Sepi
April 1st, 2012 § 2 Comments
Sepi itu rasanya selalu sama … kosong.
***
Waktu kecil, saya merasa kesepian kalau saudara-saudara saya tidak ada di rumah. Saya juga merasa kesepian kalau pulang sekolah tidak menemukan Mamah. Dan saya akan sangat senang menyambut Bapa pulang dari kantor selepas maghrib, karena rumah juga terasa sepi tanpanya.
Beranjak remaja, saya mulai menghabiskan lebih banyak waktu di luar rumah. Menghabiskan hari bersama guru dan teman-teman saya di sekolah. Saya mulai menemukan kesenangan baru di luar. Ketika liburan datang, saya akan merasa kesepian. Ingin liburan cepat selesai dan bertemu kembali dengan teman-teman saya.
Lalu, masuklah saya ke SMA berasrama. Tidak hanya siang hari saya bersama teman-teman, tapi sepanjang hari, dari pagi sampai malam. Bersama mereka adalah ‘kebiasaan’. Ada yang hilang ketika saya lulus lalu menghadapi kehidupan sebagai mahasiswa di luar asrama yang tidak seideal kehidupan di asrama. Saya merasa asing dan kesepian.
Seiring waktu, saya mulai menemukan teman-teman dekat di tempat kuliah. Tiga tahun berlalu, satu per satu teman saya lulus. Saya satu di antara yang lulus dalam waktu 4 tahun, padahal rata-rata teman saya lulus dalam 3,5 tahun. Semakin hari saya merasa kampus semakin sepi tanpa kehadiran mereka.
Lulus kuliah, tanpa menunggu satu hari pun, saya langsung ke Jakarta bersama 3 orang sahabat saya semasa kuliah. Dramatis sekali hari itu. Sehari sebelumnya saya memutuskan tidak jadi berangkat, tapi akhirnya berangkat juga karena ‘rayuan’ teman saya yang justru memutuskan tidak berangkat di detik-detik terakhir. Jadi, tersisa 3 orang. Kami menyewa kamar di rumah yang sama, bekerja di tempat yang sama, tapi beda tim. Padahal senang sekali seandainya kami bisa berkumpul dalam satu pekerjaan. Tapi, tidak dalam satu tim mungkin lebih baik bagi kami, karena kami juga perlu mengenal orang-orang baru, kan? Toh di kostan pun kami masih bisa sama-sama.
Pam Baru, nama kompleks tempat rumah kost kami berada. Ada dua rumah kost di Pam Baru yang ‘terhubung’ dalam beberapa hal, yang membuat kami sering melakukan aktivitas bersama. Formasi penghuni dua rumah di Pam Baru itu selalu berubah-ubah dari tahun ke tahun. Satu keluar, yang lain masuk, dan begitu seterusnya sampai hari ini. Saya merasakan kesedihan yang sama ketika satu per satu teman saya pindah.
… tapi saya merasa Pam Baru tidak pernah sesepi ini sebelumnya … :(
***
Hey … saya tidak pernah benar-benar sendiri kok, ada Allah yang selalu dekat.
Yang Tersisa dari Saya Setelah Ricuh Semalam
March 31st, 2012 § Leave a Comment
Hanya ingin menuliskan pecahan-pecahan ‘umpatan’ dari hasil nonton lawakan di TV semalam yang susah (baca: malas) saya rangkai dalam satu cerita utuh. Daripada jadi status Facebook atau kicauan di Twitter yang satu per satu tergerus oleh lini waktu, mending saya post di blog.
*****
Siapa yang mereka perjuangkan? Rakyat? Masa sih? Baiklah, lebih baik berpikir bahwa tidak semua yang di gedung itu busuk.
*
Semua orang ingin bicara, tapi tak ada satu pun yang mau mendengar.
*
Tidak adakah cara yang lebih santun untuk menginterupsi? Selain mengetuk-ngetuk kepala mic, bersahut-sahutan, bahkan meneriakkan kata-kata sampah dan mengolok-olok yang sedang berbicara. Memalukan.
*
Toh cepat atau lambat harga BBM akan tetap naik kan? Kalau tidak sekarang, ya nanti. Lalu, apakah setiap kenaikan harga BBM akan direspon dengan aksi unjuk rasa? Berpikirlah untuk mencari energi alternatif selain BBM, atau kembali bekerja, berpikirlah cara untuk meningkatkan penghasilan. Ya, saya tahu tidak mudah, tapi mungkin, kan?
*
Boleh berpikir sadis ga? Saya membayangkan layar TV tiba-tiba gelap setelah sebelumnya terdengar bunyi ledakan dan teriakan panik orang-orang di dalam gedung kura-kura. Astaga, maaf, semoga tidak terjadi.
*
Para polisi itu juga mungkin punya sahabat yang mahasiswa, adik yang mahasiswa, tetangga yang mahasiswa, percayalah, seandainya boleh memilih, pasti mereka memilih untuk tidak berhadap-hadapan dengan kalian, para mahasiswa. Bersikaplah dewasa.
*
Membayangkan, di-suatu-tempat-entah-dimana, sekelompok kecil orang sedang tertawa-tawa iblis sambil menyaksikan tayangan unjuk rasa dan rapat DPR yang ricuh. Ah, sudahlah, saya hanya terlalu banyak menonton film … fiksi.
*
Naikkan lah harga BBM setinggi kau suka, agar hanya orang super kaya yang mampu membawa mobil mereka ke jalan. Jadi gak macet kan? Sebagai kompensasinya, bangunkan kami transportasi publik yang aman dan nyaman, dengan harga terjangkau dan kapasitas memadai. Kalau hal itu sudah dilakukan dan ternyata kota-kota besar masih sama macetnya dengan sekarang, maka pemerintah boleh tenang karena berarti rakyatnya banyak yang sudah kaya.
*
Menurut laporan salah satu portal berita, terdapat beberapa kerusakan akibat unjuk rasa kemarin. Pagar pembatas tol rusak, pagar dan taman di halaman DPR juga rusak, terdapat banyak coretan pada gerbang Gedung DPR dan jalan raya. Dengan apa semua itu diperbaiki? Uang negara kan? Padahal katanya negara lagi susah, entah sesusah apa. Nah, lain kali unjuk rasa jangan sampai ganggu fasilitas dan ketertiban umum ya, kalau para pekerja -yang tiap bulan gajinya dipotong pajak- atau pengusaha ga bisa ke tempat kerja gara-gara terhambat kalian yang berunjuk rasa, nanti yang menutup biaya buat benerin fasilitas yang rusak siapa?
*
Mahasiswa ini kadang besar kepala. Mereka pikir cara seperti ini bisa merobohkan pemerintahan yang sekarang? Sejarah memang berulang, mereka boleh melihat pada kejadian di tahun 1998. Tapi peristiwa dulu dan sekarang terjadi dengan dua alasan yang tidak sama, dalam kondisi yang berbeda. Apa susahnya dulu aparat menghalau mahasiswa yang berdemo? Bahkan kalau mau, mereka bisa mengerahkan pasukan yang jumlahnya lebih besar dengan peralatan yang memadai untuk bisa mengamankan massa. Bukan kalian, para mahasiswa, satu-satunya sebab yang dapat menggoyang pemerintahan. Heuh, maaf saya banyak bual ya, saya tidak mengerti sejarah, hanya sedikit berusaha menggunakan logika.
***
Mungkin saya juga tidak lebih baik dari siapapun yang saya bicarakan di atas. Hanya menulis yang ingin saya ungkapkan, selebihnya saya tetap berkarya dengan apa yang bisa saya lakukan. Kamu tahu kenapa? Karena saya cinta Indonesia.
Bertualang … yang ingin saya lakukan! (2)
March 18th, 2012 § Leave a Comment
Malioboro pada Senin pagi tidak seramai pada akhir pekan. Masih sangat pagi, beberapa penjual souvenir di trotoar Malioboro baru membuka lapak jualan mereka, beberapa penjual bahkan masih menyusun barang mereka di rak-rak jualan. Dari Stasiun Tugu, tanpa tujuan saya berjalan menyusuri pinggiran Malioboro, penjual di trotoar lebih banyak tidak melakukan apa-apa. Saya pun hanya berpapasan dengan kurang dari 10 orang yang terlihat seperti pelancong, sisanya saya perkirakan penduduk asli yang beraktivitas di sekitar Malioboro.
Tidak ada acara belanja-belanja hari ini! Saya bertekad. Para penjual yang melihat saya lewat, menawari saya barang mereka. Saya hanya menolak dan melempar senyum. Dalam keadaan sepi pengunjung seperti ini, lebih baik tidak mampir ke satu lapak jualan pun karena saya tipe yang tidak tahan rayuan penjual. Lebih dari itu, saya tidak jago menawar. Namun saya sempat berhenti sebentar di lapak yang menjual pernak-pernik yang segera saya tinggalkan ketika penjualnya mulai merayu saya membeli.
Ganjil sebenarnya pakaian saya hari itu. Saya tidak membawa baju selain yang saya pakai waktu berangkat dan yang saya pakai ke pesta. Untung saya tidak membeli baju pesta yang terlalu banyak pernak-perniknya, hanya gamis simple yang tetap kelihatan agak ganjil kalau saya pakai jalan-jalan apalagi dengan menggendong sebuah ransel agak besar. Beruntung selembar pashmina menyelamatkan saya dari tatapan heran orang-orang yang berpapasan dengan saya.
Meninggalkan keramaian Malioboro, saya terus berjalan luruuus sampai di persimpangan, dimana saya melihat Kantor Pos Besar berdiri di seberang jalan. Saya berhenti sejenak, mengabadikan beberapa spot, termasuk entah-namanya-keraton-apa di sebelah kanan saya. Ingin rasanya masuk, tapi dari luar bangunan itu terlihat sangat sepi. Maka saya hanya duduk-duduk di depannya, beberapa kali menjepret ke arah keraton itu, ke tugu tepat di seberang keraton, dan ke kantor pos besar seberang jalan.
Tanpa tujuan pula saya mengambil jalan menjauhi Kantor Pos Besar, menyusuri Jalan Ahmad Dahlan ke arah barat. Kelihatannya lebih teduh dibandingkan dengan arah sebaliknya. Di kanan kiri, jalan trotoar langsung berbatasan dengan pintu-pintu toko, tanpa halaman. Ternyata jalan ini berujung di perempatan besar. Saya memutuskan kembali, menyusuri jalan kembali ke arah Kantor Pos Besar di sisi jalan satunya.
Sampai kembali di Kantor Pos Besar, saya melihat alun-alun dari jauh. Ah ya, saya ingat pernah kesana sebelumnya. Ketika liburan bersama 8 teman SMA dulu, sedang ada semacam pasar malam disana. Dari kejauhan kami melihat tumpukan baju, benar-benar menggunung, yang dijual bahkan dengan harga 1000 rupiah (atau lebih murah?) per potong. Ya, baju bekas. Kami tertarik dengan teriakan si pedagang, ketika mendekat, kami baru melihat bahwa itu baju bekas, yang benar-benar bekas.
Senin menjelang siang itu, alun-alun sepi. Saya berjalan di sepanjang jalan pinggiran alun-alun, beberapa becak melintas dan menawari saya tumpangan. Tidak! Saya menolak dan lagi-lagi hanya melempar senyum. Saya tidak jago menawar. Lagi-lagi alasan itu yang membenak.
Dalam keadaan yang cukup lelah setelah berjalan hampir tiga jam, bagai menang lotere berhadiah bedug raksasa, senang sekali menemukan papan pengarah menuju Masjid Gedhe. Masjid itu berada di salah satu sisi di seberang alun-alun. Sebelum masuk ke kompleks Masjid, saya menemukan pelataran cukup luas di depan gerbang besar. Kemudian ada dua gerbang lebih kecil dengan tembok cukup tinggi yang membatasi saya dengan kompleks Masjid Gedhe.
Desain masjid yang unik. Tidak berdinding, lebih seperti pendopo, dan tentu saja luas. Saya kagum melihat langit-langitnya, dan tiang-tiang tinggi yang menyangganya, beberapa kali saya jepret dengan kamera HP saya. Saya duduk di dekat salah satu tiang, menyelonjorkan kaki, dan mengeluarkan buku bacaaan saya. Namun perhatan saya teralih pada anak-anak SD yang datang bersama guru-guru mereka berhamburan memasuki masjid, tampak guru-guru itu mengatur murid-muridnya membentuk shaf. Lalu mereka mulai sholat dengan bacaan dinyaringkan. Rupanya, pelajaran sholat. Setelah satu rakaat, langsung salam. Mereka berlarian di dalam Masjid. Mereka pikir lapangan sepak bola? :) Senang sekali melihatnya.
Angin pagi menjelang siang saat itu cukup ampuh membuat saya mengantuk. Setelah berjalan hampir tiga jam, saya lelah dan tertidur, bangun ketika orang-orang mulai berdatangan sholat dhuhur. Saya merapikan jilbab dan pakaian saya. Bergegas meninggalkan masjid, saya sedang tidak sholat. Dan kamu tahu? Saya berjalan kaki lagi menuju Malioboro, teman saya menunggu di Mal Malioboro untuk makan siang.
Saya senang, suatu saat saya akan melakukannya lagi. Ke Yogya lagi? Tentu saja, nanti. Tapi maksud saya, saya akan melakukannya lagi, pergi ke suatu kota, turun dimana pun dan saya akan susuri kota itu entah sampai mana ujungnya, seharusnya nanti saya lebih banyak berbincang dengan penduduk lokal dan menemukan sisi lain dari kota itu.
Sampai satu hari saya punya ide, bagaimana kalau saya mulai dari terminal bus? Pergi ke salah satu terminal bus, naik bus apapun yang ingin saya naiki, kemanapun itu, dan berpetualang. Kali itu saya tidak akan sendirian, tapi berdua dengan teman perjalanan yang paling menyenangkan :)
Mungkin kamu? Mau ikut?
Bertualang … yang ingin saya lakukan! (1)
March 18th, 2012 § Leave a Comment
Yogyakarta terbilang kota yang cukup sering saya kunjungi, apalagi selama tiga tahun saya tinggal di Magelang yang hanya berjarak tempuh kurang lebih satu jam dari Yogya.
Selalu ada alasan kembali ke Yogya.
Tiga bulan pertama di Magelang, kami satu angkatan SMA melakukan perjalanan menapaki jejak Panglima Besar Soedirman ketika gerilya dulu. Kami memulai perjalanan dari Parangtritis, berjalan menanjak menaiki bukit berbatu-batu, terjal, kering dan panas menuju Gunung Kidul. Sempat berhenti di rumah sangat sederhana yang katanya dulu jadi salah satu tempat persinggahan Jenderal Soedirman. Berjalan kaki berkilo-kilo meter (lupa persisnya) entah sampai desa apa namanya, disana kami finish di suatu masjid yang desainnya sangat mirip dengan Masjid Pangsar Sudirman di kampus kami. “Pasti masjid kampus kami terinspirasi dari masjid ini,” saya membatin.
Lebih dari satu tahun kemudian, Tim Marching Band beberapa kali membawa saya ikut tampil di Yogya dalam berbagai kegiatan. Kami tampil di stadion entah-apa-namanya-itu pada rangkaian kegiatan Agustusan atau hari besar nasional lainnya. Sebelum kembali ke Magelang, selalu saja ada acara mampir setidaknya ke Malioboro dan sekitarnya.
Pernah juga menghabiskan tiga hari libur bersama delapan teman SMA, menyewa dua kamar hotel dan jalan-jalan ke beberapa spot di Yogya. Istana Air adalah salah satu tempat yang kami kunjungi untuk pertama kalinya.
Lalu pada liburan yang lain, saya memilih tidak mudik ke kampung halaman. Di Graha hanya tersisa kurang dari 10 orang siswa putri, dan kami mulai merencanakan perjalanan liburan sendiri, diantaranya ke suatu pantai yang sepi di Purworejo, dan tentu saja Yogya, tidak jauh, lagi-lagi ke Malioboro dan sekitarnya.
Di akhir minggu, beberapa kali juga sempat pesiar ke Yogya. Sampai pernah telat kembali ke kampus, beruntung masih selamat dari hukuman. Mengingat setahun sebelumnya, waktu kelas 2, saya dan seorang teman pernah kena hukum lari tiga kali keliling track lapangan sepak bola pada jam satu siang, panas dan berdebu, disaksikan satu angkatan adik kelas 1 yang sedang apel siang gara-gara telat kembali ke kampus sepulang dari pesiar. Malu rasanya membayangkan apa yang ada di pikiran adik-adik saat itu, “Ooh … ini ya kakak-kakak yang tidak patut ditiru”. Heuh …
Di akhir kelas 3, beramai-ramai kami ke Yogya, lebih dari separuh angkatan saya mengikuti Ujian Masuk UGM, saya termasuk salah satu yang ikut-ikutan, bahkan memilih jurusan pun ikut-ikutan, tidak ada ide lain selain memilih FK karena banyak teman putri saya memilih jurusan itu. Dan dipastikan Yogya bukan kota tujuan selanjutnya setelah tiga tahun di Magelang, karena saya tidak lolos Ujian Masuk.
Dari sekian kali saya ke Yogyakarta, ada satu kali yang menyenangkan dan ingin saya ulangi suatu hari nanti, juga di kota-kota lain.
Hampir tiga tahun lalu, saya menerima undangan pernikahan dari salah seorang teman SMA saya di Banjarnegara, satu kota kecil di selatan Jawa Tengah. Itu salah satu perjalanan yang tidak terlalu saya rencanakan sebenarnya. Waktu itu saya berangkat dari Bandung dengan tujuan Magelang, janji berangkat bareng ke Banjarnegara bersama beberapa teman dari sana. Bolak balik sih, mengingat Banjarnegara sebenarnya berada di antara Bandung dan Magelang.
Dengan ketidakpastian saya datang ke agen bus Bandung-Yogya via Magelang di Jalan Juanda Bandung memastikan bus malam yang berangkat ke Magelang masih punya satu kursi kosong untuk saya. Ternyata ada. Dan siang itu saya menghabiskan beberapa jam di sekitar Dago membeli perlengkapan ke pesta pernikahan, dari mulai baju sampai tas dan sepatu. Sabtu malam itu saya berangkat dengan satu ransel dan satu kantong belanjaan. Saya baru memberitahu Mamah sesaat sebelum bus berangkat.
“Sama siapa Put?”, tanya Mamah.
“Banyak kok, satu bus”, jawab saya sambil melirik orang asing di samping saya.
Saya tersenyum.
Karena tidak direncanakan, saya pun tidak merencanakan bagaimana caranya nanti kembali ke Jakarta. Saya hanya berpikir Minggu pagi sampai di Magelang, dan Minggu malam sudah duduk di bus malam menuju Jakarta. Di luar perkiraan, saya tidak mendapat bus pulang ke Jakarta. Saya memikirkan alasan bolos kerja hari Seninnya, dan melanjutkan liburan dadakan saya di Yogya.
Saya menumpang satu malam di kost teman saya. Tentu saja saya tamu yang tidak direncanakan. Hari Senin teman saya kembali beraktivitas, dan saya tidak mungkin sendirian di kost. Maka setelah mengantar membeli satu tiket kereta malam ke Jakarta, teman saya meninggalkan saya sendirian di Stasiun Tugu dekat Jalan Malioboro.
Borno … Borno … kau membuatku rindu jatuh cinta
March 18th, 2012 § Leave a Comment
Borno … pemuda paling lurus sepanjang tepian Kapuas …
Bagaimana rasanya jatuh cinta, Borno?
Iya … seperti yang kamu rasakan pada Mei.
Bagaimana rasanya ketika pertama kali melihat si sendu menawan berbaju kurung kuning itu di perahu motormu -perahu motor yang kalian sebut sepit itu- lalu duduk memunggungimu? Bahkan punggungnya pun membuatmu berdebar, kan?
Bagaimana rasanya ketika kamu tidak sengaja menemukan angpau yang mungkin milik Mei tertinggal di sepitmu? Ah, girang bukan kepalang ya? Karena angpau itu lah yang akan mengantarkanmu pada pertemuan kalian berikutnya.
Bagaimana rasanya ketika pertama kali Mei memanggil namamu? Iya, namamu! Padahal belum pernah sekali pun kalian berkenalan, kan? Sesaat kamu pasti merasakan dunia di sekitarmu berhenti.
Bagaimana rasanya mengajari Mei mengendarai sepit? Pasti kamu berharap motor sepitmu rusak dan kalian terombang-ambing di tengah Kapuas terbawa arus bagaikan sabut kelapa. Karena waktu tidak pernah berhenti, Borno, maka kamu harus mencari cara lain untuk ‘menghentikan waktu’.
Bagaimana rasanya harap-harap cemas menunggu Mei di antrean sepit nomor tiga belas? Bahkan melihatnya melangkah masuk dermaga pun hatimu berdesir-desir, kan? Bagaimana pula rasanya kalau Mei juga sampai naik di atas sepitmu. Mungkin kau berharap Kapuas selebar Selat Malaka, atau Samudera Hindia sekalian, agar kamu bisa berlama-lama menatap punggungnya dan melihatnya dengan lembut menyibak anak rambut di dahinya.
Bagaimana rasanya makan berdua di restoran terapung di Kapuas, disoraki orang-orang sekampungmu, Borno? Pasti malu ya, mungkin terjun bebas ke Kapuas sempat terlintas di pikiranmu? Tapi bohong kalau kamu bilang “Tidak senang”, ya kan?
Tapi … bagaimana rasanya ketika Mei mengingkari janji pertemuan denganmu, bahkan menghindarimu, tanpa alasan pula? Apa gulai kepala ikan buatan ibumu masih terasa nikmat di lidahmu sejak kejadian itu? Pasti tidak kan?
Apalagi ketika harus berpisah dengan Mei, tanpa kamu tahu bagaimana perasaannya padamu? Gelisah ya? Saat itu lah kamu tidak memiliki hidupmu sendiri, entah se-per berapa waktumu dalam sehari kamu habiskan untuk memikirkannya, memikirkan harapan-harapan yang bisa jadi hanya khayalanmu sendiri.
Tapi, setidaknya kamu merasakan jatuh cinta, Borno.
Bagaimana rasanya jatuh cinta, Borno? Sungguh, aku lupa.
***
Siapa Borno, siapa pula Mei?
Silakan tanya Bang Tere Liye di novelnya yang terbaru :)
Ketika Baca Buku adalah Pekerjaan Membosankan
March 9th, 2012 § Leave a Comment
Sesuatu yang kita anggap bagus, belum tentu bagus menurut penilaian orang lain, begitu juga sebaliknya. Misalnya, BUKU. Coba perhatikan rating yang diberikan para Goodreaders pada satu buku saja.
Kemarin saya baru selesai membaca The Alchemist karya Paulo Coelho. Seperti biasa saya meng-update Goodreads, sebuah jejaring sosial untuk bertukar informasi mengenai buku, dan menambahkan The Alchemist ke salah satu shelves saya. Tak lupa saya menyematkan bintang. Dari 5 bintang, saya beri 3 bintang, yang berarti “liked it“. Lalu saya membaca review beberapa orang mengenai buku tersebut. Banyak yang memberi 3 bintang juga, bahkan 4 atau 5, tapi tak sedikit yang hanya memberi 1 bintang, yang berarti “did’nt like it“.
Saya sendiri suka buku ini, karena walaupun inti ceritanya adalah tentang mewujudkan impian dan mengejar takdir, yang juga sering menjadi tema dari banyak novel lainnya, namun Paulo Coelho bercerita dengan latar waktu dan setting tempat yang berbeda dengan novel-novel lain yang memiliki tema serupa, jalan ceritanya unik, sedikit mistik, tentang bagaimana manusia “berkomunikasi” dengan dunia. Hmm, mungkin ini sejenis cerita parabel ya?
“Dan saat engkau menginginkan sesuatu, seluruh jagat raya bersatu padu untuk membantu meraihnya”. Sama dengan konsep Mestakung bukan? Semesta mendukung.
Lebih lengkapnya silakan intip langsung novelnya ya.
Nah, kembali ke topik di awal tulisan ini. Kenapa sebagian orang menganggap novel ini hebat, sementara yang lainnya menilai biasa saja?
Kalau menurut saya, ada beberapa faktor yang mempengaruhi penilaian orang terhadap sebuah buku.
Pertama, mood alias suasana hati saat membacanya.
Selesai membaca salah satu cerpen di buku Sakinah Bersamamu, saya nangis sesenggukan, saya bilang cerpen itu bagus dan sedih banget, heran juga mendengar tanggapan teman saya yang dengan datarnya bilang, “Ooh yang itu … biasa aja”. Ternyata eh ternyata suasana hati saya memang sedang membiru saat itu.
Kedua, timing.
Seorang Goodreaders yang memberi 1 bintang pada The Alchemist menulis seperti ini, “Kalau saya membacanya 5 tahun lalu, mungkin saya akan memberi 4 bahkan 5 bintang untuk buku ini …….. dst”. Betul juga, membaca materi sebuah buku pada waktu yang tidak tepat akan mempengaruhi penilaian kita terhadap buku tersebut. Contoh lainnya adalah saya bisa bertahan tanpa senyum sesungging pun ketika membaca buku-buku dengan gaya bertutur humor yang diburu anak-anak SMA dan kuliah. Faktor “U” dalam hal ini sangat berpengaruh.
Ketiga, ekspektasi.
Bagaimana ekspektasi kamu ketika melihat cover buku bertuliskan Best Seller, atau Karya Novelis Nomor 1 Indonesia? Pasti ekspektasinya langsung melambung. Ada beberapa buku yang saya baca dengan cover spektakuler seperti itu tapi isinya tidak sespektakuler cover-nya, mungkin bukan berarti buku itu tidak bagus, hanya ekspektasi pembacanya yang terlalu tinggi.
Keempat, selera.
Jelas. Misalnya beberapa waktu lalu saya melahap habis Tetralogi Buru Pramoedya Ananta Toer, dengan antusias saya menceritakan isi buku itu ke teman-teman dan merekomendasikan mereka membacanya, tapi seorang teman saya yang mencoba membaca hanya bertahan sampai Bumi Manusia, buku pertama dari Tetralogi Buru. Kemungkinan terbesarnya adalah, dia tidak berselera pada cerita roman sejarah.
Kelima, kebutuhan.
Kenali kebutuhan kita sebelum membeli buku, informasi apa yang ingin kita dapat dari buku yang hendak dibaca, agar tidak salah beli dan baca buku, yang pada akhirnya mempengaruhi penilaian kita pada buku tersebut.
Keenam, penilaian orang lain terhadap buku tersebut.
Walaupun sedikit, pasti ngaruh, setidaknya menurut saya. Kadang hikmah atau kesimpulan isi buku kita dapat dengan membaca review atau mendengarkan pendapat orang lain. Atau di lain waktu, kita dengan antusias membaca buku yang booming dan dibicarakan banyak orang walaupun tema buku tersebut bukan selera kita. Atau bahkan kita menganggap suatu buku bagus padahal baru sampai pada halaman depan yang memuat testimoni orang-orang ternama mengenai buku tersebut, dalam hal ini kita membaca untuk membuktikan persepsi kita bahwa buku tersebut bagus adalah benar.
Ketujuh, dan seterusnya masih dipikirkan. Ada yang punya ide? :)
Nah, jadi, kalau satu saat kamu tidak sampai habis membaca suatu buku, mungkin alasannya adalah salah satu poin atau kombinasi beberapa poin di atas? Kalau tidak, maka kemungkinannya buku yang dibaca memang tidak bagus.
Itu kan pendapat saya, bagaimana menurut kamu? :)
Tidak Cukup Dewasa untuk Bicara Cinta
February 3rd, 2012 § 1 Comment
Saya selalu terkesima dengan mereka, dua orang yang dipertemukan ketika sama-sama belum mengerti ‘cinta’ jenis ‘monyet’ maupun ‘serius’, kemudian bisa saling menahan perasaan masing-masing sampai akhirnya menikah bahkan setelah sepuluh tahun kemudian. Ya bisa saja, mereka kan saling mencintai?
Pria itu bukan siapa-siapa. Berpenghasilan pun tidak. Tapi wanita itu tetap mendukungnya. Bahkan menikahinya. Modalnya ‘hanya’ saling percaya, dan keyakinan bahwa suatu saat kehidupan mereka akan jauh lebih baik. Kenapa tidak? Mereka kan saling mencintai?
Pemandangan cukup menarik terlihat di meja seberang tempat saya makan di suatu foodcourt. Seorang wanita cantik mesra berbagi makanan dengan seorang pria yang ‘biasa saja’ bahkan teramat biasa, sekelebat pikiran menyapa, “Kalau mau, si wanita itu bisa mendapatkan yang lebih ‘baik’”. Tapi … mereka kan saling mencintai?
Pemandangan sebaliknya terlihat di sebuah mal. Si wanita berbadan subur tampak kepayahan mengejar anak balita yang berlari lincah di antara orang yang berlalu lalang, seorang pria tegap berwajah tampan mengikutinya dengan tangan penuh menenteng barang belanjaan. Kalau mau, pria itu bisa dengan mudah meluluhkan wanita lain yang lebih muda dan cantik. Tapi sepertinya tidak … mereka kan saling mencintai?
Wanita itu bekerja profesional dan berpenghasilan besar. Sementara pria itu bekerja sebagai pegawai lapangan yang bermodal sepeda motor pinjaman kantor. Lalu mereka bertemu, saling berbagi mimpi dan rasa yang sama, tidak terlihat perbedaan. Ah … itu kan karena mereka saling mencintai?
Sebagian rambutnya telah beruban, seorang wanita muda bersanding dengannya di pelaminan. Tiga anak menginjak remaja dan dewasa menghampiri pria beruban itu, kemudian membentuk formasi untuk foto keluarga. Kalau mau, wanita itu bisa menikahi pria muda yang belum pernah berkeluarga. Tapi mereka kan saling mencintai?
Dan ketika dua orang saling mencintai, apa alasan untuk tidak saling menerima?
#Benar-benar pikiran yang sering muncul di kepala saya belakangan ini, “Tapi mereka kan saling mencintai?”.
Hujan Datang Terlambat
January 22nd, 2012 § 1 Comment
Hujan terlambat datang hari itu.
Walaupun tidak ada satu pun dari kami yang mengharapkannya.
Hari itu libur yang teduh, saat yang paling tepat untuk berpiknik. Ibu sedari pagi menyiapkan keranjang berisi roti, buah-buahan, snack, dan jus mangga, serta merapikan tikar tipis yang terhampar di sudut ruangan keluarga. Tikar itu Ibu lipat seringkas mungkin agar bisa muat ke dalam keranjang piknik.
Andai hujan datang lebih cepat hari itu, walaupun kami tidak mengharapkannya.
Sungguh, hujan tidak akan sedikit pun mengurangi kebahagiaan kami. Iya, aku pasti sedikit kecewa, tapi tidak akan membuatku sedih berkepanjangan seperti saat ini. Hujan pada hari libur bisa menahan siapapun untuk tidak keluar rumah. Kami menciptakan kehangatan di dalam rumah untuk melawan udara dingin dari luar. Ada banyak permainan yang bisa kami lakukan.
Aku akan bersembunyi, sementara Ayah menghitung sampai 25, lalu dia berkeliling rumah mencariku, dan pura-pura tidak melihat bahkan ketika ujung bajuku menyembul dari balik pintu. Setelah bosan, aku akan menunggangi Ayah dan berusaha mengejar Ibu yang berteriak-teriak seolah-olah ketakutan. Aku semakin semangat memacu Ayah, kuhentak-hentakkan kakiku gembira, dan menepuk-nepuk bahu Ayah agar dia ‘berlari’ lebih kencang. Ketika Ayah meringis karena lututnya kesakitan, dia akan tergeletak di atas lantai sambil masih tertawa-tawa, lalu aku mulai menggelitikinya, dan tangannya dengan sigap menangkap tubuhku, dalam posisi yang masih terlentang diangkatnya aku dengan kedua telapak kakinya, jemari kami saling menggenggam, walaupun takut aku tetap tertawa-tawa gembira.
Tapi hujan datang terlambat hari itu. Ibu kehabisan mentega untuk mengoles roti piknik kami, Ayah dengan sigap keluar rumah menuju warung terdekat dengan sepedanya. Tiba-tiba gerimis turun, namun semakin lebat, dan Ayah belum kembali.
Ayah datang, tapi tidak sendiri. Sekelompok pemuda yang biasa duduk-duduk di gardu depan kompleks perumahan dekat jalan besar mengangkatnya beramai-ramai. Seonggok sepeda penyok dibawa seorang pemuda yang lain. Ayah tertidur dan tidak pernah terbangun lagi.
Hujan seharusnya datang lebih cepat … karena hanya hujan yang akan menahan Ayah di rumah hari itu.
#gambar diambil dari sini
Kamar Mandi dan Kekuatan Super
January 21st, 2012 § Leave a Comment
Saya merasa memiliki tenaga ekstra besar dua hari terakhir ini.
Malam kemarin, saya tidur cepat setelah makan malam, akibatnya tengah malam saya terbangun dan sulit tertidur lagi. Saat terbangun itu saya merasa mulut kering. “Ya Tuhan, jangankan gosok gigi, minum setelah makan malam pun saya tidak”, seketika saya sadar begitu melihat air di gelas di samping piring kotor bekas makan malam saya masih penuh.
Saya pun memutuskan ke kamar mandi dan gosok gigi (akhirnya), walaupun malas sebenarnya, dan disanalah saya menyadari kekuatan super saya.
Saya mengambil sikat gigi, memberinya sedikit pasta gigi, lalu hendak memutar keran daan …. OMG … Patah!!! Air bocor dan muncrat kemana-mana. Secara refleks saya mengeluarkan kata umpatan, “€$*¥, ada-ada aja siihh!!!”. Maka pemandangan berikutnya adalah, tangan kanan menggosok gigi, tangan kiri memegang keran yang hampir lepas, sementara airnya muncrat ke badan saya. Aarrghh …
Dan kejadian superpower terjadi lagi tadi pagi. Lagi-lagi TKPnya adalah kamar mandi. Karena ada teman saya di kamar mandi anak kost, saya bermaksud numpang di kamar mandi belakang, tempat si bibi biasa mencuci. Saya menaruh handuk di gantungan yang tertempel di kusen jendela belakang pintu kamar mandi, ketika tiba-tiba … kreeekk … brak!! Gantungan baju itu jatuh, beserta paku, dan sedikit bagian kusennya. Oalaaahhh … lagi???
Setelah ini apalagi?? Toilet pecah setelah saya duduki? Dinding bak mandi hancur karena saya menyenggolnya? Air bak menjadi air bah ketika saya meng’gayung’nya? Bumi gonjang ganjing? Angin puting beliung? Atap kamar mandi runtuh? Ayam tetangga mati mendadak? Gejala apa ini??? Sebaiknya saya lebih banyak istirahat … heuuh … menarik selimut.
#happy saturday morning all … ZzZzzz …
Ngomong-ngomong, anak kost ga akan ada yang tau siapa yang mematahkan keran kamar mandi sampai membaca postingan ini.
[Buku] Kedai 1001 Mimpi
January 21st, 2012 § Leave a Comment
Hey … ini buku pertama yang saya baca sampai tuntas dalam dua bulan terakhir, sekaligus juga membangkitkan kembali semangat baca saya yang sempat hilang karena buku-buku kurang menarik yang saya baca sebelumnya. Jadi, ternyata … ada kaitannya juga kan tingkat ‘kemenarikan’ sebuah buku dengan semangat membaca?
Tapi tentu saja, itu hanya alasan saya seorang. Karena pada kenyataannya buanyaak teman saya yang bisa asyik membaca jenis bacaan apapun, tanpa merasa ada satu pun buku yang tidak menarik.
Kembali ke Kedai 1001 Mimpi. Mungkin banyak yang sudah tahu ya … secara buku ini saya lihat terpajang manis di rak terdepan Gramedia walaupun saya tidak membeli di Gramedia, dan direkomendasikan beberapa teman saya di Goodreads. Buku ini tidak sengaja saya temukan di stand penerbitnya di pameran buku di Istora dua bulan yang lalu. Selama ini melihat di Gramedia tidak pernah tertarik membeli karena menurut saya terlalu tebal untuk buku pengalaman wisata. Ya, pada awalnya saya menyangka buku ini tentang perjalanan wisata -seperti yang populer dalam beberapa tahun terakhir- di negara-negara Arab.
Melihat diskon yang menarik di pameran, apa salahnya membeli? Toh pada akhirnya (mungkin) saya akan membelinya juga setelah semakin banyak orang memberi testimoni menarik untuk buku ini.
Arabia Undercover, sepertinya sempat menjadi alternatif judul sebelum buku ini terbit, tapi saya setuju judul itu akhirnya tidak dipakai, karena menurut saya ketika orang-orang membaca judulnya, mereka akan sudah tahu isinya seperti apa, setidaknya menebak-nebak. Mengingat ada buku sangat populer beberapa tahun lalu berjudul Jakarta Undercover yang mengangkat undercover-nya Jakarta. Hayoh dibolak balik. Jangan kira saya yang lugu dan lucu ini tidak pernah membacanya ya. Hehehe. Hoeks …
Saya salut pada penulisnya, juga penerbitnya tentu saja, karena berani menerbitkan buku dengan isi yang … yeah silakan baca sendiri. Kalau Moammar Emka, si penulis Jakarta Undercover, boleh berani karena mengungkapkan perilaku ‘bebas’ di Jakarta, yang mana terletak di negaranya sendiri, maka Vabyo, begitu Valiant Budi akrab disapa, secara berani mengungkapkan keanehan, kejanggalan, ketidakwajaran di negara orang lain, seperti ingin menegaskan prototipe warga Arab yang kasar dan memiliki hasrat seks yang besar, bahkan terhadap sesama jenis sekalipun, yang mana jika dikaitkan dengan kesan bahwa Arab adalah Islam, justru perilaku warganya jauh dari Islami. Tapi, lain Arab, lain Islam, buku ini tentang budaya dan tradisi, bukan agama. Toh, di beberapa kesempatan, penulis juga menemukan kedamaian Islam disana. Faktor lingkungan kerja, lingkungan tempat tinggal, tujuan berkunjung, dan lamanya tinggal juga mempengaruhi bagaimana kesan seorang terhadap suatu tempat kan?
Kesimpulan dari saya …
… bertebaranlah kamu di bumi, carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung. (QS 62:10)
Satu ayat merangkum semuanya :)
Informasi buku:
Judul : Kedai 1001 Mimpi
Penulis : Valiant Budi
Penerbit : Gagasmedia
Cetakan : I, 2011
Jumlah halaman : 443 + xii


