Kerumunan

Leave a comment

Melihat kerumunan di Monas pada Hari Pelantikan Presiden 20 Oktober 2014 kemarin, saya tetiba terpikir untuk menulis ini. Hari itu hampir semua stasiun TV menayangkan acara pelantikan presiden, termasuk juga acara yang mengiringi setelahnya yaitu ketika Presiden diarak dengan kereta kuda dari Bundaran HI menuju Istana Merdeka, lalu pada malam harinya, keramaian berpindah ke Lapangan Monas.

Pada waktu maghrib, sesaat setelah adzan berkumandang di TV, acara di Monas pun dimulai, musik pembuka mulai dimainkan. Saya tak bisa menahan diri untuk berkomentar, “Dari sekian banyak orang yang di Monas saat ini, Put mah yakin da cuma segelintir orang yang shalat”.

Mengingat Indonesia adalah negara dengan populasi muslim terbesar di dunia maka wajar jika saya berpikir sebagian besar yang berkerumun itu adalah muslim.

Saya kemudian teringat sekitar 3 tahun lalu pernah menonton sepakbola Indonesia Vs Malaysia di GBK dalam gelaran SEA Games. Sepakbola dimulai sekitar jam 7 malam, dan orang-orang bahkan sudah berkerumun di sekitar GBK pada sore hari. Saya sengaja menunggu di masjid terdekat dari GBK, agar bisa shalat maghrib dulu lalu jalan tak berapa jauh ke GBK. Saat adzan berkumandang, dari sekian banyak orang di sekitaran GBK, bahkan banyak pula yang duduk-duduk di halaman masjid, hanya sedikit saja yang melaksanakan shalat maghrib berjamaah.

Lalu teringatlah saya akan sabda Rasulullah SAW:

“Setelah aku wafat, setelah lama aku tinggalkan, umat Islam akan lemah. Di atas kelemahan itu, orang kafir akan menindas mereka bagai orang yang menghadapi piring dan mengajak orang lain makan bersama.”

Maka para sahabat r.a. pun bertanya, “Apakah ketika itu umat Islam telah lemah dan musuh sangat kuat?”

Sabda Baginda SAW, “Bahkan masa itu mereka lebih ramai tetapi tidak berguna, tidak berarti dan tidak menakutkan musuh. Mereka adalah ibarat buih di laut.”

Sahabat bertanya lagi, “Mengapa seramai itu tetapi seperti buih di laut?”

Jawab Rasulullah SAW, “Karena ada dua penyakit, yaitu mereka ditimpa penyakit al-Wahn.”

Sahabat bertanya lagi, “Apakah itu al-Wahn?”

Rasulullah SAW bersabda, “Cinta akan dunia dan takut akan kematian.”

(http://www.islampos.com/umat-islam-akhir-zaman-seperti-buih-97100/)

Dalam kerumunan, identitas sosial seseorang akan tenggelam, namun identitas manusia sebagai makhluk Allah akan tetap melekat. Maka, penuhi hak-hak Allah di atas yang lainnya.

#notedtomyself

Kejujuran Yang Mahal di Kampung Saya

Leave a comment

Awalnya mau diberi judul ‘Kejujuran yang Mahal di Negeri Ini’ tapi terdengar terlalu luas, lagipula mungkin kejadian yang mau saya ceritakan ini hanya tinggal terjadi di kampung saya, di suatu minimarket dekat rumah saya.

Ceritanya kurang lebih sama dengan yang pernah saya posting beberapa waktu silam di tulisan Penting! Memeriksa Uang Kembalian. Hanya setelah kejadian terbaru kemarin saya makin yakin ngutip uang kembalian pembeli menjadi ‘budaya’ di minimarket itu.

Ceritanya kemarin saya belanja 2 item barang. Saya tidak cek satu per satu harga yang tertera di rak pajang, hanya langsung ke kasir, lalu si kasir menyebutkan jumlahnya, “Enam puluh ribu rupiah”. Kebetulan saya membawa uang pas dan menyerahkan uang Rp 60.000.

Biasanya saya gak peduli lagi untuk menunggu struk apabila jumlah tagihan dan uang sudah pas, hanya setelah kejadian sebelum-sebelumnya saya lebih berhati-hati lagi dengan kasir-kasir di minimarket ini.

Agak lama juga si kasir mencetak struknya sebelum menyerahkannya ke saya. Saya baca ternyata total sebenarnya adalah Rp 59.600. Saya buru-buru balik ke kasir. Dengan nada suara sebiasa mungkin saya bilang, “Teh, kembaliannya gak kurang 400 ya? Kan totalnya hanya 59.600?”
Si kasir itu tampak kikuk, apalagi disitu dia sedang melayani pembeli lain, tanpa memandang wajah saya dia membuka laci kasir dan menyerahkan uang 500. Kelebihan 100? Ya sudah lah… saya tidak ingin berbicara lebih banyak lagi dengan kasir itu. “Terima kasih”, kata saya sambil melangkah keluar toko.

Mungkin ini hanya terjadi di kampung saya, saya yakin tidak banyak kasir curang seperti ini, tapi sebagai pembeli kita berhak melindungi hak-hak kita, setidaknya mengantisipasi kejadian-kejadian seperti itu dengan:
1. Cek harga yang tertera di rak pajangan.
2. Pastikan mendapat struk dari kasir, kalau tidak dikasih, ya minta.
3. Cek struk, pastikan harga di rak sama dengan harga di struk.
Tiga hal ini utamanya dilakukan karena sering kejadian harga di rak pajangan itu gak update.
4. Jangan mau diberi kembalian berupa permen. Itu dilarang dan ada undang-undangnya lho.
5. Kalau kasir menawari uang kembalian untuk didonasikan, dan kita setuju, pastikan uang donasi itu tercetak di struk.
Pun kita bisa protes kalau tiba-tiba tercetak donasi di struk sebelum meminta persetujuan kita, kejadian Mamah saya, tanpa ba bi bu tahu-tahu uang kembaliannya masuk sebagai donasi sebelum meminta persetujuan Mamah.
6. Kalau memungkinkan sih bawa uang pas ke toko, termasuk recehan 100 atau 200 rupiah, mengantisipasi hal-hal di atas.

Itu poin-poin penting menurut saya, atau ada yang lain? Silakan tinggalkan di kolom comment ya :)

Uang-uang kembalian itu mungkin tidak seberapa, tapi itu adalah hak kita. Dan yang lebih penting lagi kita tidak melakukan pembiaran pada ketidakjujuran yang terjadi di dekat kita.

Stop The Mom Wars

Leave a comment

Teman saya, seorang ibu bekerja dengan 1 orang anak, curhat di salah satu grup whatsapp tentang pertemuan-tak-sengaja-nya dengan temannya, seorang IRT, yang kemudian menghakimi si teman saya ini karena memilih bekerja lalu mengunggulkan dirinya sendiri yang stay di rumah demi anak. Komentar pun bermunculan menanggapi curhatan itu, tak terkecuali dari member grup laki-laki.

Familiar dengan topik itu? Bahkan kalau mau saya list, masih baaanyaaak lho topik-topik lain yang sering menimbulkan perdebatan di kalangan ibu-ibu muda masa kini. Perdebatan ini pun tidak jarang tidak menemukan titik temu, karena ibu yang satu merasa pilihannya lebih baik daripada pilihan ibu yang lain.

Kalau ada yang kurang paham, perdebatan ini bisa saya analogikan seperti perdebatan antara Pendukung Prabowo Vs Pendukung Jokowi di Pilpres kemarin. Eh bisa ga sih? Atau agak maksa ya? Hehe…

Ah, basi ya? Saya sebenarnya tergelitik untuk menulis ini sejak berbulan-bulan lalu, ketika mulai membuka mata untuk dunia per’mommy’an yang ‘kejam’. Halah lebay hehe. Hanya saya menahan diri untuk tidak membahasnya, karena obrolan soal ini layaknya masakan yang dihangatkan berkali-kali. Mungkin masih bisa dimakan, tapi, masih enak ga sih?

Kerumitan dunia emak-emak saya rasakan terutama sejak melihat 2 strip di testpack kehamilan kurang lebih 2 tahun silam. Saya sendiri termasuk yang cuek dan berusaha tidak merumitkan masalah yang sederhana, namun seringkali lingkungan sekitar saya yang membuat saya berpikir lebih rumit, tentang hal yang boleh dan tidak boleh, tentang hal yang seharusnya dan tidak seharusnya, dlsbg.

Lagi pun ibu-ibu muda sekarang lebih melek terhadap informasi dengan semakin mudahnya akses terhadap internet. Dan secuek-cueknya saya, saya pun tidak bisa menutup mata dengan hanya bertahan pada prinsip yang saya yakini. Saya pun merasakan, semakin banyak menelan informasi, semakin saya merasa terkejar untuk melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan ibu-ibu yang dianggap sukses di luaran sana. Bahkan ketika saya terlalu sibuk mencari tahu soal ini itu, saya sampai lupa berkaca pada diri sendiri, apakah saya mampu konsisten dan komitmen untuk melakukan kebiasaan ibu-ibu yang dianggap sukses itu?

Di sebuah seminar parenting yang pernah saya ikuti, pembicara mengatakan, “Parenting itu sederhana, saaangaaat sederhana, lakukanlah hal yang semestinya dilakukan”.

Dan para ibu, mari kita saling menghormati pilihan masing-masing, dan bersyukur dengan apa yang kita miliki sekarang. #notedtomyself

Sumber gambar:

http://herscoop.com/posts/empowering-photo-series/

Etika Mengobrol di Tempat Umum

Leave a comment

Memang tidak ada aturan tertulis, apa yang boleh dan tidak boleh dibahas dengan ‘noisy’ di tempat umum. Tapi, sebagai manusia dewasa yang berpikir, semestinya kita tahu apa yang pantas dan tidak pantas diungkapkan ketika di sekitar kita sedang banyak orang, dan mereka adalah orang-orang yang tidak kita kenal.

Sore ini, saya, Bapa, dan Akhtar dalam perjalanan KRD dari Kiaracondong menuju Padalarang, setelah mengantar suami saya ke Stasiun Bandung untuk melanjutkan perjalanan ke Surabaya.

Di dekat kami, duduk beberapa orang remaja putri, perkiraan usia SMA. Saya kurang lebih bisa memahami mengapa mereka mengobrol dengan suara keras sementara mereka di tempat umum. Saya pun pernah seusia mereka, dan rasa ingin mendapat perhatian dari orang-orang sekitar itu mesti ada.

Tapi ketika yang diobrolkan adalah masalah pribadi, urusan hati, rasa-rasanya kok tak pantas ya. Apalagi beberapa orang sampai menengok ke arah mereka, dan terpaksa ‘mencuri dengar’. Pun tidak tepat disebut ‘mencuri dengar’, karena pada kenyataannya si remaja putri itu membagikan obrolannya secara cuma-cuma.

Ketika itu terjadi di depan mata saya dan saya tidak mampu menegurnya, setidaknya saya mengambil pelajaran untuk lebih bisa mengontrol diri agar tidak melakukan hal yang sama.

-ditulis 2 minggu yang lalu-

‘Sekolah’ Pertama Akhtar

Leave a comment

IMG-20140923-WA0005

Kurang lebih dua bulan terakhir saya bergabung di grup Indonesia Homeschoolers di FB. Homeschooling (HS) sebagai salah satu alternatif pendidikan informal memang menarik minat saya belakangan ini. Saya bergabung di grupnya pun dalam rangka mencari tahu lebih banyak tentang HS dengan belajar langsung dari pengalaman keluarga yang sudah menjalankannya. Terlepas nanti akan dijalankan di keluarga kami atau tidak, menarik sekali bagi saya untuk mempelajari berbagai model pendidikan untuk ditelaah plus dan minusnya sehingga kami dapat menerapkan model terbaik untuk pendidikan anak(-anak) nanti.

Kebetulan seminggu yang lalu, seseorang di grup, yang berdomisili di Bandung, menawarkan rumahnya untuk tempat bermain anak-anak usia s.d 6 tahun, maksimal 10 orang. Saya pun tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Saya tak berekspektasi banyak dari kegiatan ini, karena yang konfirm datang ternyata juga belum punya pengalaman HS, namun kesempatan berkenalan dan silaturahim dengan orang-orang baru lah yang membuat saya ‘memaksakan diri’ datang walaupun tempatnya lumayan sulit dijangkau dari Padalarang apalagi saya hanya berangkat berdua dengan Akhtar menggunakan angkutan umum. Alhamdulillah, karena yang punya rumah adalah juga pengusaha pakaian muslim, kami yang datang pun dihadiahi inner jilbab yang harga jual retailnya tak kurang dari 50 ribu. Silaturahim benar-benar membuka pintu rezeki :)

Intinya kegiatan kemarin isinya adalah perkenalan dan adaptasi anak-anak dengan teman-teman barunya. Sembari mengawasi anak-anak bermain, para ibu pun bertukar pikiran tentang pendidikan anak dan keluarga. Kebetulan sekali ada dua orang anak seusia Akhtar, yang sama-sama lahir bulan Juni 2013. Ya walaupun anak-anak ini hanya asyik sendiri dengan mainan-mainannya tapi Akhtar tampak menikmati kegiatannya.

wpid-img-20140923-wa0012.jpg

Penting! Memeriksa Uang Kembalian

3 Comments

Pada dua kali kunjungan terakhir ke minimarket dekat rumah, saya mengalami dua kali pula kejadian berhubungan dengan uang kembalian.

Kejadian pertama sekitar 1 minggu yang lalu. Waktu itu saya belanja senilai 31.800. Saya menyerahkan uang sebesar 50.000, dan terlambat menyadari uang kembaliannya hanya 18.000, kurang 200 perak. Saya dongkol sekali, bukan karena kekurangan uang yang tidak seberapa itu, namun karena merasa si kasir mencurangi saya dengan semena-mena.

Kejadian kedua, kemarin malam. Saya berbelanja senilai 41.500 lalu menyerahkan uang 100.000, mungkin karena si kasir lagi ga fokus, ia hanya memberi uang kembalian 8.500, kurang 50.000, di struk pun tertulis uang yang masuk ke laci kasir hanya 50.000, bukan 100.000.

Mungkin teman-teman pernah mengalami situasi serupa itu?

Sebelumnya saya termasuk orang yang cuek soal uang kembalian atau apapun yang tercetak di struk belanjaan. Biasanya setelah membayar dan menerima uang kembalian (kalau ada), saya hanya akan memasukkan uang dan struk itu ke dalam saku atau dompet tanpa meneliti satu per satu, apalagi kalau uang kembalian itu berupa recehan ratusan perak.

Paling saya agak ketat soal struk ini kalau belanja agak banyak di supermarket. Saya men-screening struk untuk memastikan semua barang sudah terbayar dan masuk ke kantong belanjaan. Tapi sejauh ini saya belum pernah mengalami kejadian ‘dicurangi’ oleh kasir di supermarket seperti kejadian pertama di atas.

Setelah dua kejadian terakhir ini, saya menyadari pentingnya memeriksa struk belanja dan uang kembalian untuk memastikan kita menunaikan kewajiban kita dan mendapatkan hak kita sebagai pembeli, begitupun sebaliknya dengan penjual. Lagipula, dengan begitu kita pun secara ngga langsung memudahkan pekerjaan si kasir pada akhir shift kerjanya kan? Ketika harus mencocokkan jumlah uang dengan jumlah yang tercatat di sistem, mereka tidak pusing kalau ada selisih kurang, kalau selisih lebih sih mungkin tidak ambil pusing ya hehe…

#halkecilnamunbesar

Angkat Topi, PT KAI!

Leave a comment

Ada kejadian menarik di kereta api ekonomi dari Stasiun Bandung menuju Stasiun Padalarang sore ini. Kereta terakhir menuju Padalarang itu tampak lengang. Biasanya pada jam-jam sibuk, bahkan ibu hamil atau orang tua renta pun tidak kebagian tempat duduk.

Pada saat pemeriksaan tiket, seorang lelaki usia sekitar 30 tahunan yang duduk tak jauh dari saya beralasan, “Kehabisan tiket Pak, tadi naik dari Ciroyom”
“Ah masa kehabisan, keretanya kosong gini, nanti turun di stasiun berikutnya. Masa kehabisan, sih. Tolong nih nanti suruh beli tiket di Stasiun Cimindi”, kata si Bapak Petugas sambil memberi instruksi kepada security.
“Wah… Hebat, tegas”, puji saya dalam hati. Memang ini bukan pertama kalinya saya melihat perubahan besar di PT KAI. Perusahaan negara pimpinan Pak Ignatius Jonan ini berubah pesat dalam kurun kurang dari 5 tahun terakhir.

Lima tahun lalu, saya penumpang setia kereta api Parahyangan jurusan Bandung-Jakarta, tapi pada suatu hari saya kecewa karena kereta terlambat hingga hampir 3 jam. Sejak saat itu rasa-rasanya saya tidak pernah lagi naik kereta dari Bandung ke Jakarta, atau sebaliknya. Namun sesekali saya masih menggunakan kereta api untuk perjalanan rute lain, sehingga merasakan sendiri perubahan apa saja yang terjadi pada pelayanan KAI dalam beberapa tahun terakhir.

Misal, tentang kejadian yang saya ceritakan di atas. Empat tahunan lalu KRD Padalarang-Cicalengka (lewat Stasiun Bandung) PP adalah kereta terkumuh yang pernah saya naiki. Apa sih yang bisa diharapkan dari kereta ekonomi bertarif 1000 rupiah? Pelayanannya waktu itu sangat seadanya. Lantai berdebu, sampah dimana-mana, pedagang asongan datang silih berganti, belum lagi para pengamen dan pengemis dengan berbagai ‘kreativitas’nya. Penumpang yang tidak memiliki tiket pun sangat bebas keluar masuk. Ketika petugas memeriksa tiket, mereka yang tidak punya tiket cukup ‘ngasih tangan’, layaknya kita menolak memberi uang kepada pengemis atau pengamen.

Namun, setelah ditertibkan, stasiun tidak bisa lagi ditembus ‘secara ilegal’. Semua penumpang, tak terkecuali bayi, wajib memiliki tiket. Harga tiketnya hanya naik 500, jadi 1500 sekarang. Pengemis, pengamen, pedagang asongan tidak ada lagi. Bahkan sekarang ada cleaning service yang bertugas di stasiun pemberhentian terakhir. AC sudah terpasang walaupun pada siang hari yang sesak sama sekali tidak terasa dinginnya.

Yang lebih saya salut adalah, perubahan di KAI ini bukan soal merubah suatu perusahaan saja tapi juga merubah pola pikir dan ‘budaya’ masyarakat, para ‘stakeholder’ kereta, tentang bagaimana seharusnya peraturan dipatuhi. Bahwa, masyarakat dari lapisan terbawah pun bisa lebih ‘beradab’ jika peraturan ditegakkan dengan tegas.

Jika saat ini saya masih beberapa kali membaca keluhan tentang kereta api di sosmed, saya kira ada baiknya kita memberi waktu pada KAI untuk melakukan perbaikan sedikit demi sedikit sehingga beberapa tahun kemudian menjadi sarana transportasi yang nyaman untuk semua.

Angkat topi buat Pak Jonan dan PT KAI! Hebat!

Semoga Bapak bisa menyelesaikan tugas di KAI sampai masa jabatan berakhir. Plis atuh lah Pak, di KAI dulu.

Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,617 other followers