….”, teruuuuuuusss menggerutu.

Duuhh….kalo udah kayak gini jadi desperado deh…
Intinya mungkin…..ga bisa saling memahami kerjaan masing-masing.
Saya ga ngerti kerjaan mereka….kenapa sepanjang hari bisa terlihat sangat sibuk, sampai permintaan data saya terbengkalai.
Di satu sisi, mereka juga ga ngerti kerjaan saya. Kadang apa yang saya lakukan dianggap sepele. Menurut mereka, “Kalau mau periksa dokumen cukup satu per bulan lah untuk transaksi yang sama, ga usah semuanya, percaya sama kita, kalau satu bener berarti yang lain juga bener”
Seandainya pekerjaan saya semudah itu Pak, maka dalam satu minggu pekerjaan saya sudah selesai, menaruh kepercayaan tinggi pada angka-angka laporan yang Anda buat, tanpa mempertimbangkan Professional Skeptic, tanpa perlu bertanya ketika menemukan hal-hal yang janggal….
Ah andai pekerjaan saya semudah itu…..

“Asslm.Put pakabar?”
Pesan itu sudah ada di inbox-ku ketika aku terbangun pagi itu.
Sapaan ‘Put’….pasti bukan teman SMA. Kemungkinan besar teman kuliah atau teman-teman lain yang kukenal setelah lulus SMA.
Malas sebenarnya…aku paling malas melayani panggilan telepon atau SMS tanpa identitas.
Pentingkah aku membalas SMS ini? Apalagi sebelumnya sebuah panggilan tak terjawab juga datang dari nomor yang sama.

Namun, pada akhirnya kubalas juga….
“Was.Siapa ya? Alhamdulillah aku baik”, singkat.
Tak lama pesanku berbalas.
“Nino. Lagi sibuk apa?”
Nama itu…..sepertinya aku mengenalnya.
Hah…semakin malas saja membalasnya. Maka kali ini pesannya tak langsung ku balas.
Biarlah dia beranggapan aku tidak ingin meresponnya, karena memang nyatanya aku sama sekali tidak ingin meresponnya.
Dan Allah pun sepertinya ingin aku tidak meresponnya. Karena ketika kuketik satu dua kata balasan dan memilih “send”, ponselku memberikan sinyal bahwa pesanku tak bisa dikirim. Aku coba berkali-kali…sia-sia.
Ketika ku cek…ternyata pulsanya habis. “Terima kasih ya Allah…”, batinku.

Siang itu aku pun membeli pulsa. Bukan untuk membalas pesan dari pengirim ‘misterius’ itu tentu saja.
Seharian aku asyik berkeliling di bookfair dan sama sekali melupakan SMS itu. Hingga pada sore hari, aku merasa berhutang karena belum membalas SMS berisi pertanyaan itu.
“Nino yang mana ya? Sori baru bales. Baru balik bookfair soalnya”
Dan SMS itu pun terkirim tanpa respon darinya hingga aku terbangun pada pagi hari dan menemukan inbox-ku menyimpan pesan balasan darinya.
“Ni Asri Putri kan?”
Hah…sudah kuduga….apa maunya? Apakah sinyal dariku tidak cukup kuat untuk membuatnya mundur teratur dan menjauh dari kehidupanku?
Kali ini aku berpikir untuk tidak membalasnya sama sekali….biar….aku tahu yang terbaik untukku.

….tapi…apanya yang mau ditilang? Ga ada kendaraan kok, atau….pernah ada ga sih pejalan kaki yang ditilang?
Menurut info yang aku dapet dari Om Wiki sih ada “Kewajiban pejalan kaki untuk berjalan pada bagian jalan yang diperuntukkan baginya atau pada bagian jalan yang paling kiri bila tidak terdapat bagian jalan yang dimaksudkan dan menyeberang di tempat yang telah ditentukan.”….eh tapi ga dijelasin kok apa hukumannya, paling kalau kesalahannya udah sangat fatal, misalnya jalan kaki terlalu ke tengah jalan, hukumannya langsung dari Yang Di Atas. Innalillahi wa innailaihi rajiun… :p

Kenapa pengen ditilang???
Hayooo….naksir Polantas yang mana nih Put??
Kagak laahh…sebenernya gara-gara tadi sore abis diceritain Oya yang, untuk pertama kalinya, kena tilang pulisi beberapa hari yang lalu karena ngendarain motor tapi lupa bawa STNK. Ternyata seru juga pengalamannya, apalagi kalau aku yang ngalamin sendiri kali…hehehehe…
Ternyata eh ternyata masih “ada” ya….aku pikir udah “ga ada”, denda ditawar dari Rp40rb ampe Rp10rb, ampe akhirnya Oya memutuskan untuk ditilang aja dan ngurusin kasusnya ke Pengadilan. Padahal menurut Pasal 57 (2) Yo Psl. 14 (2) UULAJ Yo Psl 197 (1) & (3) PP 44/93 (ngutip dari Om Wiki nih yaaa….kalau aku salah ya salahin Om Wiki aja…hehehe…tapi InsyaAllah bener), mengemudikan kendaraan bermotor tidak dapat menunjukkan STNK atau STCK beserta BTCK dendanya Rp20ribu untuk sepeda motor.

Yang lebih seru pengalamannya waktu nunggu ’sidang’, yang ngantri ternyata banyaaaaaaaaaaaaaakkkkk kali…eh..eh…disitu ada Pak Pul juga yang nawarin, “Mbak, kalau ngga mau lama ngantrinya, Mbak dari sini lurruuuss aja, ntar belok kiri, ketemu sama Bapak2 yang badannya gedhe”, maksudnya??? Ternyata si Bapak Gedhe yang dimaksud itu calo…hahahaha…emang bakal lebih cepet sih prosesnya tapi bayarnya jadi lebih mahal, mungkin karena harus bagi-bagi sama Pengadilan dan Penunjuk Jalan barusan kali yak.

Prihatin banget deh….
Mungkin karena banyak yang pernah ngalamin hal yang serupa kayak gitu juga kali yaa…makanya masyarakat kebanyakan cenderung mendukung KPK dalam ‘perang’ antara cicak dan buaya…ada-ada aja istilahnya..hehe
Sampai di FB ada gerakan 1.000.000 facebookers mendukung Bibit-Chandra.
Akhirnya jumlah itu tercapai juga hari ini. Aku salah satunya? Nggak.
Kenapa? Lah…aku ga tau kok yang mana yang mesti didukung. Aku ini ya orang ngga paham hukum…ga berani menghakimi salah satu pihak yang terlibat. Ga punya sikap? Terserah orang menilai.
Selama ini aku nerima informasi dari dua pihak yang berlawanan. Temen-temenku banyak yang Polri, mereka punya argumennya sendiri, sementara aku juga banyak nerima informasi dari media yang seperti berat ke salah satu pihak. Jadi…ga mau ikut-ikutan deh. Tonton aja episode lanjutannya…atau sekuelnya…atau apalah….siapa yang mendapati ending yang happy. Atau dua-duanya akan hidup berdampingan happily ever after?
Berdoa yang terbaik aja buat Indonesia-ku….aku bangga jadi Indonesian….kecuali prestasinya yang hebat dalam ketidakpastian hukum.

*
Hingga di suatu kesempatan yang lain,
kembali Oya menyapaku di dunia maya….’membahas’ perkembangan kasus KPK Vs Polri.
“Jadi ga enak nih ngomong gini sama anak Tarnus, hehe…tapi gimana ya, aku belum nemu sesuatu yang membuatku merasa harus lebih mendukung Polri”, begitu salah satu kalimatnya.
“Nyantai aja lagi Ya…”
“Temen-temenmu di kepolisian gimana tuh? Ayo dong perbaiki citra kepolisian di mata masyarakat”
“Temen-temenku belum bisa berkontribusi banyak Ya”
“Oh masih anak bawang ya?”
“Iya…hehe”, jawabku.
“Semoga beberapa tahun ke depan ya Ya…..”
“Aminnn”

Huff…PR kalian bertambah teman-teman (TN yang Polri), masyarakat (dalam hal ini temanku) menaruh harapan besar pada kalian….
Semoga tidak mengecewakan (lagi).

Merenung…

Sehari yang lalu aku mendapat kabar gembira dari seorang teman SMA tentang rencananya menikah pada tanggal 22 November depan.
Menikah dengan seseorang yang telah mengikatnya dalam hubungan pertunangan sejak beberapa tahun yang lalu….Wow…luar biasa…aku bahkan tidak pernah berpikir untuk bertunangan selama itu.
Sayang, agak kurang memungkinkan memenuhi undangannya mengingat lokasinya yang nun jauh di Jambi sana.
Pernahkah terbayangkan di sela kebahagiaan menggenapkan dien itu ada suatu peristiwa yang harus memisahkan kita dengan seseorang yang sangat kita sayangi, seseorang yang sangat mengenal kita sejak kita dilahirkan ke dunia.
Tadi pagi aku menerima sebuah SMS dari seorang temanku yang lain, menyampaikan berita duka tentang meninggalnya Ibunda temanku yang akan menikah itu, tadi pagi karena sakit.
Kehilangan seseorang yang sangat kita cintai pada suatu waktu, dan mendapatkan seorang pendamping seumur hidup pada saat yang hampir bersamaan. Mampukah kita tetap bersyukur? Semoga kamu tetap diberi kekuatan ya Asti Sayang….

Jadi teringat kejadian beberapa minggu yang lalu.
Saat itu ada pekerjaan yang harus segera kuselesaikan karena sudah mendekati deadline.
Pada tanggal yang sudah ditetapkan sebagai deadline, aku hampir 100% menyelesaikan pekerjaanku.
Sampai tiba-tiba ketika aku memindahkan hasil kerjaanku yang sudah benar-benar selesai ke external harddisk untuk kemudian dikirimkan ke seniorku….
entah karena terlalu banyak file yang dibuka,
atau karena aku membiarkan laptopku tidak beristirahat selama bermalam-malam, laptopku stopped working. Error…tapi entah karena apa.
Aku kaget ketika mendapati salah satu bagian external HD-ku yang bermemori 40GB tidak ada isinya sama sekali. Aku putus asa, tapi tidak terlalu panik karena sebagian isi HD itu sudah saya pindahkan ke laptop.
Tapi, masalah menjalar ke laptopku. Dia menjadi tidak bisa dioperasikan sama sekali. Aku segera meng-save semua file yang kubuka dan menutupnya, untuk kemudian me-restart laptop dan menyalakannya kembali.
Dengan harap-harap cemas selama me-restart laptop aku berdoa….
”Ya Allah….pliiiiiissss….jangan sampai file-file kerjaanku hilang. Plis ya Allah….aku tidak membackup satupun file-file tersebut di tempat lain….”
Deg..deg..deg…aku sampai bisa merasakan debar jantungku sendiri.
Hingga akhirnya laptop menyala kembali, aku sangat bersyukur mendapati semua file-ku utuh dan ter-save dengan kondisi terakhir ketika aku men-save-nya.
Ku cek HD-ku dan…semua file yang awalnya seperti hilang tiba-tiba itu ternyata masih ada.
Maka, kucari file kerjaan terakhir yang akan kukirim ke seniorku, kubuka, dan………….
Aku kaget…..diantara banyak file yang kusimpan sebelum mematikan laptop, hanya satu file kerjaan mendekati deadline itu yang tidak ada perubahan sama sekali sejak aku membuka dan mulai mengerjakannya tadi pagi. Seketika mood bekerjaku hilang…keseeeeellll….aku nangis, panik, aku menyalahkan diriku sendiri dan (maafkan aku ya Allah), pada akhirnya aku menyalahkan-Mu juga……dalam hati….”Hanya satu file itu ya Allah yang aku butuhin saat ini, tapi kenapa Engkau malah tidak menyelamatkannya???? Hanya satu file itu…..”
Astaghfirullah….
Betapa kurang bersyukurnya aku…..waktu laptopku mulai bermasalah, aku meminta….”Ya Allah…semoga semua file-ku baik-baik saja”, dan ketika mendapati kenyataan bahwa ada satu file hilang, aku cuma bisa menyalahkan Allah.
Harusnya aku tetap bersyukur kan? Hanya satu file yang hilang, walaupun file itulah yang urgent untuk saat itu, hanya satu, diantara ratusan file…..tapi aku masih menyalahkan-Nya.

Kasusku tentu tidak seberat Asti yang harus kehilangan seorang Ibu selama-lamanya. Tapi contoh-contoh kecil yang kualami cukup mengingatkanku betapa kurang syukurnya aku pada kebaikan Allah.
Aku belajar satu hal, bahwa kehilangan apapun yang kita rasakan, kehilangan keluarga, kehilangan harta benda, kehilangan pekerjaan, atau kehilangan hasil kerjaan tidaklah sebanding dengan pemberian dan kebaikan Allah selama ini.
Allah pasti menggantinya dengan kebaikan lain yang lebih banyak.
Hanya tinggal bagaimana kita menyikapinya. Bersyukur? Atau malah bersungut-sungut?

Alhamdulillah….terima kasih Allah tidak menyelamatkanku file-ku itu tempo hari, sehingga aku menjadi orang yang berpikir.

Wuiiiihhhh……judulnya ngeriiiiii….
Hehehehe…padahal judul diatas aku catut dari judul buku terbarunya (terbitan October 2009) Asma Nadia dkk.
Bukunya Asma Nadia gituu…sok pasti aku beli, walaupun isinya kebanyakan membahas tentang kehidupan suami-istri dengan berbagai tipe suami-nya. Mayaaannn…bisa intip-intip dikit kehidupan rumah tangga para penulisnya.
Menarik deh, di halaman pertama setelah daftar isi ada tulisan Mba Asma tentang, “Kenapa kamu ingin menikah?”
Nah lho…..ada yang bisa jawab ga tuh? Pasti bisa dooong apalagi yang udah pada nikah. Tapi kalau aku yang ditanya kayak gitu pasti jawabnya, “Hmmm….apa ya?!”, sambil mesem-mesem ga jelas. Nah lho….parah nih gueee.

Btw, semalam juga aku abis dari nikahan teman SMA-ku, yang pada akhirnya menikah dengan kakak kelas kami dari SMA yang sama.
Jeyuk ma’em jeyuk lagi deh….
Nikahannya meriah sekali…..temen-temenku banyak juga yang dateng, sayang…aku dateng telat, jadi ga kebagian makanan juga..hiks..hiks..hiks..yang penting kebagian foto-foto bareng anak-anak deh..hehehe.
Ga berapa lama disana, anak-anak udah pada ngajakin pulang, padahal aku pikir masih pada lanjut mau ngumpul bareng, atau makan bareng (ngarep mode:on), soal’e nih perut keroncongan, untung kalah ma suara musik hiburannya jadi ga kentara bunyi keroncongnya. Kan ndak lucu tho….masa di tempat kondangan perut bikin orkes sendiri.

Dan….
(alur ceritanya udah mulai ga nyambung ama judulnya nih..hehehe…kebiasaan)
dan….siang ini aku berencana pergi bareng Oya.
Tau kemana??? Bookfair di JCC. Huaaahhh…senengnyaaaaa….kayaknya borong lagi neh aku. Mau beli yang ringan-ringan aja deh. Kalo yang berat-berat ntar susah bawanya. Hahaha…
Jadi tau kan? Kenapa isi tulisan (baca : curhatan) ga pernah ngomongin yang berat-berat? Duuuhh…kok kayaknya bukan bidang saya ya ngomongin yang berat-berat, trus yang berbau-bau politik, sosial, budaya, hukum, ekonomi (halah…). Kalau sekedar ngomongin yang berbau-bau terasi, kaos kaki kotor, bau badan, bau ketie, sih saya masih bisa mengungkapkannya dengan lancar jayaaa….
Makanya, jadi bertanya-tanya, apakah selama ini postingan-postingan aku di blog selama ini cuma sekedar memuaskan nafsu curhat aku atau minimal sedikiiiiiiiiiiiiiit aja memberi hikmah buat yang bacanya? Lagipula aku ga yakin ada orang yang baca nih blog.
Pertama, karena ga pernah aku publish juga, kecuali di facebook.
Kedua, ya udah…ga ada yang kedua. Hehe.
Walaupun kemarin sempet terharu gitu, ampe nangis sesenggukan (boong…jangan percaya!), waktu ketemu teman lama dan dia bilang, “Asri suka baca ya? Sering beli buku kan?”
Iya sih…orang nanya gitu kan bisa aja sambil nebak-nebak, tapi ternyata dia tahu karena baca blog aku. Thanks Chi….sebagai salah seorang yang beruntung menemukan blog yang terkubur idup-idup di belantara perblogan dunia ini..hehehe.

(Semakin tidak nyambung sama judul di atas)

Maka, sebaiknya kita akhiri…wassalam.

Apa yang kamu pikirkan?
Aku hanya berkata dalam hati, “Nih orang kok gue bangeettt!”
Itulah yang pertama kali terlintas dalam pikiranku ketika beberapa kali aku melihat seniorku grasak grusuk mencari sesuatu di dalam tasnya…
“Bentar deh Put, kunci mobil gue mana ya?”, sambil tangannya sibuk mencari sesuatu di dalam tasnya.
Atau pada kesempatan yang lain…
“Eh gue udah masukin dompet ke dalam tas belum ya? Bentar Put, gue cari dulu…”. dengan setengah panik tangannya terus sibuk menjelajahi seisi tas.
“Handphone gue…jangan-jangan ketinggalan”, padahal dia hanya menaruhnya di dalam tas pada letak yang tidak semestinya.
Dan aku cuma bisa berkata dalam hati….”Ada juga orang kayak gue”.
Iya…kayak gue….yang seringkali harus mengeluarkan seisi tas untuk mencari kunci kamar, atau terpaksa harus menelusuri seisi kamar cuma buat nyari dompet.
Terlepas dari sifat pelupaku, itu adalah salah satu kebiasaan burukku. Menaruh barang pada tempat yang tidak semestinya.
Yang aku heran, aku seringkali lupa, dimana terakhir kali aku menaruh sesuatu, padahal barang itu baru kugunakan beberapa saat sebelumnya.
Dan betapa jengkelnya ketika menemukan barang-barang itu berada di tempat yang sebenarnya mudah dijangkau, di tempat tidur, tapi ketutupan selimut, di meja rias, tapi berbaur dengan benda-benda lain yang menyamarkannya, di dalam tas yang sehari sebelumnya kugunakan.
Kebiasaan buruk yang bisa dianggap sebagai kelemahan….ngapain pake diceritain disini? Kayak buka aib sendiri aja.
Hmm….ngga juga. Aku sedang dalam proses berubah kok, lagipula kebiasaan buruk ini bukanlah sesuatu yang membanggakan sehingga aku merasa harus menceritakannya disini.
Hanya ingin berbagi dengan banyak orang, bahwa kelemahan-kelemahan kecil itu bukan hanya aku yang mengalami, dan semua kelemahan itu pasti ada solusinya.
Umm..misalnya mungkin dengan memberikan perhatian lebih untuk hal-hal kecil yang kulakukan. Karena sesuatu yang kecil itu tidak selalu berarti merupakan hal yang sepele kan?
Jadi…mulai saat ini….aku harus mengampanyekan program untuk diriku sendiri untuk….
berhenti lupa, sehingga di tengah makan aku tidak akan bertanya-tanya lagi, “Tadi udah baca doa sebelum makan belum ya?”
berhenti lupa, sehingga aku tidak harus mengeluarkan seisi tas untuk memastikan dompetku sudah masuk ke dalam tas.
berhenti lupa, sehingga aku tidak harus meminta data atau menanyakan hal yang sama ke klien sampai dua kali
berhenti lupa, sehingga aku tidak harus balik ke rumah Mba Pew setelah ngangkot berkilo-kilo meter ‘hanya’ karena handphone ketinggalan, padahal saat itu aku lagi diburu-buru waktu.
berhenti lupa, sehingga aku tidak harus menggedor-gedor pintu tengah malam karena kunci kost tertinggal di kantor
berhenti lupa, sehingga aku tidak mesti ke kantor hari ini ‘cuma’ buat ngambil kunci yang pada akhirnya tertinggal lagi dan menginap dua hari di lokerku di kantor.
berhenti lupa…dan berhenti lupa untuk selalu berdoa, semoga Allah mendukung proses berhenti lupaku… :)

Kino??????

Bukan lagi ngomongin permen kino doonggg???? Merek permen yang cukup terkenal waktu saya masih muda dulu..hahaha…

Teringat Quiz Social Interview di salah satu situs jejaring sosial.
Salah satu pertanyaannya adalah, “Apa yang Mega Handayani pikirkan tentang kamu”
So, I answered, “Jalan kok ampe nabrak-nabrak sepatu?”
Kenapa jawaban itu? Karena Meha pernah berkomentar tentang seringnya aku secara tidak sengaja ‘menabrak’ sepatunya yang ‘terparkir’ rapi di depan kamar.
“Puput ini lhoo….mesti deh….kan bisa jalan di sebelah sana, ga usah pake nabrak-nabrak sepatuku segala”
Dan aku cuma bisa bilang, “Hehehe….maaf!”, sambil nyengir ga tau diri.
Pada satu kesempatan yang lain di kantor, aku pergi makan siang bareng Meha. Dan, “Put…jalan ya jalan aja sih, ga mesti pegangan ke aku kan?”.
Uppsss…
“Kamu tuh kalo jalan kok sukanya merapat ma orang yang jalan bareng kamu sih….sono’an…jalan kan masih luas…”
Yoi….jalan masih luas…masih ada beberapa meter di sebelah kananku. Tapi….lagi-lagi aku mendapat komentar serupa untuk entah keberapa kalinya.
Dulu, teman-teman kuliahku, sekarang temen kerjaku…..jadi mikir, “Apa iya cara jalanku ga bener?”
“Iya…jalanmu tuh aneh”, sahut Meha.
“Kamu bukan orang pertama yang komen kayak gitu….aku juga ngerasa kayaknya ada yang salah sama….entah cara jalanku atau apa….”
…mulai curcol deh…hehehe…
“Ini salah satunya. Kasus lainnya, aku sering tiba-tiba hampir jatuh atau terjerembab seperti….hmm…bayangkan seseorang dengan sepatu hak tinggi yang tidak bisa menjaga keseimbangannya, atau….bayangkan seseorang yang berjalan di jalanan yang ngga rata”
“Padahal kondisinya saat itu, aku lagi jalan dengan sendal teplek di jalanan rata….ada yang salah? Dengan cara jalanku? Dengan keseimbangan tubuhku? Dengan…….”
“Itu ada hubungannya ma psikologi Put”, jreng…jreng…jreng…temanku yang akuntansi banget ini mulai mengeluarkan teori psikologi ‘ngasal’-nya.
“Iya kali yak…”, jawabku dengan kening berkerut-kerut.
“Iya lah…kamu tuh kayak orang ga punya sandaran, terlalu tergantung sama orang, ga pede-an, makanya ngaruh ke cara jalanmu yang sukanya nempel-nempel orang.”
“Iya kali yak…”, dan keningku berkerut lebih banyak lagi…

?????

Terus hubungannya ma judul di atas…

Nyebeliiiiiiiinnnnnnnnnn………

Mungkin karena lagi bad mood juga kali yeee….jadi ikutan sebel ma tuh tukang taxi.
Gimana ngga….pulang malam dari kantor, cape kaaannn, maunya cepet-cepet nyampe rumah kaaannn, maunya cepet-cepet bobo kaaannn??????? Maka masuklah aku ke taxi itu. Hmm…taxi yang sebenernya cukup punya nama dan dipercaya, cuma kebetulan malam ini aku lagi apes ketemu sopir yang nyebelin.
“Benhil, Pak!”, kataku tanpa basa basi.
Dan belum juga taxi jalan, aku ingat sesuatu bahwa aku lupa……
Waktu meninggalkan ruangan kantor beberapa saat sebelumnya aku ngerasa, “Kayaknya ada yang kurang deh….”
Dan aku baru inget bahwa yang kurang itu adalah kunci kostan….eeerrrgghh…
Biasanya kunci itu selalu aku taroh di saku rok, atau di bagian tas yang paling mudah terjangkau, tapi kali ini sakuku kosong tanpa mengeluarkan suara-suara khas dari gantungan kunci kamarku.
Sebenernya, bisa aja saat itu juga aku memutuskan untuk turun dari taxi dan kembali lagi ke kantor, tapi kupikir, “Ya sudah lah….tinggal minta anak kostan bukain pintu masuk, tapi…..”, lagi-lagi aku ingat kalau aku lupa…..
Aku lupa kalau ponselku mati….eeerrrrggghhh. Dan…..halllooooo….ini udah beranjak tengah malam. Ibu dan Bapak pemilik rumah yang tinggal di lantai bawah udah pasti tidur jam segini. Jadi????
Argh…bad mood-ku semakin bertambah-tambah.
Dan bad mood-ku semakin menjadi-jadi ketika dengan santainya taxi yang kutumpangi bablas aja melewati jalan ke arah kostku.
“Lho Pak? Aku kan bilang mau ke Benhil, kok malah terus sih?? Harusnya kan lewat jalan yang itu!”, kataku sambil menunjuk ke jalan arah kostku.
“Ya…ngga bilang sih…saya kan ga tau”, jawab si Sopir dengan begitu santainya.
Dalam hati aku menggerutu, “Ya ampuuuuunnnn, dari BEI ke Benhil lhooooo…..masa sih kagak tau jalan….mending kan gw ga nyuruh dia nganterin ampe Ujung Berung”
Tapi eh tapi….percaya ga sih kalo si Sopir ngga tau Benhil, sementara dia tau jalan lain menuju Benhil? Tanpa aku kasih tau lagi belok-beloknya. Tanpa aku minta, dia membawa taxinya masuk lewat jalan yang lebih kecil, belok kanan, belok kiri, dan dia sama sekali ga minta petunjukku. Errggghhh….sebel!!!!
Sesekali si Sopir bertanya, “Kanan atau kiri, Mbak?”
“Kanan Pak!”
“Kiri”
Jawabku malas.
Akhirnya sampailah di depan kost. Dan seperti yang kuduga, jam segini mana ada penghuni lantai bawah yang masih terjaga.
Pintu ku ketuk…”Tuk..tuk..tuk…”, mana kedengeraannn?? Akhirnya kugedor, “Dor..dor..dor…”, ternyata…kagak ngefek.
Kugedor lebih keras…..dan, “Puput ya?”
Aku mendengar suara itu dari lantai 2, dimana kamar-kamar kostan berada….”Syukurlah….”, karena tidak begitu lama, seseorang membukakan pintu untukku…..Thanks Allah….ga jadi tidur di luar deh malam ini. Hehehe…lebay.

Angka 27…

Inget ngga (pasti ngga!), di salah satu postingan, aku pernah bilang bahwa angka 27 itu pernah menjadi angka yang istimewa buat aku, sampai ada satu kejadian yang membuat angka itu sangat sangat tidak menyenangkan, baik dilihat atau sekedar didengar. Alasannya, kalau terpaksa harus diungkapkan disini, bisa dibilang, “Ngga banget…” hahaha…kenangan buruk masa-masa jahil zaman SMA dulu.

Tapi…tanggal 27 di beberapa bulan menjadi berkesan buat aku dengan adanya beberapa kejadian menyangkut aku atau orang-orang terdekatku. Tidak penting memang mengingat-ingat tanggal, karena sejarah atau kejadian apapun terjadi untuk kita ambil hikmahnya tanpa harus menghubung-hubungkannya dengan tanggal tertentu. Tapi apa salahnya, dengan mengingat satu tanggal saja aku bisa mengingat beberapa kejadian sekaligus yang mungkin bisa menginspirasiku di masa datang.

Dimulai dengan tanggal 27 Desember 6 tahun yang lalu aku pernah merasa telah dewasa karena bisa memutuskan dan merencanakan sendiri apa yang mungkin aku alami untuk beberapa tahun berikutnya. Satu tanggal yang diikuti oleh banyak kejadian yang sekaligus membuka banyak pintu hikmah, dengan satu hikmah utama bahwa, tidak ada cinta yang abadi selain cinta Allah kepada hamba-Nya. Allah mencintaiku melebihi apapun, maka aku pun seharusnya mencintai-Nya lebih besar melebihi cintaku kepada siapapun.
Cukup jelas kan?

Hampir setahun yang lalu, 27 Oktober, hari pertamaku menyandang gelar Sarjana Ekonomi. Satu hari yang bukan akhir dari segalanya, tapi awal dari suatu fase kehidupanku yang baru yang bisa berarti segalanya untuk masa depanku. Hari itu aku merasa jauh dari Allah justru ketika aku butuh Dia dekat. Allah menegurku lewat nilai ujian yang…..jauh di bawah ekspektasi. Aku tidak kecewa….malah sangat bersyukur Allah mengingatkanku dengan caranya yang indah.

Sebulan kemudian, 27 November, satu mimpi kecilku tercapai. Hari itu adalah hari pertamaku menjejakkan kaki di sebuah kantor akuntan publik big four sebagai seorang staf baru. Lagi-lagi….pencapaian ini bukan akhir dari segalanya, hanya satu langkah kecil menuju mimpi-mimpiku selanjutnya.

Hampir setahun kemudian, tepatnya dua hari yang lalu, 27 September, kembali aku harus mencatat satu kejadian penting di tanggal 27 dengan adanya pernikahan seorang sahabatku. Satu kejadian yang tidak berkaitan langsung denganku, hanya sebagai pengingat bahwa dien-ku belumlah sempurna.

Dan, berbicara tanggal 27, tentu saja aku ga akan melupakan 27 April, tanggal lahir kakakku. Yang mana setiap orang pun memiliki satu tanggalnya sendiri setiap tahun, yang diperingati dengan berbagai cara. Merayakan bertambahnya usia? Atau memperingati berkurangnya jatah hidup di dunia?

Tanggal 27 selanjutnya???

La Tahzan For Jomblo

Hihihi…geli ya baca judulnya…
Barusan baca (lagi) bukunya Asma Nadia, La Tahzan for Jomblo.
Isinya beberapa curhatan dari beberapa penulis tentang pengalaman mereka sebagai jomblo.
Karena temanya juga ‘La Tahzan’, yang diceritain yaa…indahnya jadi jomblo dong…dan berbagai alasan kenapa lebih baik kita menjomblo.
Oh ya..oh ya..sepertinya harus kita sepakati dulu nih, definisi jomblo dalam tulisan ini. Dalam hal ini saya menggunakan istilah jomblo untuk orang-orang yang ga punya pacar. Wew…dari satu definisi itu sebenernya bisa dikembangkan definisi istilah lainnya, yaitu, pacar. Apakah yang dimaksud dengan pacar? Hihihi…coba dibolak balik bulak di buku manual hidup kita, adakah satuuuuu aja kata ‘pacar’ atau ‘pacaran’ yang tercantum disana. Dijamin….gak ada kan????

Bangga menjadi jomblo?
Kok bisa?
Hahaha….kalo aku punya pandangan berbeda bahkan bertolak belakang dengan banyak orang ga salah dong, lagi pula aku juga punya alasan kuat untuk mengatakan bahwa dengan menjadi jomblo aku merasa jauh lebih berharga.
Coba teliti…ada kata “lebih” pada kalimat di atas, seolah-olah aku sedang membuat suatu perbandingan.
Bukan “seolah-olah”, aku memang sedang membandingkan…Perbandingan antara Jomblo dan Tidak Menjomblo.
Karena dalam kurun waktu sejak aku mengenal perasaan mirip tai kucing rasa coklat, aku pernah merasakan sekitar 2 tahun atau barangkali lebih menjadi orang yang tidak menjomblo, dan jika dibandingkan dengan kehidupanku sekarang, maka dengan sepenuh hati aku mengatakan, “Menjadi jomblo itu ternyata jauuuhh lebih menyenangkan daripada punya pacar”
Menjadi jomblo bukan berarti ngga laku dooonnngg…tapi justru kita menghargai diri kita lebih besar dengan memilih menjadi jomblo. Ya…memilih…karena jomblo itu pilihan. Walaupun mungkin ada sebagian orang yang jomblo karena susah dapet pasangan.
Seperti halnya liburan kerja….status jomblo membuatku memiliki waktuku sendiri. Waktuku hanya untukku sendiri, dan untuk Tuhan-ku tentu saja, karena itulah alasan aku diciptakan ke dunia.
Teringat kejadian beberapa tahun yang lalu, ketika aku menikmati keindahan semu bersama seseorang yang kuikat dalam hubungan pacaran.
Senang memang….rasanya hati ini selalu berbunga-bunga setiap bertemu dengannya, setiap mendengar suaranya, atau sekedar menerima SMS darinya. Tapi tanpa aku sadari, aku telah menghabiskan sebagian besar waktuku untuk memikirkan dia.
Kegiatan perkuliahanku memang tidak pernah terganggu dengan pacaran, kegiatan berorganisasiku pun lancar jaya….tapi seandainya (ah…berandai-andai, hanya bentuk penyesalan dari seseorang yang putus asa)….seandainya dulu aku ga pacaran, mungkin aku lebih bisa mengembangkan potensiku tanpa terbentur oleh kepentingan pacar yang kadang membatasi. Aku bisa bermimpi seluas-luasnya tanpa terhambat oleh mimpi bahwa pada suatu hari nanti aku akan menjadi pasangan seumur hidup-nya.
Berkaitan dengan mimpi, aku pernah punya mimpi yang sangat dibatasi oleh berbagai ketidakmungkinan seandainya aku memilihnya menjadi pasangan hidupku.
Dengan mempertimbangkan pekerjaannya yang tidak mungkin hanya berdiam pada suatu daerah, aku pernah memiliki mimpi yang sangat dangkal untuk cukup menempuh pendidikan sampai S1 dan tidak memiliki pekerjaan apapun. Bukannya pekerjaan sebagai ibu rumah tangga itu tidak mulia, hanya saja bahkan aku ga pernah terpikir bekerja untuk sekedar mencari pengalaman, karena mimpiku keburu dikebiri oleh harapanku untuk menjadi pasangan hidupnya.
Bodohnyaaaa……hahaha…jahil abis!!!

Next Page »