Pelajaran dari Masa Kecil

August 30, 2014 § Leave a comment

Banyak buku parenting dan psikologi anak beredar di pasaran. Satu atau dua-nya pernah saya baca.

Beberapa bahasan kadang hanya saya baca selewat lalu, sehingga ketika sampai pada halaman terakhir, apa yang sudah dibaca di halaman-halaman sebelumnya seperti menguap begitu saja.

Sebenarnya akan lebih mudah diingat jika kita mengaitkan bahasan di buku tersebut dengan kejadian yang pernah kita alami di masa kecil.

Jika ditelusuri, kita pun sangat mungkin menemukan benang merah antara karakter dan sifat kita saat ini dengan cara orangtua mendidik kita di masa kecil.

Ada beberapa kejadian spesifik di masa lalu yang saya ingat hingga saat ini. Kejadian-kejadian ini saya simpulkan sebagai ‘kesalahan’ komunikasi orang-orang dewasa kepada anak-anak.

Peribahasa “Pengalaman adalah guru yang terbaik” menjadi relevan dikaitkan dengan tulisan ini. Kejadian-kejadian itu menjadi sedikit bekal bagi saya untuk belajar berkomunikasi yang baik dengan anak-anak.

Kejadian 1

Waktu itu mungkin saya masih TK atau SD kelas 1 (lupa…). Mamah tidak shalat karena sedang menstruasi, sementara saya tidak pernah melihat Bapa tidak shalat karena alasan yang sama.
Lalu saya bertanya, “Laki-laki mensnya kapan?”
Sambil lalu Mamah menjawab, “Kalau laki-laki mah mencret.”
Saya menganggap jawaban itu sebagai kebenaran dan menyimpannya dalam memori selama bertahun-tahun.

Benar, anak-anak itu sangat polos. Daripada becanda dengan menyampaikan fakta yang tidak benar lebih baik memberi penjelasan ringan yang bisa dipahami.

Kejadian 2

Waktu itu masih usia SD atau TK (lupa…). Di rumah seorang saudara orang-orang sedang riweuh menyiapkan masakan untuk acara hajatan. Saya dan sepupu-sepupu bermain-main dengan ceria. Karena orang dewasa merasa terganggu, saya yang menaiki sandaran sofa ditegur, “Ngga ah ngga lucu… Ngga lucu…” dengan intonasi yang terdengar pura-pura marah.
Seketika saya terdiam, sakit hati dan ingin menangis.
Seharusnya ada cara lain untuk menegur kan? Saya merasa kata “Ngga lucu… Ngga lucu…” itu lumayan mematahkan kreativitas dalam bermain.

Kejadian 3

Waktu itu seseorang pernah bertanya, “Cita-citanya mau jadi apa?”
Saya jawab, “Guru TK”
Si penanya malah mempertanyakan, tanpa memberi saya kesempatan menjelaskan, “Kok cuma guru TK? Yang lain dong”. Padahal maksud saya adalah saya mengajar di TK yang saya dirikan sendiri. Sejak saat itu saya tidak pernah lagi menyebut guru TK sebagai cita-cita, walaupun dalam hati terbayang-bayang memiliki TK sendiri, dengan banyak mainan disana-sini.

Jadi… jangan mematahkan cita-cita anak. Seringkali anak-anak hanya butuh didengarkan. Akan lebih baik jika si penanya bertanya, “Mengapa ingin jadi guru TK?”. Ya kan?

Kejadian 4

Waktu itu malam hari, listrik di rumah sedang mati. Saya, kakak, adik, dan Mamah berkumpul di ruang tengah sambil bercerita-cerita. Ngobrol-ngobrol-ngobrol, lalu saya berimajinasi pergi ke kota sendirian naik kendaraan umum. Waktu tempuh ke Kota dari tempat tinggal kami waktu itu sekitar 1 jam. Cukup jauh untuk seorang anak kelas 1 SD bepergian sendiri, walaupun hanya dalam imajinasi.
Alih-alih mendukung, Mamah menakut-nakuti tentang tersesat di kota, ngga bisa pulang, lalu menggelandang jadi anak jalanan.
Semalaman itu saya jadi sulit tertidur, bahkan rewel dan menangis karena membayangkan jadi gelandangan.

Seperti anak-anak lain pada umumnya, masa kecil saya pun diwarnai berbagai imajinasi. Kadang orang dewasa lupa pernah jadi anak kecil yang suka berimajinasi juga, sehingga secara tak sadar mematahkan imajinasi anak-anak karena menganggapnya mustahil.

Kejadian 5

Waktu itu mungkin saya masih kelas 3 atau 4 SD, adik saya masih TK.
Sore itu saya mengajak adik ikut ke rumah guru untuk mengerjakan PR.
Kebetulan guru itu punya anak batita. Di ruang depan rumah guru terpajang sebuah wayang. Adik mengubah-ubah suaranya lalu mengajak ngobrol si anak guru dengan memainkan wayang itu.
Adik beberapa kali mengucapkan kata ‘silaing’, dalam bahasa Indonesia artinya ‘kamu’, yang sering dia dengar dari dalang sungguhan jika sedang memainkan wayang. Dan si guru serta merta menegur, “Jangan bicara kasar ya, nanti diikutin sama adiknya”
Adik saya tampak tidak enak hati, lalu tiba-tiba terdiam sampai waktu pulang.
Saya sebagai kakaknya sebenarnya tersinggung, karena saya tahu betul adik saya tidak pernah berkata kasar di rumah. Lagipula dia menggunakan kata yang dianggap kasar itu karena dia sedang bermain peran sebagai wayang.
Saya merasa seharusnya sebagai guru, si ibu guru tersebut punya cara yang lebih baik untuk menegur adik saya.

Kejadian 6

Saya agak lupa kejadiannya saat pelajaran agama di sekolah atau saat mengaji sore di masjid dekat rumah. Yang saya ingat waktu itu guru sedang menjelaskan shalat 5 waktu. Hanya saja saya merasa beliau memilih kata-kata yang tidak tepat dengan mengatakan (kurang lebih) begini, “Kalau belum bisa mengerjakan 5 waktu, kerjakan 3 waktu aja udah bagus”.
Saya menangkap itu sebagai ‘keringanan’, bahwa shalat 3 waktu sudah cukup. Itu pun yang menjadi excuse bagi saya ketika dulu sering belang betong shalatnya.

Apa jadinya kalau sampai sekarang saya nggak dapat pencerahan? Bisa-bisa saya dikira sesat… ckckck…

Kejadian 7

Waktu kelas 1 atau kelas 2 SD saya dan beberapa teman pernah kabur dari kelas karena melihat mobil puskesmas masuk halaman parkir sekolah. Kami takut karena takut disuntik.

Usia sebelum TK, mungkin masih 3 tahun, saya sangat ketakutan setiap pergi ke rumah seorang saudara karena harus melewati komplek tentara yang ada pos jaganya dengan sejumlah tentara berjaga-jaga sambil menenteng senjata.
Saya sembunyi di balik punggung Mamah karena takut ditembak.

dst… dst…

Familiar dengan situasi seperti itu? Sudah saatnya anak sekarang tidak ditakut-takuti dengan sosok dokter, tentara, polisi, hantu, bahkan orang gila.

Kejadian-kejadian lain … hmm … Nanti saya ingat-ingat lagi.

Teringat salah satu renungan di sebuah buku parenting, bahwa anak-anak kita akan hidup pada jaman yang berbeda dengan kita, maka didiklah anak sesuai jamannya. Artinya, cara orangtua mendidik kita dulu belum tentu cocok jika diterapkan pada anak-anak kita sekarang. Maka dari itu, sebagai orangtua mesti terus meng-upgrade diri, dan yang terpenting membekali anak-anak dengan ilmu agama yang sudah terbukti tak lekang oleh pergantian jaman.

Membangun Indonesia yang Kuat dari Keluarga! (lagi)

August 27, 2014 § Leave a comment

Dua kali membaca buku Ayah Edy berjudul Membangun Indonesia yang Kuat dari Keluarga!, dua kali pula saya ‘terguncang’, dan untuk kedua kalinya saya mengulasnya di blog ini setelah tulisan pertama saya hampir satu tahun yang lalu.

Apa yang direnungkan Ayah Edy dalam bukunya merupakan hal-hal yang saya renungkan juga selama bertahun-tahun. Keresahan-keresahan yang dituliskan Ayah Edy juga merupakan keresahan yang saya rasakan bahkan ketika usia saya masih 12 tahun saat itu. Keresahan seorang siswa kelas 6 SD yang merasa sangat dikecewakan oleh sistem EBTANAS yang ‘memaksa’ guru-guru melakukan kecurangan dengan terang-terangan demi sebuah nilai bagus di ijazah murid-muridnya.

Keresahan itu semakin menjadi ketika kini saya memiliki anak, yang pada saatnya nanti akan mencapai usia sekolah dan (mungkin) mengenyam pendidikan formal. Akan seperti apakah sistem pendidikan di Indonesia pada saat itu? Bagaimana anak saya akan dididik di sekolah? Apakah akan sama dengan yang saya alami bertahun-tahun yang lalu, dimana saya dididik secara ‘konvensional’?

Sambil menyusun tulisan ini, saya membaca-baca kembali diary SMA saya dan menemukan tulisan 10 tahun yang lalu, tepatnya 19 Juni 2004. Saat menulis itu, saya dalam keadaan marah dengan cara pandang lingkungan saya ketika itu. Beberapa kata bahkan saya CAPSLOCK dan diakhiri tanda seru.

Saya kutip beberapa kalimat, tanpa dikurangi atau ditambahi, termasuk titik komanya:

“AKU BENCI BGT ama orang2 yg ngeremehin pilihanku waktu SPMB kemaren……….”

“………. nama fakultas yg langka n jarang banget kedengeran. Trus, apakah karena alasan itu kita bisa menyimpulkan seenaknya kalo fak. itu tuh ga bagus prospeknya? Ga gitu kan harusnya! Tapi, kebanyakan orang b’anggapan gitu ……….”

“………. Apa hanya karena PRESTISE!! ……….”

“PRESTISE… jadi ingat kata Bang Hamid, soal prestise. Kebanyakan orang lebih ngutamain prestise daripada prestasi. Menurutku itu pikiran orang-orang yg berakal pendek, berpandangan sempit. Akhir-akhir ini aku emang lagi kesel aja ama orang-orang kaya gitu, apalagi sampe ngeremehin pilihanku……….”

“………. selama ini orang2 selalu menganggap bahwa orang-orang yg bisa masuk FKU itu orang2 hebat, orang-orang yg bisa masuk fak. teknik itu orang2 keren. Aku ga nyangkal hal itu, aku yakin orang-orang yg bisa nembus FKU ato teknik itu bukan orang biasa-biasa aja, yg ga punya keahlian apapun! Tapi, tolong lah ga usah ngeremehin yang lain. Cita-cita setiap orang itu pasti ga sama. Dan pandangan setiap orang terhadap suatu hal juga pasti ga sama. Kalo aku jadi salah seorang yg punya pikiran b’beda dari kebanyakan orang, apa itu salah n ga wajar? ……….”

Pada akhirnya saya diterima di jurusan pilihan kedua, pilihan orangtua saya. Bukan minat saya, tapi lebih direstui orangtua.

Saya tidak pernah menyesal karena ‘hanya’ diterima di jurusan yang bukan pilihan saya. Saya tetap bersyukur karena yakin itulah jalan yang terbaik dari Allah. Saya hanya ingin, pada saatnya nanti, anak(-anak) saya tidak mengalami hal yang pernah saya alami. Setidaknya komunikasi antara orangtua dan anak harus dibangun dalam pengambilan keputusan apapun apalagi berkaitan dengan masa depan anak dalam jangka panjang.

Dan saya kembali diingatkan pada paradigma kebanyakan orang, at least di lingkungan saya, pada waktu itu bahkan hingga saat ini, bahwa SUKSES itu adalah pintar di sekolah lalu bekerja dan menghasilkan banyak uang. Paradigma lama yang harus didobrak karena mempengaruhi cara orangtua dan guru mendidik anak-anak/ murid-muridnya.

Kita tidak bisa menutup mata bahwa saat ini sebagian besar sekolah hanya mengajarkan pelajaran demi pelajaran, memberikan latihan soal demi latihan soal kepada siswanya, sementara pendidikan moral malah dikesampingkan. Di luar itu, para siswa pun masih mencari tambahan pelajaran di luar jam sekolah untuk bidang studi yang dirasa kurang dikuasai. Saya pernah dalam kondisi itu, rasanya tertekan sekali, apalagi sebagian yang saya pelajari bukan bidang yang saya sukai.

Lagi-lagi saya berkata, saya ingin pada saatnya nanti anak(-anak) saya tidak mengalami hal yang pernah saya alami. Belajar itu harus fun, bukan? Untuk bisa fun, maka yang mestinya didalami hanya bidang-bidang yang diminati saja, ya kan?

Maka tak heran saat ini banyak orangtua memilih meng-homeschooling-kan anak-anaknya. Memang dalam sejarahnya homeschooling (ada pun yang lebih suka menggunakan istilah home education) ini muncul karena ketidakpercayaan orangtua pada sistem pendidikan yang diselenggarakan negara. Buku Membangun Indonesia yang Kuat dari Keluarga! pun ditulis oleh seorang praktisi homeschooling. Saya sendiri dalam posisi netral dalam menilai homeschooling ini. Bahwa sistem, cara, metode, atau apapun akan berjalan efektif jika dijalankan dengan tepat oleh orang-orang yang tepat dengan cara yang tepat pula.

Akhirnya …

Pada Presiden Terpilih pada Pilpres 2014 ini saya berharap, semoga bisa menunaikan janji-janjinya, salah satunya Revolusi Mental yang senantiasa didengung-dengungkan selama kampanye. Semoga bidang pendidikan menjadi salah satu prioritas utama untuk dibenahi, agar anak-anak kita di masa depan dapat hidup di Indonesia yang lebih baik, lebih bermoral dan beradab.

Aamiin …

Sepatah Kata Maaf untuk Sahabat

May 30, 2014 § 2 Comments

Aisha memelukku erat sekali, air matanya mengambang, dengan susah payah ia menahannya agar tak jatuh. Dalam pelukannya aku tersedu.

“Aku akan baik-baik saja, sudah ya”, Aisha berusaha menghibur sambil mengusap-usap punggungku. Entah siapa sebenarnya yang lebih perlu dihibur.

Sambil menatapku dalam, Aisha berkata, “Ditta, kamu sahabat terbaikku selama ini. Jaga diri baik-baik ya. Jangan terlalu pendiam dan tertutup. Aku tahu potensimu besar sekali di bidang tulis menulis. Tunjukkanlah! Aku, memulai lembaran baruku di Inggris… Aku… ” Aisha tak menyelesaikan kalimat terakhirnya. Air matanya tak terbendung, tangisnya pecah.

“Aku ga bisa bawain apa-apa buat kamu, tapi camilan favoritmu ini selalu berhasil membuatmu rileks kan?” Aku memaksakan diri tersenyum sambil menjejalkan sebungkus Mister Potato ke dalam tasnya.

wpid-20140530_191928.jpg

 

“Makasih Ta. Ini… Kamu pernah bilang suka banget foto ini kan?” Aisha mengeluarkan selembar foto dari saku jaketnya.
“Suatu saat nanti kamu menyusulku kesana ya?”

***

Di bawah penerangan lampu meja di kamarku, aku mengamati foto itu.

wpid-article-2107297-11f2f79f000005dc-650_468x340.jpg

Big Ben

Beberapa kalimat tertulis di baliknya:

Aisha, jika kamu ke Inggris, kamu tidak boleh melewatkan tempat ini. Big Ben adalah landmark dan ikon Kota London dan Negara Inggris. Big Ben adalah menara jam paling terkenal di seluruh dunia. Letaknya di timur laut Houses of Parliament. Kalau di Indonesia mungkin seperti gedung MPR/ DPR ya. Waktu pertama kali kesana, Kakak terpesona dengan keindahan bangunannya. Kakak memotret hampir setiap sudut Big Ben dan Gedung Parlemen. Foto terbaik Kakak kirimkan untukmu.
Ingat nggak… Dulu kita sering melihat berita di TV tentang perayaan pergantian tahun dari berbagai kota di dunia? Salah satunya di Big Ben ini. Akhir tahun ini Kakak berencana merayakan tahun baru disana… Yeaaayy…

Sampaikan salam sayang buat Mama dan Papa ya…

Kak Adam

*****

Inggris. Itulah mimpi Aisha sejak SMA.
“Aku ingin melanjutkan cita-cita Kakak”, pandangannya menerawang.

Kak Adam, kakak Aisha, adalah seorang yang cemerlang. Selepas S1, tampaknya mudah saja bagi Kak Adam memperoleh beasiswa S2 ke Inggris. Tapi, takdir berkata lain, jauh dari keluarga ditambah kegiatannya yang padat membuat Kak Adam abai akan kesehatannya sendiri, hingga dia meninggal karena maag kronis yang dideritanya. Sejak saat itu, Aisha ‘Si Otak Pas-Pasan’ begitu dia menjuluki dirinya sendiri, tampak lebih serius dalam banyak hal, terutama belajar.

“Semua buat Kak Adam. Juga buat Mama Papa yang bahkan belum sempat melihat Kakak wisuda”, katanya suatu hari.

“Oh ya, kamu udah pernah lihat ini belum Ta”, Aisha mengeluarkan file binder lalu mengambil foto yang terselip di cover bindernya.

wpid-74758353.jpg

Old Trafford

“Ini foto terakhir yang Kak Adam kirim. Waktu itu Kakak menonton langsung pertandingan Manchester United di Old Trafford. Stadion Old Trafford adalah stadion terbesar kedua di Inggris, setelah Stadion Wembley di London, daya tampungnya hingga 76 ribu orang. Ternyata Kota Manchester itu sendiri tidak terlalu besar Ta, sedikit lebih kecil dari Kota Bandung, tapi jumlah penduduknya hanya seperlima penduduk Kota Bandung. Bayangkan, pasti sepi ya disana. Tapi hebat ya, kota sekecil itu punya klub-klub sepak bola bergengsi yang tersohor ke seluruh dunia”, aku mendengarkan ceritanya dengan seksama, sesekali aku menimpalinya dan berdecak kagum.

***

Selama Kak Adam di Inggris, acapkali Aisha dikirimi kartu pos atau foto-foto perjalanan Kak Adam. Walaupun di era digital ini foto bisa dengan mudah dikirim lewat email atau media sosial, Kak Adam tak pernah absen mengirim foto cetak yang kemudian diberi catatan di belakangnya.

Aisha mengumpulkannya dalam satu album yang diberi judul ‘Jika Aku ke Inggris…’. Judul itu terinspirasi dari kalimat pertama Kak Adam yang selalu ditulis di balik foto atau kartu posnya, “Aisha, jika kamu ke Inggris…”. Seperti yang tertulis di belakang foto Buckingham Palace yang pernah Aisha tunjukkan padaku.

wpid-buckingham-palace-11.jpg

Buckingham Palace

Aisha, jika kamu ke Inggris, kamu harus ke Buckingham Palace, siapa tahu bertemu langsung pangeran impianmu? Kamu masih ingat? Dulu kamarmu penuh sekali dengan poster dan pin up Prince William? Sampai-sampai kamu bikin kliping berisi semua artikel tentang dia. Katamu itu akan dihadiahkan padanya jika nanti bertemu. Hahaha.
Disana juga kamu bisa buktikan sendiri, yang menjulang tinggi di atas kepala penjaga istana itu, topi atau rambut? Haha.
Kalau kesini, pastikan bertepatan dengan prosesi pergantian penjaga istana ya. Prosesi tersebut menjadi daya tarik tersendiri buat para wisatawan.

wpid-buckingham_palace_guards.jpg

***

Selepas SMA, masa kuliah kami jalani di kota berbeda. Dengan kegigihannya, Aisha lolos ke kampus teknik ternama di Bandung, kampus Kak Adam juga, hanya beda jurusan, sementara aku tetap di Jakarta.

Walaupun terpisah jarak, kami tak putus berkomunikasi. Jika Aisha pulang ke Jakarta pasti kami bertemu, bahkan beberapa kali aku pun berkunjung ke Bandung.

Satu kali kunjungan ke Bandung, Aisha mengajakku ke kampusnya. Dengan bangga, dia menjelaskan setiap gedung yang kami lewati selama berkeliling. Lalu kami berhenti di gedung fakultasnya.

“Lihat Ta, ini ada beasiswa ke UK, pengumumannya hampir selalu ada setiap tahun. Lihat foto-foto yang jadi latar belakang poster ini. Hanya foto ini yang belum pernah dikirimkan Kak Adam,” lalu Aisha menunjuk pada sebuah foto bangunan berarsitektur gothic di poster itu.

wpid-westminster_abbey.jpeg

Westminster Abbey

“Ini Gereja Westminster Abbey. Letaknya tak jauh dari Big Ben yang terkenal itu. Sejak ratusan tahun yang lalu, gereja ini digunakan untuk penobatan raja-raja Inggris. Disana juga terdapat makam raja-raja, bangsawan, ilmuwan, dan orang-orang terkemuka di Inggris.”

Aku melihat matanya berbinar-binar setiap bercerita tentang Inggris.

***

Pada liburan terakhir sebelum kelulusannya. Kami membuat janji bertemu di kafe favorit kami di Jakarta. Aisha bilang, ada kejutan kecil untukku.

Seperti biasa, aku datang terlebih dahulu dari waktu yang telah dijanjikan, dan memesankan minuman favoritnya. Biasanya, dia akan datang, lalu senang sekali melihat minuman favoritnya sudah siap, menyeruput setengah gelasnya, dan bercerita panjang lebar tentang kegiatannya. Aku hanya sesekali menimpali dan tertawa bersama ceritanya.

Aku mengunyah Smax Balls sambil menunggu pesanan datang. Tak lama setelah pramusaji menghidangkan minuman pesanan, Aisha datang. Namun dia tidak sendiri. Inikah kejutan kecilnya?

“Taaa… Aku kangen bangeet sama kamu. Kenalin ini Atma… Kakak angkatanku di kampus, tapi udah lulus dan kerja di Kalimantan, kebetulan lagi liburan”, cerocosnya, menyisakan aku yang masih melongo mencoba menyesuaikan diri dengan situasi yang berbeda ini.

Ini kali pertama kali Aisha punya teman dekat pria.

***

Aisha memang penuh kejutan. Setelah ‘kejutan kecil’-nya tempo hari, ternyata dia masih menyiapkan kejutan lain untukku. Suatu siang dia menelepon:

“Taaa… Dengerin baik-baik ya, tarik nafaaas… Lepaskan… Siap? Aku… Lolos … Beasiswa ke Inggriiiisss!! Aaaarghh… Inggris Taa” Aku ikut histeris bersamanya. Di ujung telepon sana Aisha semangat sekali menceritakan proses seleksinya, nyaris tanpa jeda.

“Aku nanti di London Ta. Kalau Atma kesana, dia bisa sekalian ke Stadion Stamford Bridge-nya Chelsea. Klub jagoannya! Pasti dia seneng banget.”

wpid-0__102683688547_00.jpg.jpeg

Stamford Bridge

“Kamu udah kasih tau Atma?”, aku memotong.

“Hmm, belum Ta, bahkan aku ikut tes pun Atma gak tahu, tapi kan dia tahu, betapa besaaarrr keinginanku kuliah disana, ini hanya akan jadi kejutan kecil untuknya.”

Ya, Aisha selalu berhasil dengan ‘kejutan kecil’nya.

***

Namun reaksi Atma tak terduga. Dia mempertanyakan keseriusan hubungan mereka. Mereka berdebat hebat. Kebetulan ada aku disana.

“Kalau kamu mau hidup di luar negeri, kamu harus tahu, Aisha, tahun depan aku mendapat kesempatan ke Amerika, aku ingin kita segera menikah, dan kamu ikut aku kesana.”

“Ini bukan masalah luar negeri, ini Inggris, impianku!” Aisha membantah, nyaris berteriak.

Sejak saat itu hubungan mereka dingin.

Beberapa bulan kemudian, Atma memutuskan untuk mengakhirinya, hanya satu minggu sebelum keberangkatan Aisha,
“… aku memilih yang lain”, jelas Atma, kali ini Aisha tidak bisa membantah.

***

Hari itu, dua hari sebelum berangkat, aku menemani Aisha berkemas-kemas seharian di rumahnya. Ia bercerita banyak hal, juga tentang rasa yang belum berubah pada Atma.

“Ta, aku selalu bercita-cita ke tempat ini sama Atma.” Aisha menunjuk gambar pada kartu pos yang tertempel di dinding dekat meja belajarnya.

wpid-lem_londoneye.jpg

“London Eye ini kincir yang bisa mengangkut hingga 800 orang dalam satu putaran. Ada 32 kapsul yang masing-masing bisa diisi hingga 25 orang. Bayangkan, betapa besarnya kan? Pasti menyenangkan sekali melihat London dari ketinggian bersama orang yang kita sayangi”.

“Tau ga Ta, aku merasa akan lebih baik-baik saja kalau hubungan kami berakhir karena alasanku ke Inggris, tapi berakhir karena Atma memilih yang lain terasa amat menyakitkan, Ta. Siapapun wanita yang dipilih Atma, dia pasti istimewa.”

Entah dengan cara apa aku bisa menghiburnya saat itu. Aku merasa bersalah, sangat bersalah.

***

Satu tahun berlalu sejak keberangkatan Aisha, beberapa kali ia mengirimiku foto atau kartu pos. Salah satunya foto di depan museum The Beatles ini:

wpid-beatles_story.jpg

The Beatles Museum

Ditta, aku berkesempatan ke The Beatles Museum akhir pekan lalu. Letaknya di Liverpool. Jarak tempuhnya sekitar tiga sampai empat jam dari London. Aku tidak bisa bercerita banyak soal museumnya, sepanjang kunjunganku kesana aku ingat Papa terus. Pasti Papa seneng banget kalau aku ajak kesana, disana Papa bisa lihat semua hal tentang The Beatles, grup musik favoritnya itu.

Semakin sering Aisha mengabariku dari Inggris, semakin ingin aku segera menemuinya disana. Bukan hanya ingin, tapi aku memang harus menemuinya, secepatnya.

***

Kesempatan itu datang, aku melihat blog contest yang diadakan Mister Potato. Aku menertawai diriku sendiri. Sementara Aisha sudah mencapai mimpinya di Inggris, aku masih saja blogger setengah hati yang belum menerbitkan satu pun karya monumental. Bahkan belum ada satu pun tulisanku yang menang kontes blog.

“Semoga aku menang… Aku tidak tahu dengan cara apalagi aku bisa menyusul Aisha selain dengan cara seperti ini” Aku bertekad membuat karya terbaikku.

Sepanjang menulis, Mister Potato selalu setia menemaniku. Renyah keripiknya membuatku lupa waktu.

tmp_20140530_193453(2)1782240317

Sesekali aku melihat-lihat kembali foto atau kartu pos yang pernah dikirim Aisha. Mencari inspirasi.

Ketika sampai pada bagian yang menjelaskan, kenapa aku harus pergi ke Inggris, aku tercenung, mengambil nafas panjang lalu mengetikkan, “…demi sepatah kata maaf untuk sahabat…”

*****

Tiga bulan kemudian…

Pesawat mendarat dengan mulus di Bandara Heathrow, London, salah satu bandara tersibuk di dunia. Aku bernafas lega, menggeliat lalu melenturkan badanku ke kiri dan kanan. Kuatur jam tangan menyesuaikan waktu setempat. Karena sudah mulai masuk musim panas, maka perbedaan London – Jakarta akan mengikuti kaidah GMT+6 atau lebih dikenal dengan masa British Summer Time (BST).

wpid-5484218_201307290213082.jpg

Hangat menyapa rombongan kami di luar bandara. Aku membuka jaket tebal yang kupakai, kali ini aku sedikit salah kostum. Kupikir di Eropa, musim panas pun akan tetap dingin. Nyatanya di London tidak. Dari bandara kami langsung menuju hotel untuk beristirahat. Tur baru akan dimulai esok pagi.

***

“Kamu hebat Ta, jalan-jalan gratis karena menulis? Keren banget!”
“Semua berkat ini Sha,” sahutku sambil mengeluarkan sebungkus Mister Potato.
“Aaah… Mister Potatoo!!” Aisha memekik senang. Detik berikutnya, berbagai cerita mengalir dari mulut Aisha, sesekali dia tertawa, kemudian termenung ketika menceritakan Kak Adam. Satu kali ia masih mengenang Atma, namun segera mengganti topik pembicaraan.

Siang itu tujuan tur kami adalah kawasan Big Ben di Westminster. Anggota tur dibebaskan menjelajah kawasan itu selama beberapa jam. Aku menggunakan kesempatan itu untuk bertemu Aisha di sebuah kafe tak jauh dari kawasan Big Ben.

“Oh ya, kamu belum cerita nih, ada kabar terbaru apa? Ngomong-ngomong kamu terlihat lebih… lebiiih pendiam sekarang”, Aisha menggeser kursinya semakin rapat ke meja, lalu membetulkan rambut yang menutupi telinganya, wajahnya mendekat ke wajahku.

Aku menarik nafas panjang, “Aisha… aku akan menikah…”
“Oh ya?!? Kok kamu gak pernah cerita sebelumnya?” Aisha membelalakkan matanya.
“Selamat ya Ta… Seneng banget dengernyaaa”, dia menggenggam tanganku sambil mengguncang-guncangkannya antusias.
“…dengan Atma”, dadaku terasa sesak ketika mengatakannya.
“Aisha… Maaf…”, aku melanjutkan kalimatku.

Aisha melonggarkan genggamannya, sedetik kemudian melepaskannya. Suasana berubah canggung seketika.

Mister Potato masih tersisa banyak di kemasannya. Tapi Aisha sama sekali tak berselera menyentuhnya. Setiap detik berjalan sangat lambat.

“Oh ya Ta, ini”, Aisha merogoh tas tangannya, “Aku sengaja menyetaknya untukmu waktu tahu kamu mau kesini… Sebagai penggemar Harry Potter, kamu harus kesana melihat Platform 9 3/4 itu. Tapi jangan sekali-kali menubrukkan badanmu ke temboknya ya, kecuali kamu menerima undangan dari Hogwarts.. hehe”. Aisha tertawa kecil, hampir tak terdengar.

wpid-platform-9-and-3-4-at-kings-cross-station-kings-cross-station-london-london.jpg

“Iya Sha, tempat itu masuk ke itinerary tur kami. Besok kami kesana”

Setengah jam berikutnya, kami lebih banyak diam. Demi Tuhan, sedetik bersamanya dalam kecanggungan seperti ini rasanya memakan waktu seumur hidupku.

Tik… Tok. . . T i k .  .  . T  o  k .  .  .

“Teeenngg”, suara Big Ben terdengar menggelegar, memecah beku diantara kami.

“Sudah saatnya pergi, aku harus menemui Profesorku sore ini”, katanya sambil melirik jam tangan. “Kamu tahu Ta? Selepas menyelesaikan studiku aku berencana bekerja beberapa waktu disini”.
“Jangan lupa.. pulang… ke Indonesia ya…”, aku sedikit terbata.

Kami berpamitan, namun tak sehangat ketika bertemu tadi…

Aku belum beranjak dari tempatku berdiri, menatap punggung Aisha yang bersiap pergi namun juga tak kunjung melangkah. Tiba-tiba dia berbalik, dan melangkah mendekat, “Oh ya Ta… apapun yang membuatmu bahagia, aku bahagia. Aku sudah menemukan hidup baruku disini” dia merangkulku hangat, bersamaan dengan lelehnya cairan hangat dari sudut mataku…
“Aisha, maaf…”. Tak terdengar jawaban apapun dari mulutnya. Hatiku tergores, sakit sekali.
“Bye, Ditta…”, ujarnya sambil melambaikan tangan. Seulas senyum tipisnya nampak samar.

Maafkan aku, Sha!

* Tulisan ini diikutkan dalam Blog Contest Ngemil Eksis Pergi ke Inggris yang diadakan oleh Mister Potato
** Seluruh jalan cerita adalah fiksi

Ketika Ingin Menyerah…

May 20, 2014 § 6 Comments

Ketika  ingin menyerah, maka ingatlah alasan kita memulai.

Kurang lebih, seperti itu lah sepenggal kalimat bijak yang pernah saya baca, entah siapa yang pertama kali mengucapkannya. Yang kemudian selalu saya ingat dan sewaktu-waktu saya panggil dari memori ketika saya merasa ingin berhenti melangkah.  

Satu tahun terakhir ini saya memutuskan jadi ibu rumah tangga penuh waktu di rumah. Bukan keputusan yang mudah, ada banyak yang harus dikorbankan, salah satunya adalah pekerjaan yang mapan di sebuah perusahaan bonafid.  

Pekerjaan baru sebagai ibu rumah tangga pun tidaklah mudah. Saya memulai semuanya dari nol. Tanpa pengalaman. Ditambah lagi kami adalah keluarga perantauan sehingga tidak ada bimbingan langsung dari orangtua yang lebih berpengalaman. Di satu sisi saya mensyukuri kondisi tersebut, karena hal itu menjadikan kami lebih mandiri dan independen dalam mengambil keputusan.  

Kehidupan saya mengalami penyesuaian yang cukup besar. Saya yang biasa berkegiatan di luar rumah harus membiasakan diri tinggal seharian di rumah dan melakukan pekerjaan rumahan. Saya yang termasuk si phlegmatis tanpa gairah dan lamban harus belajar mati-matian agar bisa bekerja tangkas, cekatan, mangkus, dan sangkil. Saya yang biasa memperoleh gaji dari hasil kerja sendiri pun harus pandai-pandai mengontrol keuangan yang kini pemasukannya hanya dari satu sumber. Jujur, untuk yang terakhir, masih pekerjaan besar buat saya.  

Perubahan-perubahan itu tak jarang membuat saya frustasi dan ingin berhenti. Rasanya lebih baik saya bekerja kantoran lalu menggaji asisten dan baby sitter daripada harus jumpalitan seperti ini.  

Namun kemudian, saya ingat kembali kalimat bijak di atas. Bahwa apa yang saya jalani sekarang adalah hasil dari keputusan pribadi, tanpa paksaan dari siapapun, termasuk suami. Lagipula, kembali bekerja bukanlah solusi, karena … Ingat! Salah satu motivasi saya memutuskan keluar dari pekerjaan, selain karena ingin mengurus anak, juga karena saya sudah menyerah menjalani pekerjaan yang bukan passion saya, rutinitas seven to four yang juga bikin stress.  

Ikhlas. Itu kata kuncinya. Yang harus saya lakukan adalah menjalani dengan ikhlas. Dalam pemahaman agama saya, ikhlas itu berarti meniatkan semua pekerjaan hanya untuk mendapat ridha-Nya. Damainya hati yang ikhlas, karena membuat kita fokus pada perbaikan diri, tidak sibuk mengurusi orang lain. Jujur, kadang yang membuat tidak ikhlas adalah terlalu sering melihat orang lain memiliki apa yang tidak kita miliki. Padahal rumput tetangga yang lebih hijau belum tentu lebih enak dimakan. Apa yang baik buat orang lain belum tentu juga baik untuk kita. Maka, ikhlas… #selftalk

image

Tulisan ini diikut sertakan dalam GIVE AWAY TENTANG IKHLAS

Cerita Hape Pertama : Si Langsing Samsung C100

May 19, 2014 § 9 Comments

Ada lah hape pertama saya, Samsung C100 yang pernah saya bangga-banggakan. Sepuluh tahun yang lalu, Nokia masih menjadi merek hape pilihan sejuta umat dengan harga selangit, dan saya boleh berbangga menggenggam merek hape yang tidak umum pada saat itu namun dengan kualitas yang bisa dijagokan.

Kebetulan saya ber-SMA di sekolah berasrama penuh yang melarang KERAS (terpaksa saya capslock) siswanya membawa hape ke asrama. Namun, pada tahun ketiga, satu per satu teman saya pun mulai melanggar. Alasan klisenya… karena sudah kelas 3, banyak yang harus dikomunikasikan dengan orangtua terkait kelulusan, kelanjutan studi, dll, dan memiliki hape menjadi pilihan yang praktis dibanding harus mengantri setiap minggu di warnet.

Dengan alasan yang sama, saya pun membujuk memaksa orangtua membelikan saya hape. Keinginan itu terkabul ketika liburan sehabis Ujian Akhir Nasional (kalau sekarang UN) orangtua mengajak saya ke counter hape bekas di kota kami. Saat itu saya langsung jatuh cinta pada si cantik penuh warna nan slim dan elegan, Samsung C100. Harganya pas satu juta. Cukup mahal untuk hape second. Namun, setara dengan kondisinya yang hampir seperti baru.

Selesai liburan, saya akhirnya nekad juga membawa hape ke asrama karena melihat banyak teman saya pun melakukannya. Saat itu kebanyakan kami berpikir, kami sudah selesai ujian, jadi mungkin akan mendapat toleransi atas ‘kenakalan’ kami melanggar aturan sekolah. Ada juga yang dengan nada bercanda berkata, boleh kok bawa hape asal nggak ketahuan. Hehe.

Sebenarnya, guru penanggung jawab asrama masih memberi sedikiiit sekali kelonggaran dengan membolehkan siswa membawa hape, asal… hanya digunakan pada hari Minggu, di bawah pengawasan. Di sisa hari yang lain, hape harus dititipkan di ruang guru.

Maka, kami yang tetap nekad menyusupkan hape melakukan berbagai cara untuk menyembunyikannya. Terutama sebelum berkegiatan keluar kamar kami menyimpan hape serapi mungkin, karena sewaktu-waktu guru bisa merazia kamar tanpa diduga.

Disinilah seninya, seni menyembunyikan hape. Ada yang disembunyikan di ember penuh cucian. Disembunyikan di dalam sepatu yang kemudian dijemur seolah-olah baru dicuci. Disembunyikan di kantong baju lalu baju digantung di jemuran. Disembunyikan di dalam tas bekas di gudang asrama. Ada juga yang memasukkannya secara paksa ke dalam kasur busa. Saya, termasuk yang bodoh dan tidak berpengalaman, dengan polosnya hanya menyimpannya di tas baju yang dalam satu tarikan retsleting sudah menampakkan dengan terang si hape itu. Ya, jadi hape saya tertangkap pada hari kedua saya menggunakannya. Apes, saya tidak menyangka guru-guru melakukan razia pada hari itu. Lucunya, salah seorang teman yang membiarkan hapenya tergeletak begitu saja di kasur malah aman. Saya meratapi kebodohan keapesan saya. Huhu…

Singkat cerita, saya baru bisa mengambil barang sitaan itu pada hari-hari terakhir sebelum kelulusan. Bertahun-tahun setelah kejadian itu saya masih menggunakannya. Hape itu menemani 4 tahun masa kuliah saya, sampai akhirnya terpaksa harus dimuseumkan pada tahun pertama saya bekerja, karena dia bertahan hidup jika, dan hanya jika, dihubungkan ke sumber listrik.

Saya memensiunkan Samsung C100 pada tahun 2009, setelah pengabdiannya selama 5 tahun. Saya memenuhi janji untuk menggunakannya sampai dia benar-benar tidak bisa digunakan. Pada saat itu, hape-hape tipe baru banyak bermunculan, dan hape pertama saya termasuk hape usang yang bahkan harga second-nya pun tidak sampai 300 ribu rupiah, bahkan kurang.

Sampai saat ini, saya masih bisa ingat bagaimana rasanya menggenggam tubuhnya yang licin dan kokoh, mendengar ringtone khasnya, dan melihat bentuknya dalam bayangan saya, walaupun performa terakhirnya sudah babak belur disana sini.

image

Samsung C100

Saya rindu hape penuh kenangan ituh :)

image

(Sedikit) Tentang Pasuruan  

May 15, 2014 § Leave a comment

Dulu, mendengar nama Pasuruan, yang teringat hanya Mbak Inul Daratista yang memang asli sini. Tentu saja dengan kesan dangdut dan goyang ngebornya. Yang sedikit saya tahu juga bahwa Pasuruan menjadi basis banyak pesantren, seperti halnya banyak kota lain di Jawa Timur. Dangdut dan pesantren… sulit bagi saya untuk menyinkronkan dua hal tersebut dalam otak saya.

Nah, tidak terbayang juga, akhirnya saya justru merasakan hidup di Pasuruan. Tapi, yang saya lihat sehari-hari disini hanya mewakili sebagian kecil Pasuruan, itupun hanya wilayah Kota-nya, dimana kami berdomisili sekarang.  

Sebelum pindah ke kota ini, saya sempat browsing tentang Pasuruan. Lucunya, yang termasuk hal pertama yang saya browsing adalah “mal di Pasuruan”. Sempat girang juga ketika muncul nama Mal Poncol dalam hasil pencarian. Tapi jangan dibayangkan mal ini seperti mal-mal di kota besar ya. Pertama kali meminta mampir kesitu, suami malah kurang merekomendasikan karena katanya hanya ada Giant Supermarket saja. Akhirnya, kemarin saya berkesempatan juga mampir kesitu, berdua saja dengan Akhtar, dan memang suasananya tidak seperti mal, tampak sepi, mungkin karena saat itu jam kerja. Di lantai dasar hanya ada tenant Giant, playground, cafe, toko sepatu, dan tempat cetak foto. Saya tidak naik ke lantai atas karena direpotkan dengan barang belanja dan Akhtar. Terlebih lagi, satu-satunya eskalator disitu pun tidak berfungsi.

Yang unik juga, saya pernah membaca di salah satu blog, si penulis menceritakan para laki-laki (tua-muda) di Pasuruan ini suka bersarung. Dimana-mana terlihat lebih banyak laki-laki bersarung daripada yang tidak. Kalau dibilang LEBIH banyak mungkin berlebihan ya, namun tidak bisa dipungkiri, baru di Kota ini saya melihat banyak sekali laki-laki bersarung kemana-mana dan dalam kegiatan apapun. Naik motor, di stasiun, di pasar, di antrian dokter, bahkan para tukang yang sedang membantu pembangunan rumah di depan rumah kami pun mengenakan sarung sambil mengaduk pasir. Mungkin, fashion sarung ini terpengaruh besar dari kultur pesantren-pesantren di daerah sini.  

Di Kota ini juga (setidaknya yang saya lihat di sekitar rumah saya), sangat mudah menemukan warga keturunan Arab. Kalau dalam pergaulan sehari-hari, khususnya yang saya alami hampir setiap hari di pasar kaget di salah satu jalan kompleks perumahan, wanita keturunan Arab yang sekiranya berumur paruh baya atau sudah punya anak akan disapa Umi, sementara yang lebih muda akan disapa Kakak, sebagai pengganti sapaan Mbak yang lebih Jowo. Herannya, Pak Tukang Roti yang lewat rumah kami setiap pagi pernah menyapa saya dengan sapaan Umi, pada awalnya. Lalu belakangan dia manggil Mbak. Apakah dia baru tersadarkan bahwa saya tidak berwajah Arab?  

Yang saya takjub, Kota Pasuruan ini termasuk kota kecil yang kita tidak akan membayangkan ada rumah besaaaar macam di kawasan Pondok Indah (kalau di Jakarta). Di Kota ini memang tidak ada kawasan seperti itu, namun saya takjub, di beberapa tempat saya melihat tiba-tiba “BLEG!!” (duh, gimana ya kata-kata ekspresinya haha), ada sebuah rumah berukuran sangat besar dan luas di tengah-tengah pemukiman yang biasa-biasa saja, atau di sebuah sisi jalan yang di sekitarnya juga hanya bangunan-bangunan berukuran “normal”. Contohnya saja di dekat rumah kontrakan kami. Dalam memori saya, itu adalah salah satu rumah terbesar dengan halaman luas dan pagar tinggi yang pernah saya lihat sepanjang hidup. Dan ternyata rumah itu juga masih dikelilingi dengan rumah-rumah lain yang masih terhitung satu kompleks dengan rumah besar itu. Dengar cerita dari Ibu Tetangga sih, kompleks rumah itu dimiliki oleh warga keturunan Arab. Rumah besar adalah rumah orangtuanya, sememtara rumah-rumah di sekitarnya milik anak-anaknya. Maka saya simpulkan, rumah-rumah super besar di lokasi lain pun kemungkinan besar milik warga keturunan Arab.  

Yang mungkin menjadi kesulitan saya di Kota ini adalah men-search info secara online, terutama yang berkaitan dengan mencari barang. Berhubung saya jarang sekali keluar rumah, maka barang kebutuhan, terutama perlengkapan dan mainan Akhtar, saya cari secara online. Dan itu tidak semudah ketika saya tinggal di kota seperti Jakarta dsk atau Bandung. Selalu saya tambah ‘di Malang’ atau ‘di Surabaya’ di setiap kata kunci pencarian, dua kota besar paling dekat Pasuruan, untuk mendapat biaya kirim yang minimal. Kalau mau mencari, pasti barang yang saya cari ada juga disini. Tapi, saya biasanya keluar saat weekend bersama suami, dan pada weekend itulah (terutama Minggu) justru kebanyakan toko di kota tutup. Kota Pasuruan malah lebih hidup pada hari kerja.  

Terlebih, kalau tidak dengan suami saya malas keluar rumah karena di kota ini jarang terlihat kendaraan umum (angkot), selain becak. Di jalan raya di luar kompleks perumahan pun baru 2 atau 3 kali saya melihat angkot lewat, padahal perumahan saya termasuk di tengah kota. Kalau ingin jalan-jalan, tidak ada alternatif kendaraan umum yang lebih baik selain becak. Hanya saja, saya kurang paham tarif becak disini, dan saya tidak pernah menanyakan langsung ke Bapak Becak, berapa dari A ke B. Sejauh ini saya tidak pernah ditagih Bapak Becak karena kekurangan bayar.  

Selain hal-hal di atas, yang menarik dari Pasuruan adalah letaknya yang relatif dekat dengan beberapa kawasan wisata, terutama di wilayah kabupaten. Selain ada Taman Safari Prigen, saya baru tahu ternyata disini juga ada Kebun Raya. Selain itu, kota ini tidak jauh dari Kota Batu yang menawarkan lebih banyak tempat wisata untuk keluarga. Mau naik ke Bromo pun tidak jauh. Jika bosan dengan suasana kota yang begitu-begitu saja, jalan-jalan ke Malang atau Surabaya pun tidak terlalu jauh. Malah sejak dinas disini, suami saya jadi sering sekali bolak balik Pasuruan-Malang.

Daan …

Itu saja sedikit ceritanya, sayang ga ada foto-fotonya, satu-satunya foto di atas pun hasil download dari http://www.panoramio.com/photo/8425701

Intinya, saya mau bilang, bersyukur diberi kesempatan melihat kota-kota lain selain Bandung. Berpindah-pindah menjadi kesempatan baik untuk kita mengenal kultur masyarakat setempat lebih dekat, dan di masa datang akan menjadi pengalaman yang tidak habis diceritakan kepada anak-anak.

Tapi teteuup, selanjutnya saya ingin mencoba hidup di Solo atau Yogya… Hahaha… :D

Semoga Allah mengizinkan

Liburan yang Tertunda

May 10, 2014 § Leave a comment

#late post#  

Kenapa ‘tertunda’? Karena jika berjalan sesuai rencana, kami seharusnya pergi liburan pada long weekend tanggal 18-20 April lalu. Saat itu kami berencana berangkat liburan ke Solo dan Yogya, kalau sempat ke Magelang juga, dengan kereta api. Namun, karena tidak memesan tiket jauh-jauh hari, kehabisan tiket lah kami.

Bagaimanapun liburan tetap harus terlaksana (Maksa!!). Menimbang long weekend yang pasti padat dimana-mana maka kami memundurkan liburan ke minggu berikutnya, akhirnya berangkat lah kami pada tanggal 26-27 April 2014 ke Kota Wisata Batu, tepatnya ke Jawa Timur Park 2.

Kenapa Jatim Park 2?
Pertama, karena di Kota Batu, jadi dekat dari Pasuruan.
Kedua, karena Akhtar sudah menunjukkan ketertarikan pada hewan-hewan, khususnya kucing, semut, dan ayam, hehe, yaa karena ketiga hewan itu yang paling sering keliatan di sekitar rumah, maka sekalian saja kami ajak melihat-lihat lebih banyak hewan di Jatim Park 2, yang antara lain terdiri dari Batu Secret Zoo dan Museum Satwa.

Karena tujuan utama kami adalah Batu Secret Zoo (BSZ), maka kami memilih menginap di hotel di kawasan itu. Adalah Pohon Inn yang banyak direkomendasikan di internet. Pohon Inn ini masih satu grup dengan BSZ dan letaknya persis di sebelah pintu masuk BSZ. Kamarnya standar, nyaman dan bersih. Makanan lumayan.   Jangan kaget dengan harga kamar disana pada saat weekend, karena terdengar mahal untuk sebuah kamar standar. Kami menyewa kamar paling murah (tipe superior dengan view Kota) dengan harga Rp 1.099.000, dan sayangnya ngga ada yang single bed. Dengan harga itu kami mendapat 2 welcome drink, 2 dinner, 2 breakfast, 2 tiket masuk BSZ dan Museum Satwa (bisa untuk dua hari, Sabtu dan Minggu, selama gelang tanda masuknya ngga rusak). Pada hari biasa, harga kamar untuk tipe yang sama hanya separuhnya, karena tidak termasuk dinner dan tiket masuk BSZ.  

Setelah kami hitung-hitung, harga segitu masih sangat bisa diterima, mengingat tujuan utama kami adalah BSZ. Dan, ada layanan antar jemput gratis ke Batu Night Spectacular pada malam harinya, yang jaraknya hanya 5 menit berkendara mobil. Lagipula, kami berangkat dari Pasuruan dengan mobil sewaan, yang mana ongkosnya akan lebih mahal kalau si mobil ikutan nginep dibanding hanya antar dan jemput saja. Terlebih, karena Pohon Inn ini terletak di kawasan BSZ, jadi kalau lelah jalan-jalan bisa istirahat sejenak di kamar. Serasa punya kebun binatang di halaman rumah sendiri, hehe.  

Ya, rasanya saya tidak ingin bercerita panjang lebar. Karena berdasarkan hasil googling banyak sekali postingan blog tentang pengalaman wisata di BSZ. Lah terus?? Saya sedikit menambahkan saja tentang kesan kami disana.  

Yang jelas saya merekomendasikan BSZ untuk rekreasi keluarga, terutama jika ingin mengenal hewan sambil bermain. Banyak sekali koleksi hewan dari berbagai benua ditampilkan disini. Banyak yang unik dan ngga pasaran. Sebenarnya berharap nemu ayam disana, si hewan favorit Akhtar, tapi ternyata ngga ada, mungkin karena belum masuk kategori unik dan langka. Haha. Disana pun ada Museum Satwa yang bisa menambah pengetahuan kita tentang hewan-hewan, koleksinya lengkap, tempatnya pun baguuus.

BSZ ini bersahabat banget untuk pengguna stroller dan kursi roda. Menurut saya, stroller ini barang wajib bawa untuk yang punya baby. Sangat membantu dan lebih nyaman buat orangtua. Jadi mami papi bisa anteng jeprat jepret, atau berlama-lama mengamati hewan, sementara baby dicuekin nyaman di stroller.  

Tidak seperti kebanyakan kebun binatang lain di Indonesia yang memang sudah ada sejak zaman saya kecil, dari mulai pintu gerbang masuk, BSZ ini terlihat lebih modern. Lingkungannya bersih, kandang hewannya bersih, toiletnya bersih (penting juga nih), jangan bayangkan sampah yang biasanya berceceran di tempat wisata ramai pengunjung, disana bersih sih sih! Petunjuk rutenya jelas sehingga memungkinkan kita mengitari kebun binatang tanpa melewati satu kandang pun, banyak spot yang bagus untuk foto-foto (ini sih Pak Suami yang girang, ternyata hobi selfie), foodcourt-nya luas, selain melihat hewan juga banyak wahana lain, seperti waterboom dan beberapa permainan seperti di Dufan.  

Oh ya selalu sedia payung sebelum hujan (literally). Karena di hari pertama, pada akhirnya kami tertahan lama di salah satu cafe karena hujan lebat. Tapi untung masih ada area Aquarium yang terletak di ruangan tertutup dekat cafe tersebut. Sebenarnya tidak usah khawatir, walaupun hujan kita tetap bisa menikmati koleksi sebagian hewan-hewannya karena ada beberapa area kandang yang tertutup (indoor). Tapi tetap butuh payung untuk menyeberang dari satu area tertutup ke area tertutup lainnya. Payung ini juga berguna banget ketika matahari sedang terik-teriknya.

Akhir kata… -selesai-

Udah? Gitu aja?? ^_^’

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,611 other followers