Akhtar 9 Months

March 9, 2014 § Leave a comment

image

Yeaayy… Akhtar tepat 9 bulan hari ini. Alhamdulillah, perkembangannya sangat baik sesuai umurnya. Berarti sudah 3 bulan Akhtar makan MPASI, sejauh ini berjalan lancar dan sesuai rencana, yaitu makan MPASI rumahan. Kalau ini sih tantangan buat emaknya, gimana biar ga males masak, karena kalau males dipastikan Akhtar cuma bisa kerokan, maksudnya makan pisang kerok, alpukat kerok, buah naga kerok, dan kerokan-kerokan lainnya :p

Jauh hari sebelum MPASI, saya membekali diri dengan beragam ilmu tentang MPASI. Saya bergabung dengan milis tentang MPASI sejak Akhtar masih tiga bulan dan membaca dokumen-dokumen yang tinggal download dari milis tersebut. Saya pun mengikuti setiap perbincangan di milis, pada awalnya. Lama-lama saya bosan tahu apa yang sering (banget) di-sharing tentang MPASI di milis itu. Diantaranya tentang MPASI pertama apa? Anak GTM bagaimana? Yang masalah GTM ini saya catat baik-baik di kepala, sekaligus menjadi sedikit kekhawatiran bagi saya.

Awalnya saya lumayan strict soal MPASI ini. Saya catat makanan apa saja yang boleh dan belum boleh untuk bayi sesuai umurnya. Menu dan jadwal makan MPASI Akhtar pun berdasarkan itu. Namanya juga anak baru mulai makan, jadi khawatir belum siap jika dikasih ini itu yang tidak sesuai umurnya.

Tapi setelah dua sampai tiga bulan menyiapkan MPASI Akhtar, saya mulai berani keluar dari daftar makanan itu, dan sebisa mungkin memberi lebih banyak variasi makanan ke Akhtar, tidak selalu dengan 4DR (four days rule) yang biasa disarankan untuk pengenalan jenis-jenis makanan. Hal tersebut berani saya lakukan karena sejauh ini Akhtar tidak pernah menunjukkan gejala alergi untuk jenis makanan apapun, dan kami, orangtuanya pun, tidak punya histori alergi apapun.

Si GTM yang dikhawatirkan pun beberapa kali terjadi. Masalah anak susah makan ini ternyata sukses juga menguras kesabaran, mengaduk-aduk emosi, dan membuat mood saya buruk. Walaupun sudah banyak sekali pembahasan tentang GTM di milis MPASI, selalu, solusinya berakhir pada, “Banyakin stok sabar aja yaaa…”. Dan itu lah yang (dengan keras) coba saya lakukan. Lagipula GTM-nya Akhtar (menurut saya) masih dalam tahap yang wajar. Tidak sampai menolak makanan sama sekali atau menyembur-nyemburkan makanan. Walaupun pernah juga dia GTM setelah suapan pertama. Tapi begitu diperhatikan, ternyata GTM-nya Akhtar ini bukan karena ia gak mau makan apapun. Bisa jadi karena pada saat itu ia tidak suka dengan makanan yang disajikan, atau tekstur makanannya yang membuat dia susah menelan, atau mengantuk dan terlalu lelah untuk makan. Kalau penyebabnya sudah ketahuan, jadi lebih mudah mengatasinya.

Walaupun banyak tantangannya, teteuup saya menikmati sekali masa-masa emas ini yang suatu saat nanti pasti sangat saya rindukan… lihat bayi baru lahir aja, udah kangeeeen Akhtar baru lahir :p

Belanja Hemat dan Cermat

February 24, 2014 § Leave a comment

Kalau saya masih bekerja dan tidak jadi emak-emak RT kayak sekarang, mungkin saya tidak akan pernah membuat tulisan ini, mungkin.

Sejak mempunyai penghasilan sendiri lima tahun lalu, saya merasakan nikmatnya belanja tanpa terlalu memperhatikan price tag. Barang-barang yang saya inginkan butuhkan, mudah saja masuk ke keranjang belanjaan saya. Boros, itulah saya dulu. Hal yang belum pernah saya lakukan sebelummya, apalagi pada masa mahasiswa, dimana saat itu saya bisa menghabiskan banyak waktu di supermarket hanya untuk membandingkan satu merek produk dengan merek lainnya hanya untuk mendapat selisih harga ratusan rupiah.

Nah, sejak resign dari pekerjaan dan menggantungkan sepenuhnya penghasilan keluarga dari gaji suami, saya mulai teliti lagi soal pengeluaran belanja ini. Saya mulai hafal harga pasar untuk bahan-bahan makanan di tukang sayur, dan membandingkan harga dari satu penjual dengan penjual lain. Untuk bahan makanan sehari-hari ini tidak pernah lagi saya belanja di supermarket yang jelas-jelas harganya jauh lebih mahal.

Dan belakangan saya juga melakukan hal yang belum pernah saya lakukan sebelumnya, yaitu membaca dengan teliti katalog promosi dari minimarket, dan mengumpulkan stiker dalam suatu periode untuk ditukar dengan hadiah.

DSCN5799[1]

Dari katalog itu, saya tandai barang-barang yang biasa keluarga kami konsumsi dan kebetulan sedang promo. Penghematannya bisa lumayan, terutama yang menyangkut kebutuhan bayi dan toiletries. Misal saja, periode akhir Februari ini ada promo buy 1 free 1 untuk produk sabun bayi dan tisu basah, kalap deh pengen beli untuk persediaan hehe.

Promo-promo seperti ini kalau tidak cermat bisa bikin gelap mata juga lho. Makanya saya teliti betul, diantaranya dengan memisahkan mana kebutuhan, mana yang sekadar keinginan. Jangan sampai demi memanfaatkan promo, pengeluaran malah lebih membengkak dari biasanya, karena banyak barang-barang pemuas nafsu (hadeuuh bahasanya) masuk ke dalam keranjang belanja.

 

Liburan Murah dan Sehat

February 24, 2014 § Leave a comment

Berenang, itu lah kegiatan liburan yang akan saya ceritakan disini. Kalau dibilang ‘murah’ sebenarnya relatif ya bagi setiap orang. Karena bisa juga dibutuhkan usaha yang tidak murah untuk bisa berenang, bisa jadi karena lokasi tempat renangnya yang jauh atau tiket masuk kolam renangnya yang mahal. Nah, jika memperhitungkan kedua hal di atas, maka berenang adalah salah satu liburan (sekaligus olahraga) paling murah yang bisa keluarga kecil kami lakukan setiap minggu.

Ceritanya, saya sudah excited banget ngajak Akhtar berenang sejak umurnya masih dua bulan, tapi belum pernah kesampaian. Rasanya pengen juga saya mengikuti tren orangtua masa kini, salah satunya yaitu memotret bayinya yang sedang berenang di kolam khusus bayi dengan memakai neck ring dan ditemani bola-bola plastik mengambang di sekitarnya. Tapi ada saja alasan kenapa kami selalu batal membawa Akhtar ke babyspa. Alasan utamanya sih, biasanya, males, hahaha.

Walaupun selalu batal mengajak Akhtar berenang, tapi saya perlahan-lahan mempersiapkan Akhtar agar langsung bisa diajak ke kolam renang umum. Diantaranya, sedikit demi sedikit saya mulai mengurangi tingkat ‘kehangatan’ air mandi Akhtar, sehingga sekarang pun air mandinya tidak cukup hangat untuk dibilang hangat. Lalu, saya juga mengajari Akhtar refleks menahan nafas dengan mengguyur kepala Akhtar setiap kali mandi. Entah yang saya lakukan itu bisa dibilang ‘mengajari’ atau nggak, karena anak seumur Akhtar pasti belum paham apa yang kita ucapkan kan? Tapi saya yakin, komunikasi antara ibu dan bayi bisa terjadi dalam bentuk lain, tidak harus verbal, hehe. Kadang-kadang latihan guyur-mengguyur ini juga tidak berhasil, yang ada malah airnya terhirup, dan Akhtar pun menangis.

Kebetulan dua bulan yang lalu kami pindah rumah ke komplek perumahan yang (beruntungnya) dekat sekali dengan kolam renang. Tidak sampai lima menit berkendara motor, kami sudah sampai di kolam. Dan yang lebih menyenangkan lagi, tiket masuknya tergolong (relatif) murah, hanya Rp 7.500 saja. Menurut saya malah sangat murah dengan fasilitas 5 buah kolam (kalau tidak salah hitung) dengan tingkat kedalaman yang berbeda-beda, dan perosotan-perosotan a la waterboom juga dengan beberapa fasilitas pendukung lain, seperti, kios-kios makanan, ruang ganti yang nyaman, saung-saung lesehan, mushola, panggung terbuka, de el el.

Akhirnya, terlaksana juga niat membawa Akhtar ke kolam renang, pertama kalinya dua minggu lalu saat usianya tepat 1 hari sebelum 8 bulan. Khawatir juga Akhtar bakal ngamuk dicemplungin ke kolam dingin, tapi untungnya tidak, malah terlihat senang sekali, dia dengan lincah menggerakkan semua bagian tubuhnya.

DSCN5754

Saya batasi Akhtar berenang sekitar 15-20 menit saja, atau saya perhatikan saja kulit jari tangannya. Kalau sudah mulai mengeriput, saya hentikan kegiatan berenangnya, walaupun Akhtar masih terlihat senang bermain di air. Tidak lupa saya membawa termos berisi air panas dari rumah untuk memandikan Akhtar setelah selesai berenang. Biasanya setelah berenang, Akhtar makan dengan lahap, menyusu, lalu tidur. Walaupun lelah, namun terlihat lebih segeerr.

Rencananya, kalau tidak malas, kami pengen rutin berenang seminggu sekali. Mumpung kan? Mumpung dekat dan mumpung murah. Lagipula kalau saya baca di berbagai sumber, banyak sekali manfaat melatih bayi berenang jika dilakukan sering dan rutin.

Kalau sudah tahu manfaatnya dan lengkap persiapannya, tinggal nyemplung deh, yuk! :)

Byuuurrr…

Kini, Pasuruan

January 6, 2014 § 5 Comments

image

Kalau nomaden itu bagian dari takdir, berarti saya ditakdirkan untuk nomaden? *lebay ga sih? :p*
Nomaden dalam arti berpindah-pindah tempat tinggal atau kota, yah walaupun jangkauan saya masih kota-kota di Pulau Jawa sih.

Dalam 27 tahun hidup, terhitung sudah 13 kali saya pindah tempat tinggal di 7 kota berbeda. Pekerjaan Bapa lah yang menuntut keluarga kami berpindah-pindah. Berimbas pula pada sekolah saya (SD dan SMP) yang berkali-kali pindah. Gak enaknya sih, saya jadi tidak terlalu banyak punya teman dekat masa kecil, di sekolah maupun lingkungan rumah. Maka (di salah satu blogpost) saya pernah mengungkapkan ketakjuban pada beberapa teman saya yang mengadakan reuni SD, sementara saya tidak tahu keberadaan sekian banyak teman-teman SD saya.

Kalaupun dulu saya punya beberapa teman dekat, itu hanya saat kami sekolah sama-sama, ketika beranjak dewasa, kami sudah punya kehidupan sendiri-sendiri yang masing-masing sulit untuk dimasuki.

Saya sendiri merasa “takdir” saya sudah ditentukan sejak “ditemukannya” tanda lahir putih pada betis kaki kanan saya. Kata Mamah, itu berarti pada suatu saat nanti saya akan dibawa pergi jauh dari orangtua oleh suami saya. Bukan sekali dua kali Mamah mengatakan itu, boleh dibilang … sering. Saya, yang saat itu masih berseragam putih merah, hanya bergidik geli mendengar kata ‘suami’, yang masih jauuuuh dari bayangan dan keinginan.

Saya sih tidak percaya sebercak tanda di kulit bisa “meramal” masa depan si empunya tanda, tapi saya percaya ucapan adalah doa. Siapa tahu, ucapan Mamah itu justru jadi semacam doa yang kemudian terkabul, ya, seperti sekarang ini, dibawa suami, jauh dari orangtua, jauh dari kampung halaman.

Dan sejak 22 Desember 2013, resmilah saya jadi penduduk (sementara) Kota Pasuruan (note: ada Kabupaten Pasuruan juga). Walaupun masih jauh dari Bandung, saya bersyukur keluarga kecil kami bisa pindah ke Pasuruan. Dibanding dari Jember, Pasuruan jauuuh lebih dekat ke Bandara Juanda di Sidoarjo, hanya kurang lebih 1,5 jam. Dengan penerbangan kurang lebih 1 jam, maka saya menghitung, perjalanan pulang ke Bandung hanya 2,5 jam (abaikan waktu tunggu di Bandara, waktu untuk packing, waktu persiapan berangkat, dan mahalnya ongkos pesawat hehehe).

Sekilas, sebenarnya Kota Pasuruan tidak lebih ramai atau lebih besar daripada (Kotanya) Jember (note: padahal di Jember tidak ada Kota, hanya Kabupaten). Sekilas, saya juga lebih suka Jember pada kesan pertama. Saya pernah berpikir bahwa suatu saat nanti saya ingin tinggal di kota semacam Jember, kota yang tidak kecil, juga tidak terlalu besar, namun ‘hidup’.

*eh eh salah fokus, kembali ke Pasuruan*

Tantangan terbesar di Pasuruan adalah dalam hal suhu udara yang lumayan ‘sumuk’, tak heran karena Pasuruan lebih dekat ke pantai, juga tidak jauh dari kawasan tempat berdirinya beberapa pabrik besar.

Kami tinggal di “pedalaman” Perumahan Karya Bakti Kencana Asri. Saya sebut pedalaman karena walaupun perumahan ini di tengah kota tapi letak kontrakan kami cukup jauh dari jalan besar. Yang menyenangkan adalah kontrakan kami sekarang walaupun lebih kecil tapi jauuh lebih nyaman dibandingkan dengan rumah di Jember. Air bagus, tidak ada kebocoran disana sini, punya tetangga yang cukup rapat walaupun mereka (sama seperti saya) jarang keluar rumah, rumah masih kokoh, tidak ada lagi makhluk-makhluk mengerikan seperti tikus, cicak, kecoa, rayap, atau semut, hanya sajaaa ada segerombol nyamuk yang lapar dan ganas, membuat rumah kami tidak pernah bebas dari bau obat nyamuk, mulai dari semprot, bakar, sampai elektrik, malah belakangan saya berpikir untuk memakai lotion anti nyamuk juga.

image

Karena belum sebulan tinggal disini, saya belum banyak tahu keadaan kotanya. Hanya sempat satu kali ke toko retail terkenal asal Perancis dan toko pakaian cukup besar yang kayaknya bakal sering saya kunjungi karena banyak pilihan baju bayi murah, hohoho. Denger punya denger, disini juga banyak alternatif tempat bermain yang bisa dikunjungi, termasuk di daerah Malang, yang jarak tempuhnya kurang lebih hanya 1 jam dari sini. Semoga sempat kami sambangi satu per satu nanti. Aamiin.

Kini, Pasuruan jadi kota ke-8 yang saya tinggali. Semoga Pasuruan menjadi Kota yang “ramah” untuk keluarga kami. Tapi … semoga sih gak lama-lama juga disini dan cepat dipindah mendekati Bandung, ke Solo atau Yogya juga boleh. Entah kenapa saya pengen ngerasain tinggal di salah satu atau dua kota itu, terdengar erotis eh eksotis :D

Akhtar (nyaris) Lulus ASIX

December 10, 2013 § 3 Comments

image

Hari ini Akhtar tepat berusia 6 bulan, dan (nyaris) lulus ASI eksklusif. Kenapa nyaris? Karena pada masa awal kehidupannya Akhtar sempat menyicipi formula yang diberikan nakes di RS bersalin tanpa sepengetahuan saya.

Kebetulan saya melahirkan di rumah sakit yang belum pro ASI dan IMD untuk proses kelahiran caesar, dan saya tidak membekali diri dengan cukup ilmu bahwa sehabis operasi (ternyata) ada masa di-ICU sampai kurang lebih 6 jam, operasi itu sendiri (tentu saja) di luar rencana saya yang menginginkan kelahiran normal.

Rupanya sesaat sehabis bayi lahir, suami saya di luar ruang operasi langsung disodori beberapa pilihan merek formula untuk bayi kami.   Tapi kejadian tersebut bagi saya sudah lalu, cukup diambil pelajaran berharganya untuk bekal menghadapi kejadian serupa di masa datang.  

Alhamdulillah selama enam bulan saya (nyaris) selalu memberikan ASI langsung dari sumbernya. Kenapa nyaris (lagi)? Karena ada 4 hari dimana Akhtar harus minum ASIP. Dari 6 bulan masa ASIX, mungkin 4 hari itulah yang menjadi tantangan terbesar bagi saya untuk memberikan ASI.  

Waktu itu saya langsung mengajukan surat resign beberapa hari sebelum masa cuti melahirkan habis. Saya terpaksa harus meninggalkan Akhtar di Bandung (bersama neneknya) sementara saya mengurus segala keperluan resign di Jakarta.   Dua hari saya mengurus pengajuan resign ke atasan dan mensubmitnya ke bagian SDM.

Sebetulnya saya masih punya sisa masa kerja selama 1 bulan sebelum efektif resign, tapi beruntung, saya punya atasan yang pengertiaaaan banget yang akhirnya membolehkan saya tidak masuk pada sisa 1 bulan itu (tanpa pemotongan gaji sedikit pun, boleh lah disebut magabut), lagipula semua pekerjaan saya sudah diambil alih sebelum saya cuti melahirkan.  

Dua hari juga saya harus meninggalkan Akhtar untuk mengurus clearance pada akhir masa kerja saya. Saat itu saya hanya meninggalkan 14 botol stok ASI beku untuk minum Akhtar selama 2 hari selama saya mengurus clearance, artinya hanya 14×100 ml. Seringkali saya berkali-kali menelpon untuk memastikan stok ASI masih cukup.

Sempat putus asa ketika hari kedua di Jakarta orang rumah mengabari stok ASI hampir habis dan mungkin akan kurang jika saya tidak segera pulang. Dalam hati, saya sempat menyerah dan (mungkin) akan merelakan Akhtar minum formula sebotol atau dua jika ASIP-nya betul-betul tidak cukup, untungnya saya pulang di saat yang sangat tepat ketika sisa ASIP tinggal kurang lebih 50 ml. Sejak saat itu, Akhtar selalu menyusu langsung dari saya, dan tidak pernah sebentar pun saya terpisah dari Akhtar.  

Merupakan suatu kebahagiaan tersendiri bisa mengawal setiap detail pertumbuhan Akhtar dari hari ke hari. Rasanya seperti diingatkan kembali tentang perjalanan saya sendiri sebagai manusia, dari mulai lahir sampai bertumbuh seperti sekarang. Betapa saya sering dibuat terkagum-kagum dengan perkembangan bayi yang pesat, yang ketika lahir tidak bisa apa-apa sampai sekarang 6 bulan sudah bisa melakukan hal-hal ‘kecil’ tanpa diajari.  
image

Sayangnya saya luput mencatat setiap detail kecil pertumbuhan Akhtar dan hanya bisa mengingat beberapa. Yang pasti di usia 6 bulannya ini saya bisa ceritakan bahwa Akhtar sudah bisa merangkak dan duduk, sesekali berusaha berdiri. Akhtar seperti selalu punya tenaga untuk bergerak, sementara ayah ibunya dan orang-orang sekelilingnya bergiliran mengerahkan tenaga untuk menjaganya.  

Semoga ke depannya Akhtar tumbuh menjadi anak yang sehat dan kuat, cerdas, shaleh, dan memiliki akhlak yang baik, serta memberikan manfaat bagi banyak orang di sekitarnya. Sebagai ibu, yang walaupun ‘stay home’, saya tidak selalu bisa menjaganya setiap saat, maka di luar usaha terbaik untuk menjadi ibu yang baik, tetaplah Allah sebaik-baik Pelindung.  

*postingan telat satu hari*

Sehari Tanpa Gadget: Memang Kenapa?

November 16, 2013 § 11 Comments

Bahkan saya pernah merasakan LIMA BULAN tanpa gadget.

**Oh ya, agar penulis dan pembaca berada dalam frekuensi yang sama, saya ingin (sangat) mempersempit makna gadget dalam tulisan ini hanya untuk smartphone**

Jadi, sekitar bulan September tahun lalu, saya kehilangan smartphone saya untuk kedua kalinya dalam enam bulan terakhir. Hilang, berpindah tangan begitu saja, namun saya tidak merasa harus segera menggantinya dengan yang baru, lagipula saya tidak menggunakan smartphone untuk urusan pekerjaan.

Akhirnya, selama lima bulan berikutnya, saya bertahan dengan satu-satunya handphone yang tersisa, yaitu sebuah handphone low end dengan fungsi dasar hanya SMS dan telepon, serta beberapa fitur hiburan seperti radio, music player, serta beberapa games sangat sederhana sekali. Itupun tidak dapat saya gunakan secara optimal. Untuk menggunakan radio saya harus memakai headset, sementara headset saya hilang. Ingin mendengarkan musik? Memori internal handphone saya tidak mumpuni untuk menyimpan file-file lagu, sementara memori eksternal pun saya tidak punya. Bermain games? Ah, lupakan, games-nya soooo yesterday (ngutip iklan kopi hehe). Fitur yang cukup sering saya gunakan hanya alarm, kalkulator, dan lampu senter. :D

Dan otomatis pula, semua aktivitas online secara mobile terhenti. Dari social media hingga update-update berita. Saya hanya online di kantor, itu pun kurang lebih hanya satu jam sehari, dan hanya membuka portal berita online atau beberapa situs favorit, sesekali memperbarui tulisan di blog, tidak termasuk facebook, twitter, dan sejenisnya, karena sudah pasti di-block. Sementara di rumah, saya sudah terlalu lelah untuk sekedar membuka laptop lalu online. Maka selama hampir lima bulan tersebut, seolah-olah terputuslah hubungan saya dengan kehidupan dunia maya.

Di satu sisi, saya menjadi tidak tahu atau terlambat tahu berita terbaru dari teman-teman saya, mungkin juga saya melewatkan beberapa pesta pernikahan atau kelahiran anak teman-teman saya, karena sudah tidak jamannya lagi mengabari lewat SMS dan telepon, kecuali orang-orang tersebut cukup dekat dengan kita. Hikmahnya? Kita jadi tahu, dari seribu-an teman di Facebook, atau ratusan kontak di Blackberry, atau puluhan nama di media chatting online lain, siapa saja teman yang ‘teman’, yang tetap menghubungi walaupun tidak lewat dunia maya. Ternyata, hanya segelintir orang.

Di sisi yang lain, dunia saya menjadi lebih tenang, lepas dari hingar-bingar dunia maya. Sensasinya itu (mari bayangkan) seperti misal kita sedang menonton TV di rumah, dari ruang belakang sayup terdengar suara mesin cuci berputar, tak jauh di atas kepala suara AC berdesir halus, sesekali suara kulkas pun terdengar, namun tiba-tiba, “Flop! Mati listrik!”. Sepi.

Dunia saya berjalan dalam ritme yang lebih lambat, dan itu ternyata menyenangkan. Saya bisa mengistirahatkan otak saya beberapa lama setelah bekerja cukup keras karena terus menerus menerima informasi baru setiap saat, tanpa sempat saya menyaringnya satu per satu, mana yang memang saya butuhkan atau tidak. Dengan terbatasnya waktu dan kesempatan mengakses dunia maya, saya bisa mengoptimalkan waktu online saya hanya untuk mencari informasi yang saya butuhkan saja.

Tanpa gadget, saya jadi punya waktu yang lebih berkualitas, tidak hanya untuk keluarga, namun juga untuk diri sendiri. Saya bisa menyimpan energi, yang biasa saya pakai untuk ‘ngepo-in’ orang lain dengan mengikuti update status mereka di dunia maya, untuk meningkatkan kualitas diri, misalnya dengan memperbanyak membaca, bersosialisasi di dunia nyata, atau beribadah kepada Tuhan.

Terbiasa tanpa gadget, membuat saya tidak susah pula untuk tidak tergantung padanya. Bahkan pada saat sekarang sudah punya gadget pun, saya bisa mengontrol diri untuk tidak memakainya terus menerus. Ketika berkumpul bersama keluarga pada akhir minggu, saya bisa tahan seharian tanpa melirik gadget sekali pun, bahkan terkadang tidak sadar gadget mati karena baterenya habis.

Jadi,

mau nantang saya ‘Sehari Tanpa Gadget’?

…siapa takut :)

Tulisan ini ikutan GA keren Sehari Tanpa Gadget di blog Keajaiban Senyuman lhooooo”

Ragrag, A Milestone?

November 13, 2013 § 5 Comments

You know ragrag? Itu artinya Gubrag! Jatuh dari ketinggian.

Teringat beberapa waktu lalu sempat ngobrol dengan seorang teman soal bayi yang jatuh dari ranjang. Lalu, bergurau saya berkata, “Kayaknya bayi itu emang mesti ya jatuh dari tempat tidur, minimal satu kali”. Saya bicara seperti itu bukan tanpa dasar. Berdasarkan apa yang saya perhatikan, bukan sekali itu saja saya mendengar, bahkan menyaksikan sendiri bayi terjatuh dari ranjang, maka kejadian seperti itu menjadi tidak asing bagi saya, bahkan saya anggap wajar.

Dua hari yang lalu, siang hari ketika hujan turun lebat, sehingga suara-suara apapun di dalam rumah tersamarkan, saya yang sedang di ruang depan mendengar suara “Blug!” agak kencang dari arah kamar.

Seketika, “Akhtar!!!”, saya memekik, lalu segera berlari ke kamar, dan benar saja, Akhtar sudah dalam posisi telentang di lantai sambil menangis kencang. Guling kecil dan alas tidurnya pun tampak tergeletak di lantai.

Dengan sedikit ngaderegdeg (ngerti kan maksudnya? Haha), dengan tangan yang bergetar saya menggendong Akhtar dan berusaha menenangkannya. Untung tak lama kemudian Akhtar mulai tenang, tersenyum, dan main-main kembali.

Masalah ‘ragrag’ pada bayi ini, keesokannya saya segera mencari tahu di internet bagaimana efeknya. Sedikit bernafas lega karena menurut sebuah artikel di Kompas Female, orangtua tak perlu sampai terlalu khawatir. Meski berbahaya, sebagian besar benturan kepala yang dialami bayi tidaklah berdampak fatal. Walau teraba lembek atau lunak, struktur kepala bayi boleh dibilang relatif lebih aman terhadap trauma kepala, karena sambungan antartulang kepala atau tengkorak bayi relatif masih elastis, ubun-ubunnya masih terbuka atau belum menutup secara menyeluruh, sehingga tekanan yang terjadi karena benturan tak berakibat fatal, apalagi sampai mencederai otak.

Namun ada beberapa hal yang mesti dilakukan sbb:

Amati kondisi bayi
Bila setelah jatuh, bayi langsung menangis dan menggerak-gerakkan semua anggota badannya, maka langsung gendong dan tenangkan. Setelah ia tenang, baru lakukan pengamatan lebih lanjut, yaitu:

Ketahui bagian tubuh mana yang terbentur. Coba periksa dengan teliti, bagian tubuh mana yang terbentur apakah wajah, kepala, atau bagian tubuh lainnya.

Perhatikan kronologi kejadian. Perhatikan ketinggian saat ia terjatuh, lalu membentur media apakah (kursi, lantai, dan lain-lain). Ketahui juga proses jatuhnya, apakah langsung ke lantai atau terbentur sesuatu terlebih dahulu. Bagaimana posisi jatuhnya, apakah tengkurap, telungkup. Bagian mana yang terbentur.

Periksa kepala, kaki, dan tangan. Gerakkan tangan bayi, ke atas, samping, depan, dan rentangkan. Bila si kecil menangis atau bahkan menjerit, kemungkinan ada yang terasa sakit, periksa bagian mana yang terlihat lebam. Lakukan hal yang sama pada bagian kaki. Untuk kepala, coba tengokkan kepala bayi ke kanan dan kiri. Juga dekatkan dagu bayi ke dada secara perlahan. Bila ia menangis kemungkinan ia merasakan sakit. Jika ada keluhan seperti memar atau benjol, catat sebagai laporan saat datang ke dokter.

Ketahui apakah ada benjolan (hematom)
. Selanjutnya, periksa dengan cara raba seluruh bagian kepala untuk memastikan, adakah yang menjendol ataupun dekok di bagian kepala. Bila ubun-ubunnya terasa ada benjolan, kemungkinan terjadi peningkatan tekanan dalam otak lantaran adanya perdarahan atau edema otak. Bila ini terjadi, segera bawa ke dokter. Apalagi tampak benjolan di kepala, terutama di daerah samping kepala (temporal). Retak tulang yang terjadi di daerah ini dapat merobek pembuluh darah di dinding tulang kepala, sehingga mengakibatkan perdarahan.

Perhatikan fungsi penglihatan
. Gunakan senter sebagai alat bantu pemeriksaan mata, lalu lihatlah:
- Masih bereaksikah saat kita senter matanya: mengedip, menutup matanya atau kaget? Jika tidak, bawa segera bayi ke rumah sakit.
- Gerakkan senter ke kanan dan ke kiri, masih mampukah bayi mengikuti gerakan sinar? Jika tidak, ia harus segera dilarikan ke rumah sakit.
- Perhatikan pupil matanya, apakah pupil mata yang kiri dan kanan sama besar atau kecilnya saat kita senter satu per satu? Jika sama, kita bisa bernafas lega. Bila tidak, bayi perlu menjalani pemeriksaan lebih lanjut, seperti CT Scan.

Catatan:
* Lakukan pemeriksaan setiap 2—3 jam.
* Lakukan pengawasan atau observasi setidaknya hingga 3 hari ke depan.

Sumber artikel dari sini: http://female.kompas.com/read/2013/03/13/09313024/Jika.Bayi.Jatuh.dari.Tempat.Tidur

Kalau saya perhatikan sampai saat ini, kejadian jatuh kemarin tidak berdampak apa-apa sama Akhtar, bahkan saya tidak menemukan benjolan karena benturan atau tanda-tanda badannya yang sakit. Semoga memang tidak apa-apa.

Jadi, apakah ragrag adalah suatu milestone?

No! Itu murni karena kecerobohan orangtua… Heuh…

Maafin Mim ya Akhtar Sayang :*

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,592 other followers