‘Sekolah’ Pertama Akhtar

Leave a comment

IMG-20140923-WA0005

Kurang lebih dua bulan terakhir saya bergabung di grup Indonesia Homeschoolers di FB. Homeschooling (HS) sebagai salah satu alternatif pendidikan informal memang menarik minat saya belakangan ini. Saya bergabung di grupnya pun dalam rangka mencari tahu lebih banyak tentang HS dengan belajar langsung dari pengalaman keluarga yang sudah menjalankannya. Terlepas nanti akan dijalankan di keluarga kami atau tidak, menarik sekali bagi saya untuk mempelajari berbagai model pendidikan untuk ditelaah plus dan minusnya sehingga kami dapat menerapkan model terbaik untuk pendidikan anak(-anak) nanti.

Kebetulan seminggu yang lalu, seseorang di grup, yang berdomisili di Bandung, menawarkan rumahnya untuk tempat bermain anak-anak usia s.d 6 tahun, maksimal 10 orang. Saya pun tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Saya tak berekspektasi banyak dari kegiatan ini, karena yang konfirm datang ternyata juga belum punya pengalaman HS, namun kesempatan berkenalan dan silaturahim dengan orang-orang baru lah yang membuat saya ‘memaksakan diri’ datang walaupun tempatnya lumayan sulit dijangkau dari Padalarang apalagi saya hanya berangkat berdua dengan Akhtar menggunakan angkutan umum. Alhamdulillah, karena yang punya rumah adalah juga pengusaha pakaian muslim, kami yang datang pun dihadiahi inner jilbab yang harga jual retailnya tak kurang dari 50 ribu. Silaturahim benar-benar membuka pintu rezeki :)

Intinya kegiatan kemarin isinya adalah perkenalan dan adaptasi anak-anak dengan teman-teman barunya. Sembari mengawasi anak-anak bermain, para ibu pun bertukar pikiran tentang pendidikan anak dan keluarga. Kebetulan sekali ada dua orang anak seusia Akhtar, yang sama-sama lahir bulan Juni 2013. Ya walaupun anak-anak ini hanya asyik sendiri dengan mainan-mainannya tapi Akhtar tampak menikmati kegiatannya.

wpid-img-20140923-wa0012.jpg

Penting! Memeriksa Uang Kembalian

2 Comments

Pada dua kali kunjungan terakhir ke minimarket dekat rumah, saya mengalami dua kali pula kejadian berhubungan dengan uang kembalian.

Kejadian pertama sekitar 1 minggu yang lalu. Waktu itu saya belanja senilai 31.800. Saya menyerahkan uang sebesar 50.000, dan terlambat menyadari uang kembaliannya hanya 18.000, kurang 200 perak. Saya dongkol sekali, bukan karena kekurangan uang yang tidak seberapa itu, namun karena merasa si kasir mencurangi saya dengan semena-mena.

Kejadian kedua, kemarin malam. Saya berbelanja senilai 41.500 lalu menyerahkan uang 100.000, mungkin karena si kasir lagi ga fokus, ia hanya memberi uang kembalian 8.500, kurang 50.000, di struk pun tertulis uang yang masuk ke laci kasir hanya 50.000, bukan 100.000.

Mungkin teman-teman pernah mengalami situasi serupa itu?

Sebelumnya saya termasuk orang yang cuek soal uang kembalian atau apapun yang tercetak di struk belanjaan. Biasanya setelah membayar dan menerima uang kembalian (kalau ada), saya hanya akan memasukkan uang dan struk itu ke dalam saku atau dompet tanpa meneliti satu per satu, apalagi kalau uang kembalian itu berupa recehan ratusan perak.

Paling saya agak ketat soal struk ini kalau belanja agak banyak di supermarket. Saya men-screening struk untuk memastikan semua barang sudah terbayar dan masuk ke kantong belanjaan. Tapi sejauh ini saya belum pernah mengalami kejadian ‘dicurangi’ oleh kasir di supermarket seperti kejadian pertama di atas.

Setelah dua kejadian terakhir ini, saya menyadari pentingnya memeriksa struk belanja dan uang kembalian untuk memastikan kita menunaikan kewajiban kita dan mendapatkan hak kita sebagai pembeli, begitupun sebaliknya dengan penjual. Lagipula, dengan begitu kita pun secara ngga langsung memudahkan pekerjaan si kasir pada akhir shift kerjanya kan? Ketika harus mencocokkan jumlah uang dengan jumlah yang tercatat di sistem, mereka tidak pusing kalau ada selisih kurang, kalau selisih lebih sih mungkin tidak ambil pusing ya hehe…

#halkecilnamunbesar

Angkat Topi, PT KAI!

Leave a comment

Ada kejadian menarik di kereta api ekonomi dari Stasiun Bandung menuju Stasiun Padalarang sore ini. Kereta terakhir menuju Padalarang itu tampak lengang. Biasanya pada jam-jam sibuk, bahkan ibu hamil atau orang tua renta pun tidak kebagian tempat duduk.

Pada saat pemeriksaan tiket, seorang lelaki usia sekitar 30 tahunan yang duduk tak jauh dari saya beralasan, “Kehabisan tiket Pak, tadi naik dari Ciroyom”
“Ah masa kehabisan, keretanya kosong gini, nanti turun di stasiun berikutnya. Masa kehabisan, sih. Tolong nih nanti suruh beli tiket di Stasiun Cimindi”, kata si Bapak Petugas sambil memberi instruksi kepada security.
“Wah… Hebat, tegas”, puji saya dalam hati. Memang ini bukan pertama kalinya saya melihat perubahan besar di PT KAI. Perusahaan negara pimpinan Pak Ignatius Jonan ini berubah pesat dalam kurun kurang dari 5 tahun terakhir.

Lima tahun lalu, saya penumpang setia kereta api Parahyangan jurusan Bandung-Jakarta, tapi pada suatu hari saya kecewa karena kereta terlambat hingga hampir 3 jam. Sejak saat itu rasa-rasanya saya tidak pernah lagi naik kereta dari Bandung ke Jakarta, atau sebaliknya. Namun sesekali saya masih menggunakan kereta api untuk perjalanan rute lain, sehingga merasakan sendiri perubahan apa saja yang terjadi pada pelayanan KAI dalam beberapa tahun terakhir.

Misal, tentang kejadian yang saya ceritakan di atas. Empat tahunan lalu KRD Padalarang-Cicalengka (lewat Stasiun Bandung) PP adalah kereta terkumuh yang pernah saya naiki. Apa sih yang bisa diharapkan dari kereta ekonomi bertarif 1000 rupiah? Pelayanannya waktu itu sangat seadanya. Lantai berdebu, sampah dimana-mana, pedagang asongan datang silih berganti, belum lagi para pengamen dan pengemis dengan berbagai ‘kreativitas’nya. Penumpang yang tidak memiliki tiket pun sangat bebas keluar masuk. Ketika petugas memeriksa tiket, mereka yang tidak punya tiket cukup ‘ngasih tangan’, layaknya kita menolak memberi uang kepada pengemis atau pengamen.

Namun, setelah ditertibkan, stasiun tidak bisa lagi ditembus ‘secara ilegal’. Semua penumpang, tak terkecuali bayi, wajib memiliki tiket. Harga tiketnya hanya naik 500, jadi 1500 sekarang. Pengemis, pengamen, pedagang asongan tidak ada lagi. Bahkan sekarang ada cleaning service yang bertugas di stasiun pemberhentian terakhir. AC sudah terpasang walaupun pada siang hari yang sesak sama sekali tidak terasa dinginnya.

Yang lebih saya salut adalah, perubahan di KAI ini bukan soal merubah suatu perusahaan saja tapi juga merubah pola pikir dan ‘budaya’ masyarakat, para ‘stakeholder’ kereta, tentang bagaimana seharusnya peraturan dipatuhi. Bahwa, masyarakat dari lapisan terbawah pun bisa lebih ‘beradab’ jika peraturan ditegakkan dengan tegas.

Jika saat ini saya masih beberapa kali membaca keluhan tentang kereta api di sosmed, saya kira ada baiknya kita memberi waktu pada KAI untuk melakukan perbaikan sedikit demi sedikit sehingga beberapa tahun kemudian menjadi sarana transportasi yang nyaman untuk semua.

Angkat topi buat Pak Jonan dan PT KAI! Hebat!

Semoga Bapak bisa menyelesaikan tugas di KAI sampai masa jabatan berakhir. Plis atuh lah Pak, di KAI dulu.

Takut Apa?

2 Comments

Tiga hari yang lalu saya mengantar Akhtar ke dokter. Selama di ruang tunggu Akhtar bermain-main dengan seorang anak perempuan berusia 4 tahun yang menurut saya cerdas, tapi menurut ibunya anak ini ‘susah diatur, tidak bisa dilarang’.

Awalnya anak ini terlihat malu-malu, namun tak lama kemudian ia sudah ikut lari-lari di belakang Akhtar. Naik turun tangga, bahkan selonjoran dan guling-guling di lantai. Sementara ibunya hanya memerhatikan dari kursi tunggu, malah tampak kesal.

Setiap hal kecil ia tanyakan, seperti misal ketika kami berada di dekat lift dia menanyakan gambar-gambar yang tertempel di pintu lift,

“Ini kenapa?” tanyanya sambil menunjuk gambar seorang ibu yang berbaring di ranjang.

“Itu ibunya baru punya dedek”, jawab saya sambil menunjuk gambar ranjang bayi di sebelah ranjang si ibu.

“Kalau ini adiknya kenapa?” tanyanya sambil menunjuk gambar seorang anak kecil di ruang rawat.

“Itu adiknya sakit”, jawab saya.

“Sakit apa?”

“Kenapa sakit?”

Lalu ketika pintu lift terbuka, dia penasaran kenapa tiba-tiba ada orang yang keluar dari balik pintu lift itu.

“Orang itu dari mana?” tanyanya, lalu melangkahkan kaki hendak masuk ke dalam lift.

“Jangan masuk Kakak, nanti kebawa naik, Mamanya nanti bingung nyariin”, larang saya sambil menarik tangannya.

“Naik? Kenapa naik? Naik kemana?”

Pokoknya apapun yang saya katakan selalu menimbulkan pertanyaan baru.

Saya yang saat itu sambil mengawasi Akhtar sempat kewalahan dengan pertanyaan-pertanyaannya yang menuntut untuk dijawab.

Saya membayangkan 2 atau 3 tahun dari sekarang pun mungkin Akhtar punya rasa ingin tahu yang sangat besar seperti anak ini, hmm… siapkah saya?

Tak jauh dari lift, ada tangga menuju ke lantai atas, Akhtar mulai naik-naik, pun anak ini mengikuti sambil terus bertanya ini itu, “Adek mau kemana? Adeknya ga mau diem ya? Adeknya nakal ya?”

Ketika saya membawa Akhtar turun, anak ini bertanya, “Kenapa turun?”

“Takut ah naik-naik”, jawab saya sekenanya.

“Takut apa?”

Takut? Oh ya… takut apa ya? Tetiba saya merasa salah menjawab. Saya sempat tertegun beberapa saat hingga menemukan kalimat yang (mungkin) cocok untuk menjawabnya, “Takut nanti Mama-nya nyariin”

“Hmm… nanti kalau dipanggil dokter gak kedengeran kalau Kakak ke atas”, saya berusaha menerangkan dengan alasan lain.

Diam-diam saya mengambil pelajaran, “Mungkin lain kali saya harus lebih berhati-hati menggunakan kata takut untuk anak, kecuali punya alasan yang rasional”, batin saya.

Hal Kecil Namun Besar

Leave a comment

Kemarin saya mengantar Akhtar ke dokter anak di RSIA di Pasteur, Bandung. Dari Pintu Tol Padalarang, kami naik bus Damri dan berhenti tepat di seberang RS.

Dalam perjalanan di bus, saya melihat seorang ibu menyuapi anaknya makan pisang, kemudian dengan santainya membuang kulit pisang itu di bawah kursinya.

Sering melihat kejadian semacam itu? Atau justru pernah melakukannya sendiri? Ya, saya pernah sering melakukannya, sudah lama sekali sejak saya melakukannya terakhir kali.

Bisikan dalam pikiran, “Ah biar saja nanti juga ada yang bersihkan” membuat saya melakukannya dengan santai saat itu, tanpa merasa bersalah sedikit pun.

Di Indonesia situasi seperti itu tidak hanya terjadi di kendaraan umum. Dimanapun di tempat umum sering sekali saya melihat orang melempar sampah seenaknya, bahkan jika itu hanya sebuah bungkus permen atau puntung rokok yang tidak lebih dari 2 cm. Seolah-olah negeri ini adalah sebuah tong sampah raksasa dengan rakyat yang melakukan gerakan buang sampah secara masif dan terstruktur.

“Ah cuma bungkus permen ini”, atau

“Kan ada petugas kebersihan, nanti juga dibersihkan”, atau

“Kalau ngga ada petugas kebersihan, paling nanti dipungut sama pemulung”, atau

“Sekali-sekali gapapa lah”

Bayangkan, jika pikiran seperti itu terlintas di kepala jutaan orang di luar sana, termasuk di kepala kita sendiri, akan berapa banyak sampah yang tercecer?

Dan ketika hujan turun, lalu sungai meluap karena sampah, sebagian dari jutaan orang itu mungkin hanya akan menatap prihatin penderitaan para korban banjir di layar kaca, “Kasihan!”. Sebagian yang lain mungkin hanya akan menggerutu, “Makanya, buang sampah tuh jangan sembarangan dong!”. Sebagian yang lainnya lagi tiba-tiba menjadi kritis, dengan menyalahkan para penebang pohon di hulu sungai, atau para developer yang membangun perumahan di dataran tinggi, atau pemerintah yang memberi izin kepada pihak-pihak itu.

Lalu, kita salah apa? “Ya, ngga salah dong, yang salah kan mereka, mereka, dan mereka.”

Para penebang pohon itu, para developer itu, atau para pembuang sampah sembarangan ke sungai itu mungkin sudah di luar kontrol kita untuk mencegahnya. Tapi setidaknya kita memiliki kemampuan untuk mengontrol diri sendiri agar tidak membuang sampah sembarangan, sekecil apapun itu.

Apa arti secuil sampah kecil untuk mencegah banjir? Ber-husnudzan saja, di luar sana, di kepala jutaan orang di Indonesia juga mungkin terlintas pikiran yang sama untuk mengurangi beban bumi menampung sampah yang tidak pada tempatnya.

Kalau kata Aa Gym mah, mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil, mulai saat ini. Betul tidak teman-teman? #aagymmode:on

Kalau kata Pak Prabowo mah, kalau bukan kita, siapa lagi, kalau bukan sekarang, kapan lagi.

Kalau kata Pak Jokowi mah, revolusi mental euy revolusi mental. :P

— end —

Menikmati Masa yang Akan Dirindukan

Leave a comment

Akhtar tidak punya banyak mainan di rumah, hanya ada satu kardus ukuran sedang berisi mainan, itu pun lebih banyak mainannya waktu masih bayi. Akhirnya ia lebih suka mengeksplorasi seisi rumah dan memainkan apapun yang menarik baginya daripada memainkan mainannya. Saya membiarkannya, selama tidak membahayakan.

Sering kali saya terkagum-kagum dengan ‘kreativitas’-nya bermain, namun di kala lain saya banyak-banyak beristighfar mengurut dada agar sabar mendapati rumah yang berantakan.

Suatu saat ketika bermain dengan Akhtar, saya tiba-tiba teringat sebuah video pendek yang menceritakan seorang ayah dan anaknya.

Diceritakan, mereka berdua sedang duduk di taman. Si anak yang telah dewasa sedang membaca koran, sementara sang ayah yang sudah renta hanya duduk memerhatikan seekor burung gereja.
Lalu si ayah bertanya, “Burung apa itu?”. Anaknya melihat burung itu sekilas lalu menjawab, “Burung gereja”. Tak lama kemudian si ayah kembali bertanya “Burung apa itu?”. Agak kesal si anak menjawab “Burung gereja”. Lalu si ayah mengajukan lagi pertanyaan yang sama berulang kali, pada akhirnya si anak marah dan membentak ayahnya.

Si ayah lalu beranjak pergi, tak lama kemudian kembali membawa sebuah buku dan menyuruh anaknya membaca halaman tertentu.

Di buku itu tertulis cerita si ayah ketika si anak masih kecil. Si anak baru pertama kali melihat burung gereja dan bertanya berulang kali, “Ayah burung apa itu?”. Ayahnya menjawabnya berulang kali dan memeluk anaknya setiap kali mengajukan pertanyaan yang sama itu.

Endingnya mengharukan, rasanya saat itu juga ingin pulang dan memeluk kedua orangtua saya.

Saya pertama kali melihat video itu sebelum punya anak. Kini, setelah punya anak yang mulai aktif bermain saya jadi paham apa yang dikatakan si ayah dalam buku hariannya itu.

Anak seusia Akhtar sangat senang melakukan hal ‘sederhana’ yang sama berulang-ulang. Dan saya pun harus membantunya berulang-ulang. Bisa satu, dua, tiga, bahkan sepuluh kali atau lebih. Satu, dua, tiga kali saya akan memeluknya bangga dan memujinya, “Hebat!”. Pada hitungan berikutnya, saya lebih banyak harus bersabar menunggui Akhtar bermain tanpa mau ditinggalkan.

Contoh kecilnya, Akhtar sangat suka menutup jendela dari dalam rumah, dan saya harus membukanya kembali agar ia bisa menutupnya lagi, lagi dan lagi dan lagi dan lagi. Sederhana kan? Tapi untuk permainan sesederhana itu saya harus menunda pekerjaan lain.

Contoh lain, Akhtar sangat suka menutup laci-laci plastik berulang kali, memutar tombol mesin cuci berulang kali, menutup topless berulang kali, dan banyak hal lain berulang kali. Saya? Mau tak mau harus duduk sabar mendampingi Akhtar sambil mengerjakan hal-hal yang sebaliknya.

Tapi… setiap detik momen itu sangat layak untuk dinikmati. Bertahun-tahun dari sekarang, saat-saat ‘membosankan’ itu akan menjadi saat-saat yang sangat dirindukan, kenangan yang tidak bisa diputar kembali, kecuali melalui video atau foto-foto, itu pun kalau sempat diabadikan. Jangankan bertahun-tahun yang akan datang, sekarang pun saya sering memutar video Akhtar yang masih bayi tanpa bosan, berulang kali.

Jadi, nikmati saja. Memang masanya :)

Pelajaran dari Masa Kecil

Leave a comment

Banyak buku parenting dan psikologi anak beredar di pasaran. Satu atau dua-nya pernah saya baca.

Beberapa bahasan kadang hanya saya baca selewat lalu, sehingga ketika sampai pada halaman terakhir, apa yang sudah dibaca di halaman-halaman sebelumnya seperti menguap begitu saja.

Sebenarnya akan lebih mudah diingat jika kita mengaitkan bahasan di buku tersebut dengan kejadian yang pernah kita alami di masa kecil.

Jika ditelusuri, kita pun sangat mungkin menemukan benang merah antara karakter dan sifat kita saat ini dengan cara orangtua mendidik kita di masa kecil.

Ada beberapa kejadian spesifik di masa lalu yang saya ingat hingga saat ini. Kejadian-kejadian ini saya simpulkan sebagai ‘kesalahan’ komunikasi orang-orang dewasa kepada anak-anak.

Peribahasa “Pengalaman adalah guru yang terbaik” menjadi relevan dikaitkan dengan tulisan ini. Kejadian-kejadian itu menjadi sedikit bekal bagi saya untuk belajar berkomunikasi yang baik dengan anak-anak.

Kejadian 1

Waktu itu mungkin saya masih TK atau SD kelas 1 (lupa…). Mamah tidak shalat karena sedang menstruasi, sementara saya tidak pernah melihat Bapa tidak shalat karena alasan yang sama.
Lalu saya bertanya, “Laki-laki mensnya kapan?”
Sambil lalu Mamah menjawab, “Kalau laki-laki mah mencret.”
Saya menganggap jawaban itu sebagai kebenaran dan menyimpannya dalam memori selama bertahun-tahun.

Benar, anak-anak itu sangat polos. Daripada becanda dengan menyampaikan fakta yang tidak benar lebih baik memberi penjelasan ringan yang bisa dipahami.

Kejadian 2

Waktu itu masih usia SD atau TK (lupa…). Di rumah seorang saudara orang-orang sedang riweuh menyiapkan masakan untuk acara hajatan. Saya dan sepupu-sepupu bermain-main dengan ceria. Karena orang dewasa merasa terganggu, saya yang menaiki sandaran sofa ditegur, “Ngga ah ngga lucu… Ngga lucu…” dengan intonasi yang terdengar pura-pura marah.
Seketika saya terdiam, sakit hati dan ingin menangis.
Seharusnya ada cara lain untuk menegur kan? Saya merasa kata “Ngga lucu… Ngga lucu…” itu lumayan mematahkan kreativitas dalam bermain.

Kejadian 3

Waktu itu seseorang pernah bertanya, “Cita-citanya mau jadi apa?”
Saya jawab, “Guru TK”
Si penanya malah mempertanyakan, tanpa memberi saya kesempatan menjelaskan, “Kok cuma guru TK? Yang lain dong”. Padahal maksud saya adalah saya mengajar di TK yang saya dirikan sendiri. Sejak saat itu saya tidak pernah lagi menyebut guru TK sebagai cita-cita, walaupun dalam hati terbayang-bayang memiliki TK sendiri, dengan banyak mainan disana-sini.

Jadi… jangan mematahkan cita-cita anak. Seringkali anak-anak hanya butuh didengarkan. Akan lebih baik jika si penanya bertanya, “Mengapa ingin jadi guru TK?”. Ya kan?

Kejadian 4

Waktu itu malam hari, listrik di rumah sedang mati. Saya, kakak, adik, dan Mamah berkumpul di ruang tengah sambil bercerita-cerita. Ngobrol-ngobrol-ngobrol, lalu saya berimajinasi pergi ke kota sendirian naik kendaraan umum. Waktu tempuh ke Kota dari tempat tinggal kami waktu itu sekitar 1 jam. Cukup jauh untuk seorang anak kelas 1 SD bepergian sendiri, walaupun hanya dalam imajinasi.
Alih-alih mendukung, Mamah menakut-nakuti tentang tersesat di kota, ngga bisa pulang, lalu menggelandang jadi anak jalanan.
Semalaman itu saya jadi sulit tertidur, bahkan rewel dan menangis karena membayangkan jadi gelandangan.

Seperti anak-anak lain pada umumnya, masa kecil saya pun diwarnai berbagai imajinasi. Kadang orang dewasa lupa pernah jadi anak kecil yang suka berimajinasi juga, sehingga secara tak sadar mematahkan imajinasi anak-anak karena menganggapnya mustahil.

Kejadian 5

Waktu itu mungkin saya masih kelas 3 atau 4 SD, adik saya masih TK.
Sore itu saya mengajak adik ikut ke rumah guru untuk mengerjakan PR.
Kebetulan guru itu punya anak batita. Di ruang depan rumah guru terpajang sebuah wayang. Adik mengubah-ubah suaranya lalu mengajak ngobrol si anak guru dengan memainkan wayang itu.
Adik beberapa kali mengucapkan kata ‘silaing’, dalam bahasa Indonesia artinya ‘kamu’, yang sering dia dengar dari dalang sungguhan jika sedang memainkan wayang. Dan si guru serta merta menegur, “Jangan bicara kasar ya, nanti diikutin sama adiknya”
Adik saya tampak tidak enak hati, lalu tiba-tiba terdiam sampai waktu pulang.
Saya sebagai kakaknya sebenarnya tersinggung, karena saya tahu betul adik saya tidak pernah berkata kasar di rumah. Lagipula dia menggunakan kata yang dianggap kasar itu karena dia sedang bermain peran sebagai wayang.
Saya merasa seharusnya sebagai guru, si ibu guru tersebut punya cara yang lebih baik untuk menegur adik saya.

Kejadian 6

Saya agak lupa kejadiannya saat pelajaran agama di sekolah atau saat mengaji sore di masjid dekat rumah. Yang saya ingat waktu itu guru sedang menjelaskan shalat 5 waktu. Hanya saja saya merasa beliau memilih kata-kata yang tidak tepat dengan mengatakan (kurang lebih) begini, “Kalau belum bisa mengerjakan 5 waktu, kerjakan 3 waktu aja udah bagus”.
Saya menangkap itu sebagai ‘keringanan’, bahwa shalat 3 waktu sudah cukup. Itu pun yang menjadi excuse bagi saya ketika dulu sering belang betong shalatnya.

Apa jadinya kalau sampai sekarang saya nggak dapat pencerahan? Bisa-bisa saya dikira sesat… ckckck…

Kejadian 7

Waktu kelas 1 atau kelas 2 SD saya dan beberapa teman pernah kabur dari kelas karena melihat mobil puskesmas masuk halaman parkir sekolah. Kami takut karena takut disuntik.

Usia sebelum TK, mungkin masih 3 tahun, saya sangat ketakutan setiap pergi ke rumah seorang saudara karena harus melewati komplek tentara yang ada pos jaganya dengan sejumlah tentara berjaga-jaga sambil menenteng senjata.
Saya sembunyi di balik punggung Mamah karena takut ditembak.

dst… dst…

Familiar dengan situasi seperti itu? Sudah saatnya anak sekarang tidak ditakut-takuti dengan sosok dokter, tentara, polisi, hantu, bahkan orang gila.

Kejadian-kejadian lain … hmm … Nanti saya ingat-ingat lagi.

Teringat salah satu renungan di sebuah buku parenting, bahwa anak-anak kita akan hidup pada jaman yang berbeda dengan kita, maka didiklah anak sesuai jamannya. Artinya, cara orangtua mendidik kita dulu belum tentu cocok jika diterapkan pada anak-anak kita sekarang. Maka dari itu, sebagai orangtua mesti terus meng-upgrade diri, dan yang terpenting membekali anak-anak dengan ilmu agama yang sudah terbukti tak lekang oleh pergantian jaman.

Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,619 other followers